Login
or
Register

Pemuda Katolik Siap Mengkritisi Kebijakan Pemerintah Yang Tidak Pro Rakyat

May 15, 2015

Pemuda Katolik Siap Mengkritisi Kebijakan Pemerintah Yang Tidak Pro Rakyat

Sticky
0

si

Jakarta – Suaraindependent.com: 24/11/2014 Dewan Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Menyelenggarakan kegiatan Kursus Kepemimpinan Lanjutan (KKL) dan Seminar Nasional dengan mengusung Tema “Pemuda Katolik Sebagai Oikos Habitus Kader Bangsa dan Gereja; tinjauan historis, konteks reformasi, peluang dan tantangan” di Gedung Juang jln. Menteng raya no 31, Jakarta Pusat, Jumat (21/11/2014).

Ketua Panitia, Fransiskus Alosius Edo meko dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan KKL DPP Pemuda Katolik, dilaksanakan tanggal 21-23 November 2014, dimaksudkan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang dapat menyelesaikan persoalan bangsa.

Sementara itu, Ketua Umum Pemuda Katolik Agustinus Tamo Mbapa (Gustaf) dalam pidatonya, mengungkapkan ada tiga persoalan utama yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, diataranya adalah korupsi, politik transaksional, dan kenaikan harga BBM.

“Persoalan yang paling mengemuka, adalah korupsi karena ini merupakan kejahatan yang menyengsarakan rakyat dan politik transaksional di parlemen dan kabinet segera diakhiri.  Serta penjelasan oleh pemerintah kepada masyarakat terkait kenaikan harga BBM, dan Pemuda Katolik siap menjadi organisasi yang akan mengawal dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat,” ungkap Gustaf.

Kegiatan KKL ini dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Oesman Sapta Odang.

Dalam sambutannya, Oesman sapta odang mengharapkan Pemuda Katolik (PK) harus menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia, sebagaimana diungkapkan oleh seorang uskup katolik Soegija Pranata.

“Prinsip tersebut syarat moral, bisa saja prinsip tersebut dimaknai sebagai 100 persen suku atau agama tertentu, setiap warga Indonesia harus menjadi 100 persen Indonesia,” ujarnya.

Dirinya menambahkan kedepannya, peranan pemuda katolik dibutuhkan dalam mengatasi persoalan bangsa terutama terkait konflik SARA. Salah satu cara dengan mensosialisasikan empat konsensus, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika,

Dalam acara tersebut, selain Oesman Sapta, hadir juga sebagai pembicara politisi partai Gerindra Martin Hutabarat, politisi partai PKB Lukman Eddy, politisi partai PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira, dan Koordinator Formappi Sebastian Salang.

Antonius Mahemba

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*