AGATS, pemudakatolik.or.id – Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Asmat menjadi salah satu narasumber dalam diskusi publik bertema “Masyarakat Adat dalam Bingkai Kebangsaan” yang digelar dalam rangka memperingati Hari Masyarakat Adat Sedunia. Kegiatan berlangsung di Aula Kesbangpol Kabupaten Asmat, Rabu (15/7/2026).
Diskusi tersebut membahas hubungan antara identitas masyarakat adat, peran generasi muda, serta kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam konteks masyarakat adat di Kabupaten Asmat.
Dalam pernyataan pembukanya, Ketua Pemuda Katolik Asmat menyampaikan bahwa dirinya hadir dalam diskusi tersebut untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.
“Saya bukan orang yang ahli dalam membahas secara luas tentang masyarakat adat dan nilai-nilai kebangsaan. Namun, apa yang saya tahu, apa yang saya baca, dan apa yang saya pelajari, itulah yang dapat saya bagikan dalam diskusi ini,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa masyarakat adat memiliki kekayaan budaya, nilai, pengetahuan tradisional, bahasa, serta tata kehidupan yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia. Hal tersebut juga terlihat dalam kehidupan masyarakat adat Asmat yang memiliki beragam rumpun etnis dan kekayaan budaya, termasuk rumah ritual adat yang dikenal dengan sebutan Jee.
Menurutnya, ruang-ruang diskusi mengenai masyarakat adat perlu terus diperkuat, terutama bagi generasi muda. Pemahaman terhadap sejarah, budaya, dan nilai-nilai masyarakat adat dinilai penting agar generasi muda tidak kehilangan identitas di tengah perkembangan zaman.
“Generasi muda perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik mengenai peran masyarakat adat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di Kabupaten Asmat,” katanya.

Ia menilai tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah mempertahankan identitas budaya di tengah pengaruh globalisasi, perubahan sosial, dan perkembangan teknologi. Karena itu, diperlukan kebijaksanaan agar generasi muda tetap mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Dalam konteks Asmat, kearifan lokal yang diwariskan para leluhur dinilai dapat menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Karena itu, generasi muda didorong untuk mengenal, mempelajari, menjaga, serta meneruskan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya.
Selain menjaga kebudayaan, Ketua Pemuda Katolik Asmat juga mendorong generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
“Pemuda harus mampu menjadi agen perubahan yang hadir di tengah masyarakat, mendengarkan aspirasi, membangun dialog, dan ikut mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi,” ujarnya.
Diskusi publik tersebut juga menghadirkan RD. Vikjen Innocentius Rettobjaan, Pr., serta Ketua Lembaga Masyarakat Adat Asmat (LMAA), David Jimanipt, sebagai narasumber.
Kegiatan diselenggarakan oleh Barisan Merah Putih Republik Indonesia Cabang Asmat bekerja sama dengan Komunitas Literasi Anak Lumpur. Forum ini menjadi ruang dialog lintas elemen untuk memperkuat pemahaman mengenai masyarakat adat sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga kebudayaan, persatuan, dan nilai-nilai kebangsaan di Kabupaten Asmat.




