Sunday, June 23, 2024

Kader Harus Tahu, Ini Sejarah Bendera Juang Paskokat Pemuda Katolik

Must Read

Pemudakatolik.or.id – Bendera Juang Pemuda Katolik atau lengkapnya Bendera Juang Paskokat (Pasukan Komando Katolik) Pemuda Katolik bukanlah bendera biasa, tetapi memiliki sejarah yang panjang. Bendera ini berwarna Merah mewakili bendera Merah Putih (Patria) dan Salib Kuning mewakili bendera Vatikan (Ecclesia).

Pasukan Komando Katolik (Paskokat) sendiri adalah satuan tugas Pemuda Katolik yang diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. A Djajasepoetra, SJ di Lapangan Banteng Jakarta sebagai antisipasi serangan balik PKI pasca Gerakan 30 September 1965. Dalam upacara singkat peresmian Uskup Agung Jakarta Mgr. A Djajasepoetra, SJ dikawal anggota Paskokat menaiki mobil dari Wisma Keuskupan menuju Lapangan Banteng dalam situasi yang masih genting.

Uskup Agung Jakarta Mgr. A Djajasepoetra, SJ secara resmi melantik Pasukan Komando Katolik (Paskokat) di Lapangan Banteng Jakarta

Peristiwa Yang Mendahului
Dalam suasana revolusioner, dalam situasi kekhawatiran melihat begitu pesatnya perkembangan dan pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) serta organisasi-organisasi underbow-nya, maka kegiatan partai politik dan organisasi massa pada masa itu umumnya dan kegiatan Pemuda Katolik pada khususnya terkuras dan terkonsentrasi untuk menghadapinya.

Aksi Perangko
Himawan Djajaendra, adalah anggota Pengurus Pusat Pemuda Katolik sekaligus Kepala Biro Agitasi dan Propaganda Front Nasional, pada tahun 1964-1965 membuat propaganda diam-diam di Jakarta melakukan “Aksi Perangko”. Himawan dan anggotanya membuat stiker ukuran 4cm x 4cm diberi perekat dan ditempel dimana-mana. Kata-kata yang dicetak diantaranya “PKI NO”, “Ganyang PKI”, “Rakyat Emoh PKI”, “PKI Antek Rusia”.

Aksi Pamflet Menghadang Kruschev
Himawan dan militan Pemuda Katolik juga melakukan aksi Pamflet untuk menghadang kedatangan Perdana Menteri Rusia Kruschev. Mereka membuat pamflet ukuran besar dan dipasang di tembok dan pohon-pohon di Jakarta dan Bandung.

Pengerahan Massa dalam Apel Unjuk Kekuatan
Pada masa revolusioner, pengerahan massa untuk ujuk kekuatan menjadi kegiatan yang sering dilakukan. Dalam setiap apel, Pemuda Katolik mengerahkan massa dari pelajar-pelajar SMA Katolik yang ada di Jakarta. Begitupun juga ketika situasi di Yogyakarta memanas menjelang tahun 1965. Tak kurang dari 15.000 massa Pemuda Katolik yang dikerahkan dari berbagai elemen massa Katolik DIY turun ke jalan mulai dari Tugu Yogyakarta dan berakhir di Alun-alun Utara.

Massa Pemuda Katolik yang didukung SMA St Ursula Jakarta dalam salah satu aksi pawai

Peristiwa G-30-S PKI
Ternyata Ibu Pertiwi yang sedang hamil tua seperti dinyatakan oleh tokoh PKI Anwar Sanusi, melahirkan suatu tragedi berdarah, penculikan perwira tinggi Angkatan Darat.

Lahirnya Front Pancasila, KAMI
Situasi semakin memanas pasca Gerakan 30 September 1965. Sejumlah tokoh dan ormas yang dikenal anti PKI pada tanggal 14 Oktober 1965 membentuk Komando Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu/PKI. KAP kemudian populer disebut Front Pancasila untuk menggambarkan bahwa komando untuk mempertahankan Pancasila. Markas Front adalah sekretariat pusat PMKRI, dengan ketua Front Zubchan ZE dari NU dan Sekretaris Jenderal Harry Tjan Silalahi dari Partai Katolik. Ign. Graito Ketua Pemuda Katolik Komda Jakarta bertindak sebagai asisten Harry Tjan Silalahi.

Tidak lama setelah Front Pancasila, dibentuklah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada 25 Oktober 1965. Anggotanya terdiri dari organisasi kemahasiswaan diantaranya PMKRI, HMI, Mapancas, Somal, IMM, PMII, Semmi, GMKI, Pelmasi, IPMII. Cosmas Batubara dan Sofyan Wanandi dari PMKRI yang sudah terbiasa di lapangan secara dominan banyak memimpin KAMI dalam pembicaraan dengan ABRI dan Bung Karno.

Anggota Paskokat Pemuda Katolik berbaris di depan Gereja Katedral Jakarta membawa Bendera Merah Putih dan Bendera Paskokat

Pembentukan Paskokat (Pasukan Komando Katolik)
Sebagai antisipasi serangan organisasi underbow PKI, semuga gereja di seluruh Keuskupan Agung Jakarta dijaga Pemuda Katolik. Untuk itu secara khusus didirikan satgas Pemuda Katolik Komda Jakarta yang diberi nama Pasukan Komando Katolik (Paskokat). Pada saat pembentukan terdiri dari 150 anggota Paskokat dan dilantik dalam upacara resmi oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. A Djajasepoetra, SJ di Lapangan Banteng.

Theresia Umi Indrawati, Anggota Pemuda Katolik Komda Jakarta membuat/menjahit bendera Paskokat malam hari hingga pagi-pagi karena akan segera digunakan saat pelantikan.

Salib Kuning di Malang
Catatan Disertasi GT Leksana di Universitas Leiden dengan judul “Embedded remembering : memory culture of the 1965 violence in rural East Java” menggambarkan bagaimana pengurus Pemuda Katolik dan PMKRI di Jakarta intens membangun komunikasi di daerah-daerah seiring dengan menguatnya PKI.

Di Malang Jawa Timur, Paskokat Pemuda Katolik juga dikenal dengan nama Salib Kuning (Yellow Cross). Paskokat sangat berpengaruh dalam mengorganisir demonstrasi menuntut pembubaran PKI melalui KAP Gestapu 16 Oktober 1965 di Monumen Pahlawan. Selain menjaga gereja, Paskokat juga ditugaskan mengatur logistik untuk demonstran, membawa ke rumah sakit bagi yang luka-luka. Kepada para aktivis Katolik di Malang, Paskokat menegaskan larangan dari Uskup untuk tidak ikut serta dalam kekerasan dan pembunuhan.

Bendera Juang Paskokat telah melintasi perziarahan Pemuda Katolik melewati tahun-tahun menegangkan selama masa genting tahun 1960an. Kehadirannya tidak sekedar menjadi bagian dari kebutuhan sesaat, tetapi justeru semangatnya sudah mengakar dalam relung jiwa Pemuda Katolik sejak dahulu kala, karena di dalam Bendera Juang Paskokat termeterai inti sari semangat Pro Ecclesia et Patria – Bagi Gereja dan Tanah Air.* (ces)


Referensi:
Djokopranoto, Richardus; Lahur, Rofinus dkk (2010). Memoar Alumni Pemuda Katolik, Rangkaian Pengalaman dan Refleksi (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: OBOR

GT Leksana (1980) “Embedded remembering : memory culture of the 1965 violence in rural East Java”, Universiteit Leiden.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
Latest News

Dukung Satgas Pemberantasan Judol, Ketum Pemuda Katolik: Judi Online Harus Diberantas

Merebaknya judi online dalam kehidupan masyarakat menyebabkan berbagai persoalan sosial yang serius. Dampaknya tidak hanya menggerogoti ekonomi, tetapi juga...
spot_img

More Articles Like This