MAJA, pemudakatolik.or.id – Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Lebak berkolaborasi dengan Pengurus Lingkungan St. Matius Maja menggelar Sosialisasi Bank Sampah dengan tema “Peduli Lingkungan: Pengelolaan Sampah dan Gerakan Ekonomi Umat”, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan diawali dengan doa yang dipimpin Ketua Lingkungan St. Matius Maja, Andreas Trio Handoko, dan dilanjutkan dengan diskusi yang dimoderatori Mario Nugroho dari Pemuda Katolik. Turut hadir Ketua Pemuda Katolik Komcab Lebak Fransiskus Kurniandi Tulis serta Chandra Firmanto Widyo Atsuke sebagai pemateri.
Chandra merupakan Direktur Bank Sampah Petra, Ketua Pemuda Katolik Komda Banten periode 2022–2025, sekaligus Ketua Bidang Ekonomi dan Unit Bisnis Pengurus Pusat Pemuda Katolik periode 2021–2024.
Andreas Trio Handoko mengapresiasi kolaborasi antara Pengurus Lingkungan St. Matius Maja dan Pemuda Katolik. Ia berharap sosialisasi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.
“Semoga program ini bisa berjalan. Saya berharap semangat ini tidak berhenti saat ini saja. Ke depan kita harus lebih bersinergi untuk mewujudkan tata kelola sampah yang lebih bertanggung jawab,” ujar Andreas.
Ia juga berharap umat Katolik di Maja dapat menjadi contoh bagi masyarakat sekitar dalam pengelolaan sampah. Menurutnya, gerakan tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi umat.
Andreas menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima tawaran untuk mengadakan kegiatan serupa di lingkungan tempat tinggalnya. Hal tersebut dinilai sebagai peluang untuk memperluas gerakan pengelolaan sampah dan akan ditindaklanjuti bersama Pemuda Katolik.
Ketua Pemuda Katolik Komcab Lebak, Fransiskus Kurniandi Tulis, menyampaikan terima kasih kepada Pengurus Lingkungan St. Matius Maja dan seluruh umat yang mendukung kegiatan tersebut.
“Kami dari Pemuda Katolik adalah anak-anak dari bapak dan ibu semua. Mari kita diskusi bersama. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat,” katanya.

Dalam pemaparannya, Chandra Firmanto Widyo Atsuke menekankan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan konsistensi dan keterlibatan seluruh pihak. Ia membagikan pengalaman mendampingi sejumlah kelompok masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak 2022.
Menurut Chandra, persoalan sampah tidak dapat hanya diserahkan kepada tempat pembuangan akhir (TPA). Sampah yang masih memiliki nilai ekonomis perlu dipilah sejak dari rumah sebelum disetorkan ke bank sampah.
“Kalau kita sudah mengelola sampah sendiri, keluarga dan lingkungan juga akan mengikuti sehingga sampah yang dibuang ke TPA akan jauh berkurang,” jelasnya.
Chandra juga memperkenalkan pengalaman pengelolaan Bank Sampah Petra yang terbuka bagi masyarakat umum dan lintas agama. Menurutnya, gerakan pengelolaan sampah dapat dimulai dari komunitas kecil dan berkembang menjadi kebiasaan yang dapat diterapkan di lingkungan lainnya.
Ia menilai kepedulian terhadap lingkungan juga merupakan bagian dari perwujudan iman dalam kehidupan sehari-hari.
“Mewujudkan iman Katolik bukan sekadar beribadah ke gereja, tetapi melakukan kebaikan-kebaikan di tempat kita tinggal,” ungkap Chandra.
Ia mendorong Pemuda Katolik bersama pengurus lingkungan menjadi penggerak awal gerakan pengelolaan sampah. Menurutnya, perubahan tidak harus dimulai dalam skala besar karena komunitas kecil yang konsisten dapat menjadi contoh bagi komunitas lainnya.
“Mas-mas Pemuda Katolik dan pengurus lingkungan harus menjadi tonggak pertobatan ekologi,” katanya.
Chandra menjelaskan bahwa pemilahan sampah dari sumber menjadi salah satu kunci agar sampah memiliki nilai ekonomi. Masyarakat dapat memulai dari rumah dengan memisahkan botol plastik, plastik belanjaan, kardus, kertas, dan jenis sampah lainnya.
Ia juga menjelaskan bahwa satu benda seperti botol minuman dapat terdiri dari beberapa jenis material dengan nilai berbeda. Tutup botol, badan botol, dan bagian plastik lainnya dapat dipisahkan sehingga proses pengelolaan selanjutnya menjadi lebih efektif.
Beberapa jenis plastik, seperti PET, dapat diolah kembali menjadi berbagai produk, antara lain pakaian, sepatu, dan jaket. Sementara itu, jenis sampah lain seperti barang elektronik juga dapat dikelola sesuai peruntukannya.
Perkembangan teknologi, lanjut Chandra, juga dapat mendukung pengelolaan bank sampah. Sistem digital yang digunakan di lingkungannya memungkinkan masyarakat mengetahui jenis sampah, harga, dan informasi terkait pengelolaan sampah secara lebih praktis.
Ia menekankan prinsip tanggung jawab pribadi melalui ungkapan, “Sampahku adalah tanggung jawabku.”
Prinsip tersebut juga menjadi dasar dalam sistem pengumpulan sampah. Masyarakat diharapkan melakukan pemilahan sejak dari rumah sehingga pengumpul tidak perlu melakukan pemilahan ulang.
Dalam sesi diskusi, salah seorang peserta, Hertina, menyampaikan kesediaannya membantu menjadi pengumpul sampah. Namun, ia menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.
Menanggapi hal tersebut, Chandra menegaskan bahwa pemilahan merupakan tanggung jawab masing-masing warga. Mekanisme pengumpulan selanjutnya dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara Pengurus Lingkungan St. Matius Maja dan Pemuda Katolik.
Peserta lainnya, Siska, yang merupakan pelaku UMKM, menanyakan pemanfaatan kembali plastik serta pilihan bahan yang lebih ramah lingkungan untuk kebutuhan pengemasan produk UMKM.
Chandra menjelaskan bahwa terdapat berbagai pelatihan untuk mengolah sampah plastik menjadi produk yang bermanfaat, termasuk pemanfaatan jenis plastik tertentu untuk menghasilkan produk seperti tikar. Ia juga menjelaskan bahwa plastik berbahan PP merupakan salah satu jenis plastik yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhir kegiatan, Andreas menyampaikan bahwa lokasi awal pengumpulan sampah atau bank sampah Lingkungan St. Matius Maja telah disepakati di salah satu rumah umat.
“Sudah disepakati lokasi pengumpulan sampah ini di rumah Bapak Danu. Nanti setelah pengurus selesai membuat rancangan program, akan diinformasikan kepada umat bagaimana sistem pengumpulannya,” ujar Andreas.
Mekanisme pengumpulan dan teknis pelaksanaan selanjutnya akan diinformasikan kepada umat setelah pengurus menyelesaikan rancangan program.
Kegiatan ditutup pukul 12.00 WIB dengan doa Angelus yang dipimpin Neti.
Pemuda Katolik Komcab Lebak menegaskan komitmennya untuk mendukung tindak lanjut program tersebut. Pemuda Katolik siap menjadi fasilitator dalam proses literasi dan pengembangan bank sampah sesuai dengan keputusan bersama pengurus lingkungan dan umat.
Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi langkah awal membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah dari rumah sekaligus membuka ruang bagi pengembangan ekonomi umat melalui pemanfaatan sampah yang memiliki nilai ekonomis.




