Surabaya, 13 Mei 2026 — Tepat delapan tahun setelah tragedi bom Surabaya, ratusan warga dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan organisasi berkumpul di GKI Diponegoro, Surabaya, dalam kegiatan bertajuk Solidaritas Surabaya Inklusif. Pertemuan lintas komunitas ini menjadi ruang refleksi publik untuk mengenang para korban sekaligus memperbarui komitmen bersama terhadap nilai persaudaraan dan inklusivitas.
Apa yang Terjadi
Kegiatan ini menampilkan serangkaian ekspresi seni dan kontemplasi — mulai dari pembacaan puisi, musikalisasi puisi, lapak baca, hingga moment of silence — sebagai bentuk penghormatan kolektif yang tidak sekadar seremonial. Setiap sesi dirancang untuk mengajak peserta merenungkan makna kehilangan sekaligus kekuatan yang lahir dari proses bangkit bersama.
Kegiatan ini juga dilengkapi dengan pembacaan Ikrar Pemuda Kota Surabaya dari berbagai latar belakang, Pemuda Katolik, GP Ansor, Fatayat, Peradah, PSMTI, Pemuda aliran kepercayaan, serta seluruh peserta. Ikrar berisi komitmen bersama untuk menciptakan Surabaya yang Inklusif, aman, dan menjunjung tinggi hak hak seluruh masyarakat tanpa melihat latar belakangnya. Ditutup dengan doa lintas iman yang dipimpin oleh para pemuka agama dan kepercayaan yang hadir.

Mengapa Diadakan
Peringatan ini hadir atas keyakinan bahwa ingatan kolektif perlu dirawat agar tidak berubah menjadi kebencian. Panitia menegaskan bahwa tujuannya bukan membuka kembali luka lama, melainkan menjadikan sejarah sebagai cermin moral.
“Kami percaya bahwa luka tidak boleh diwariskan menjadi kebencian. Dari luka itu, justru lahir keberanian untuk saling menjaga dan menguatkan,” ujar Imanuel Erlangga, Ketua Pemuda Katolik Surabaya, mewakili panitia.
Siapa yang Terlibat
Dihadiri oleh ratusan masyarakat Kota Surabaya, kegiatan ini melibatkan komunitas lintas iman, gerakan literasi, organisasi kepemudaan, serta berbagai kelompok masyarakat sipil dari penjuru Surabaya. Keragaman peserta itu sendiri menjadi pernyataan simbolis — bahwa Surabaya adalah rumah bersama yang menolak intoleransi dan politik kebencian dalam segala bentuknya.
Di Mana dan Kapan
Acara berlangsung di GKI Diponegoro, Surabaya, pada 13 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan delapan tahun tragedi bom yang mengguncang kota ini pada 2018.
Bagaimana Dampak yang Diharapkan
Melalui momentum ini, masyarakat Surabaya ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda bahwa perdamaian bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya — ia harus dirawat secara aktif, bersama-sama, dan terus-menerus. Keberagaman dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sumber kekuatan yang memperkaya kehidupan sosial. Iman yang sejati, dalam pandangan kegiatan ini, justru tumbuh bukan dari ketakutan, melainkan dari keberanian merangkul sesama tanpa sekat identitas.
Tentang Kegiatan
Solidaritas Surabaya Inklusif adalah inisiatif kolaboratif lintas komunitas dalam rangka memperingati tragedi bom Surabaya 13 Mei. Melalui seni, literasi, dialog kemanusiaan, ikrar dan doa bersama, kegiatan ini menegaskan komitmen warga Surabaya untuk terus menjaga keberagaman sebagai fondasi kehidupan yang bermartabat.




