Login
or
Register

Berita Artikel

February 29, 2016

Karolin Lantik Pengurus Pemuda Katolik Komda Bali

DENPASAR – Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, dr. Karolin Margret Natasa melantik Pengurus Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Bali Periode 2016-2019 di Hotel Sens Gianyar Bali, Sabtu (27/2).

Kepengurusan PK Komda Bali yang dipimpin Herman Umbu Billy merupakan hasil dari Muskomda yang digelar, 26-27 Februari 2016. Meski baru regenerasi Pengurus PK Komda Bali namun melaunching Satuan Tugas Tanggap Darurat (STTD) yang nantinya akan menangani bencana di Provinsi Bali.

komda bali 2

Menurut Umbu, ini sesuai dengan semangat awal Kongres Nasional Pemuda Katolik di Batam, Kepulauan Riau, Agustus 2015, dimana Karolin mengajak para kader untuk tidak banyak bicara tetapi harus kerja nyata.

Karolin selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, menyambut baik STTD PK Komda Bali. “Ini bisa menjadi inspirasi bagi yang lain,” ujar Karolin.

pelantikan komda bali

Setelah resmi menjabat sebagai Ketua PK Komda Provinsi  Bali, Herman Umbu Billy melantik dua Ketua PK Komisariat Cabang (Komcab) Denpasar dan Gianyar serta melantik tujuh caretaker yang akan mengurus 7 cabang lain di Provinsi Bali.

Usai Pelantikan, panitia membekali kader dengan menggelar Seminar bertema “Menjadi Pemimpin 100% Katolik 100% Indonesia. Seminar ini menampilkan pembicara yakni Romo Rofinus Neto Wuli, Brigjen Andreas Y Purwoko Bhakti dari Keuskupan Ordinariat Militer Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Romo Rofinus maupun Brigjen Purwoko mengajak kader-kader PK Komda Bali untuk berani berpikir dan berkarya untuk gereja dan negara. “Meski minoritas, kita harus menunjukan kontribusi kita dalam perjalanan bangsa dan negara ini,” ujar Brigjen Purwoko.

Kader PK harus menunjukkan kualitas lebih. Karena itu, perlu tekad, latihan untuk mengembangkan diri sebagai kader PK.

Karolin mengimbau kader PK di cabang-cabang Komda Bali untuk bertindak dan berkarya bagi masyarakat. “Karya seperti STTD harus terus dilakukan, PK tidak boleh sekadar berkonsep,” kata Karolin mengingatkan.

 

sumber : jpnn.com

Sticky
0
February 22, 2016

SDM Jadi Penggerak Utama Pembangunan

Foto bersama usai acara pelantikan Pengurus Pemuda Katolik (PK) Komisariat Daerah (Komda) Provinsi Sumatera Selatan Periode 2016-2019 di Aula Kampus Universitas Katolik Musi Caritas, Palembang, Sabtu (20/2). Tampak diantaranya Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Karolin Margriet Natasa, Uskup Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ; Ketua Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Sumsel M Hidayat, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Yusuf Wibowo, Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang dan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Palembang.

Palembang – Gubernur Sumsel H Alex Noerdin melalui Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Ahmad Yusuf Wibowo menyampaikan kekuatan sumber daya manusia tidak akan pernah habis karena kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) penggerak utama pembangunan. Pemuda jelas punya peran dalam hal ini. Apalagi, saat ini sudah masuk pada area Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) yang secara singkat berisi lima hal diberlakukannya arus bebas antarsesama negara ASEAN yang meliputi arus bebas barang, arus bebas jasa, arus bebas TK terampil, arus bebas modal, dan arus bebas investasi.

“Untuk kelima hal tersebut kita punya kesempatan yang sama. Apakah kita akan menyerbu negara ASEAN lain dengan barang, jasa, tenaga kerja terampil, modal, dan investasi atau sebaliknya justru kita yang akan diserbu. Semua terpulang kepada kita,” kata Yusuf.

Yusuf melanjutkan, ada 1.000 sopir taksi di Filipina sudah belajar bahasa Indonesia, ratusan pebisnis Thailand belajar bahasa Jawa. Artinya, arus bebas pelayanan dan SDM menjadi penting pada era MEA. Menurut Yusuf, Pemuda Katolik sebagai bagian strategis dari pemuda Indonesia diyakini mampu menjawab semua tantangan ini. Indonesia merindukan lahirnya pemuda-pemuda Katolik seperti pada era yang lalu untuk berkiprah dalam pembangunan dan demokrasi di Indonesia.

“Jadi saya yakin kalian semua anak muda hebat yang mau membangun negeri ini khususnya Sumatera Selatan. Akan banyak pekerjaan menunggu Anda. Asian Games 2018, Moto GP 2018, SKO Ragunan dipindahkan ke Palembang dan Sport Science,” tukasnya.

Yusuf juga menyampaikan selamat atas dilantiknya pemuda Katolik Pengurus Komisariat Daerah Sumatera Selatan. Menurutnya, pemuda Indonesia memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan berusia 16-30 tahun. Kepemudaan berkaitan dengan berbagai hal yakni potensi, tanggung jawab, hak, karakter, kapasitas, aktualisasi diri, dan cita-cita pemuda.

Apriadi Susanto Sinaga terpilih menjadi Ketua Komisariat Daerah Sumatera Selatan Periode 2016-2019 dan dilantik oleh Ketua Umum Pemuda Katolik Karolin Margret Natasa. Selain Wibowo, pelantikan ini disaksikan oleh Uskup Agung Palembang Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ, Ketua DPRD Provinsi Sumsel HM Giri N Kiemas, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Sumsel M Hidayat, Ketua Forum Masyarakat Katolik Indonsia (FMKI) Provinsi Sumsel sekaligus Staf Ahli Gubernur Sumsel Yohanes H Toruan, Ketua Dewan Pakar Pemuda Katolik sekaligus Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang, Sekretaris PAN Muda Indonesia, Elias Sumardi Dabur, dan Komisaris PT Adhi Karya Hironimus Hilapok.

“Saya siap membangun sumber daya manusia kader-kader Pemuda Katolik Sumsel sehingga menjadi kader yang berkualitas dan bermartabat sehingga menjadi kader yang bisa bersaing di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Untuk itu, kami juga membangun dialog dan kerja sama dengan pemerintah daerah Sumsel dan organisasi kepemudaan lainnya untuk membentuk kaum muda yang bernilai,” ujar Apriadi saat memberikan sambutan.

sumber : beritasatu.com

Sticky
0
February 21, 2016

Apriadi Susanto Resmi Pimpin Pemuda Katolik Sumsel

PALEMBANG – Apriadi Susanto Sinaga resmi menjabat Ketua Pemuda Katolik (PK) Komisariat Daerah (Komda) Provinsi Sumatera Selatan Periode 2016-2019. Acara pelantikan Pengurus PK Komda Sumsel dipimpin oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Karolin Margriet Natasa di Aula Kampus Universitas Katolik Musi Caritas, Palembang, Sabtu (20/2).

Acara ini disaksikan oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ; Ketua DPRD Provinsi Sumsel HM Giri N Kiemas; Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Sumsel M Hidayat, Gubernur Sumsel diwakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Yusuf Wibowo; Ketua Forum Masyarakat Katolik Indonsia (FMKI) Provinsi Sumsel sekaligus Staf Ahli Gubernur Sumsel, Yohanes H Toruan, Ketua Dewan Pakar Pemuda Katolik sekaligus Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang; Sekretaris PAN Muda Indonesia, Elias Sumardi Dabur, Komisaris PT Adhi Karya, Hironimus Hilapok.

Hadir pula Ketua Presidium Demisioner Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik (PMKRI Lidya Natalia Sartono; Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palembang, Ketua PMKRI Cabang Palembang serta aktivis mahasiswa dari berbagai organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PP Pemuda Katolik, Karolin Margriet Natasa meminta pengurus PK Komda Sumsel untuk segera melakukan konsolidasi baik internal pengurus maupun dengan pihak hirarki Gereja Katolik, ormas pemuda dan mahasiswa di wilayah Provinsi Sumsel termasuk bersinergi dengan unsur pemerintah.

“Lakukan berbagai tindakan nyata untuk memajukan masyarakat, daerah dan bangsa,” tegas Karolin

Acara pelantikan ini diawali dengan Seminar bertajuk “Repositioing Partisipasi Pemuda Kebangsaan Dalam Mempercepat Pembangunan dan Memperkuat Demokrasi di Sumatera Selatan”.

sumber : jpnn.com

Sticky
0
January 25, 2016

Wakil Bupati: Pemda Jamin Toleransi di Aceh Tenggara

Wakil Bupati Aceh Tenggara, Ali Basrah (ketiga kiri) saat hadir dalam seminar Pemuda Katolik yang bertajuk “Kebersamaan dalam Keberagaman” di Balai Diklat BKPP Kutacane, Aceh Tenggara, Sabtu, 23 Januari 2016. (doc komda Aceh)

 

 

 

 Kutacane – Kabupaten Aceh Tenggara merupakan salah satu dari 23 Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh. Kabupaten yang dipimpin oleh H. Hasanuddin Beruh dan Ali Basrah sangat majemuk, terdiri beragam agama, suku, dan ras. Namun, di daerah ini tidak pernah terdengar kerusuhan atau konflik yang berbau SARA. Tentu hal ini patut diapresiasi dan dapat menjadi contoh bagi realisasi toleransi khusus di daerah-daerah yang majemuk.

Wakil Bupati Aceh Tenggara Ali Basrah mengungkapkan salah satu kunci terciptanya toleransi dan kurukunan di tengah masyarakat adalah komitmen pemimpinnya. Menurut Ali, maju-mundurnya, rukun-tidaknya, sejahtera-tidaknya suatu daerah sangat ditentukan oleh pemimpinnya.

“Saya dan Hasanuddin Beruh sudah berkomitmen menjamin toleransi dan kerukunan di Aceh Tenggara. Jangan sampai ada rakyat kami, siapapun dia tidak dilindungi hak-hak dasarnya, misalnya kebebasan untuk beribadah,” ujar Ali di acara seminar Pemuda Katolik yang bertajuk “Kebersamaan dalam Keberagaman” di Balai Diklat BKPP Kutacane, Aceh Tenggara, Sabtu (23/1).

Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum Pemuda Katolik Karolin Margret Natasa, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Medan Elias Semangat Sembiring, OFM, Cap, sejumlah anggota DPRD Faisal (Partai Aceh), Bustami (PDIP), Nazaruddin (PDIP), Roy Tarigan (Demokrat), Syamsiar (Golkar) dan Ketua DPC PDIP Aceh Tenggara Kasiman serta Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh Tenggara Deni Febrian Rosa.

Komitmen Pemda Aceh Tenggara, kata Ali, tidak sebatas wacana dan normatif. Tetapi hal tersebut sudah pada sampai tataran aplikasi, kerja dan karya. Komitmen tersebut sudah terealisasi dalam kebijakan dan program-program Pemda Aceh Tenggara.

“Memang di sini diberlakukan Syarat Islam, tetapi itu hanya berlaku bagi umat muslim sementara yang lain menghargai. Kami di sini (Aceh Tenggara), hidup aman, damai dan tenteram. Malahan dengan Syarat Islam, kami justru hidup damai dan aman,” ujar dia.

Dia mengakui Aceh Tenggara, masyarakatnya sangat majemuk. Dari sekitar 220.000 jumlah penduduk yang tersebar di 385 desa, suku terbesar adalah Alas (47 persen), Tapanuli (27 persen), Gayo (15 persen) serta sisanya suku-suku lain seperti Batak, Karo, Minangkabau, Singkil, Aceh, Batak Mandailing, Jawa, Sunda, Nias, Melayu, dan Tionghoa-Indonesia.

“Begitu juga dengan agama, Islam merupakan agama mayoritas, disusul Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Suku dan agama kami warna-warni, tetapi kami damai. Ibaratnya kami Taman Mini Indonesia di Aceh,” ungkap Ali.

Dia juga memastikan pemda tidak berlaku diskriminasi dengan kelompok manapun. Dia mencontohkan setiap merayakan Idul Fitri, pemda membagikan sirup kepada setiap umat muslim di Aceh Tenggara, siapapun dia, tanpa memperhatikan latar belakangnya.

“Hal yang sama juga berlaku untuk umat Kristen Protestan dan Katolik yang diberikan susu dan gula pada saat umatnya merayakan Natal dan Tahun Baru. Jumlahnya sama persis saat pemda membagikan sirup bagi umat Muslim,” papar dia.

Hal senada, lanjut dia terjadi juga di dunia pendidikan di Aceh Tenggara. Pemda, ungkap akan memberikan dukungan berupa beasiswa kepada siswa SMA ataupun SMP dan SD yang berprestasi, tanpa mempertimbangkan latar belakangnya, suku atau agamanya. Asal dia berprestasi, maka pemda akan mendukungnya. Begitu juga dengan guru, diusahakan setiap sekolah ada guru yang mewakili agama tertentu sehingga siswanya bisa dibina.

“Jangan sampai di sekolah ada pelajaran terkait Islam, lalu siswa non-muslim bebas atau tidak ada kelas. Padahal, mereka juga perlu dibina sesuai dengan agamanya, maka kita dorong ada gurunya,” jelas Ali.

Lebih lanjut, dia mengatakan poin penting menjaga toleransi adalah saling menghargai dan tidak saling mengganggu saat yang lain beribadah. Dasar-dasar bernegara dan berbangsa kita sebagaimana tertera dalam Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI harus dihidupkan dan ditanamkan terus-menerus. Jika ada isu yang berusaha memecah belah, maka segara dipotong.

“Ketika terjadi kasus Tolikara, Papua dan kasus Aceh Singkil, kami segera mengumpulkan kelompok umat beragama dan sama-sama menyatakan menolak tindakan-tindakan seperti itu,” tandas Ali.

Pastor Paroki Lawe Desky, Aceh Tenggara, Pater Charles Lanang Ona, SVD mengakui bahwa pemerintah daerah Aceh Tenggara sungguh hadir melindungi hak-hak kaum minoritas sehingga umat Katolik merasa difasilitasi dan dibantu dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan. Bahkan, pemda, katanya selalu melibatkan Gereja Katolik dalam berbagai kegiatan-kegiatan pemerintahan.

“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada pemda karena telah memberikan izin mendirikan bangun (IMB) untuk sembilan gedung gereja di Aceh Tenggara. Tentunya, kerja sama, komunikasi dan dialog dengan pemerintah daerah terus kita bangun demi Aceh Tenggara yang toleran, damai dan aman,” ungkap Pater Charles.

sumber : beritasatu.com

 

Sticky
0
January 24, 2016

Pemuda Jadi Ujung Tombak Jaga Toleransi

KUTACANE, PK – Pemuda mempunyai peran besar dalam sejarah perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejak Kebangkitan Nasional tahun 1908, Sumpah Pemuda 1928, Kemerdekaan RI 1945 sampai reformasi 1998, pemuda mempunyai peran penting untuk menjaga dan melestarikan eksistensi Negara Kasatuan Republik Indonesia. Bahkan Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno pernah mengatakan “Berikan aku 10 pemuda, maka kuguncangkan dunia.”

komda_acehKetua Umum Pemuda Katolik Karolin Margret Natasa menilai, peran pemuda masih sangat dibutuhkan oleh bangsa ini,  khususnya dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Pemuda, kata Karolin, dapat menjadi ujung tombak menjaga toleransi dan kurukunan dalam masyarakat Indonesia yang beraneka ragam. Apalagi, keberagaman ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menghancurkan bangsa.

Hal ini disampaikan oleh Karolin dalam acara Musyawarah Komisiariat Daerah (Muskomda) Aceh di Balai Diklat BKPP Kutacane, Aceh Tenggara pada Sabtu (23/1). Dalam acara ini hadir, Wakil Bupati Aceh Tenggara Ali Basrah, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Medan Elias Semangat Sembiring, OFM, Cap, sejumlah anggota DPRD Faisal (Partai Aceh), Bustami (PDIP), Nazaruddin (PDIP), Roy Tarigan (Demokrat), Syamsiar (Golkar), dan Ketua DPC PDIP Aceh Tenggara Kasiman, serta Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh Tenggara Deni Febrian Rosa.

“Salah satu tantangan bangsa kita sekarang ini adalah bagaimana meramu keberagaman sehingga menjadi kekuatan bangsa dalam menghadapi berbagai masalah. Saling menghargai, menghormati, dan menjaga toleransi merupakan cara-cara yang dapat digunakan menjaga keberagaman. Dalam konteks ini, pemuda bisa menjadi ujung tombak untuk menjaga toleransi tersebut,” ujar Karolin dalam seminar yang bertajuk Kebersamaan dalam Keberagaman.

Karolin menilai, perbedaan dan keberagaman itu bisa menjadi musibah jika tidak dikelola dengan baik. Apalagi, masyarakat Indonesia sangat majemuk, terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan aliran kepercayaan.

“Berhadapan dengan kenyataan keberagaman ini, tidak lain yang bisa dilakukan adalah membuka diri, membangun dialog, dan komunikasi sehingga bisa memahami dan mengerti satu sama lain, serta menghargai dan menghormati orang yang berbeda dengan kita,” jelas dia.

Karena itu, Karolin mendorong pemuda untuk aktif di kegiatan-kegiatan organisasi kepemudaan. Dalam organisasi tersebut, pemuda, katanya, harus menjalankan kaderisasi yang baik dan kegiatan-kegiatan organisasi yang bisa mengembangkan diri dan membangun komunikasi dengan organisasi kepemudaan lain.

“Di organisasi kepemudaan memang harus ditempa dan dibentuk sehingga menjadi kader-kader yang berkualitas, bernilai, dan berintegritas sehingga mampu membuka diri, berdialog, dan berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda baik dari segi suku, agama, maupun ras. Misalnya, Pemuda Katolik berdialog dan bekerja sama dengan Pemuda Muslin, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, atau aliran kepercayaan lain untuk membangun toleransi dan menjaga keberagaman di masyarakat,” terang dia.

Hal senada diungkapkan juga oleh Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh Tenggara Deni Febrian Rosa. Menurut Deni, pemuda di Aceh Tenggara telah berkomitmen menjaga kebersamaan dan toleransi di masyarakat Aceh Tenggara.

“Kami Pemuda di Aceh Tenggara, menjalankan kegiatan-kegiatan yang bisa mempererat satu sama lain dan menjaga keberagaman, seperti kegiatan seni dan budaya, olahraga, dan forum kebersamaan. Bahkan, saya berinisiatif akan meminta legalisasi Forum Pemuda Lintas Agama untuk menjaga toleransi di Aceh Tenggara,” ungkap Deni.

Dia juga mengharapkan agar pemuda menghilangkan rasa emosional dan egosektoral. Pemuda, katanya, harus lebih membuka diri, aktif di organisasi sosial-kemasyarakatan dan belajar banyak sehingga tidak terlibat dalam narkoba, tindakan kriminal, dan teroris.

Sementera itu, Ketua Demisioner Komda Pemuda Katolik Aceh Kikin Tarigan mengaku merasa terbantu dengan kebersamaan pemuda di Aceh Tenggara serta pemerintah daerah yang menerima keberadaan Pemuda Katolik khususnya dan umat katolik umumnya di Aceh Tengggara.

“Meskipun kami minoritas di Aceh Tenggara, tetapi kerja sama antara pemuda dan pemerintah daerah Aceh Tenggara yang sangat baik, kami merasa dibantu, difasilitasi, bahkan sembilan gereja di Aceh Tenggara sudah mendapat Izin Mendirikan Bangunan semua. Itulah indahnya kebersamaan dalam keberagaman,” tutur Kikin seraya menyampaikan terima kasih kepada Pemda Aceh Tenggara.

Sebagaimana diketahui, Musyawarah Komisariat Daerah (Muskomda) merupakan salah satu kegiatan Pemuda Katolik yang diselenggarakan daerah (setingkat Provinsi) sekali dalam tiga tahun. Muskomda dilakukan untuk mengevaluasi dan menetapkan program-program organisasi di tingkat daerah. Selain itu, kegiatan ini juga dilakukan untuk memberhentikan, memilih, dan menetapkan kepengurusan Komisariat Daerah.

Komda Aceh menyelenggarakan Muskomda di Aceh Tenggara, salah satu kabupaten di Aceh. Daerah yang dipimpin oleh H. Hasanuddin Beruh dan Ali Basrah ini sangat majemuk, namun yang patut diapresiasi dari daerah ini, yakni tidak pernah terdengar kerusuhan yang berbau SARA. Mayoritas penduduknya beragama Muslin, disusul Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Sementara suku bangsa yang hidup di Aceh Tenggara sangat banyak, yakni suku Alas, suku Gayo, suku Batak, suku Karo, suku Minangkabau, suku Singkil, suku Aceh, suku Batak Mandailing, suku Jawa, suku Sunda, suku Nias, suku Melayu, dan suku Tionghoa.

Sumber: BeritaSatu.com

http://www.beritasatu.com/nasional/344104-pemuda-jadi-ujung-tombak-jaga-toleransi.html

Sticky
0
November 10, 2015

Perlu Komitmen Bersama Mewujudkan Budaya Politik Bermartabat

KristiadiJAKARTA – Pengamat Politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi mengajak seluruh komponen bangsa khususnya para pemuda Indonesia untuk berkomitmen mewujudkan politik bermartabat. Hal ini mendesak karena persoalan kehidupan politik dewasa ini mengalami pendangkalan, manipulatif, transaksional serta semakin jauh dari budaya politik yang bermartabat dalam memaknai demokrasi serta hakekat kekuasaan.

“Ranah politik hanya sekadar arena pertarungan kepentingan kekuasaan tanpa ruh dan ideologi serta kepemihakan kepada yang lemah,” kata J Kristiadi saat diskusi dan Orientasi Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2015-2018 di Kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta, Senin (9/11) malam.

Menurut Kristiadi, ranah paling rawan dalam melakukan transformasi politik adalah menata tertib politik yang demokratis. Sebab, kata Kristiadi, pengalaman selama ini, reformasi memang telah membawa berkah sekaligus musibah. Masyarakat mendapat berkah kebebasan, tetapi sebagian masyarakat mempergunakan kebebasan tidak mengindahkan kepentingan orang lain.

Kristiadi menyoroti para elit politik di bangsa ini yang telah mendapat mandat dari rakyat. Namun, dia menyayangkan  reformasi politik masih belum berhasil membentuk sikap dan perilaku elit politik yang mempunyai komitmen mengutamakan kepentingan umum.

“Pesona dan nikmat kekuasaan telah membuat perilaku politik elit semakin jauh dari standar peradaban bangsa,” tegas Kristiadi.

Menurutnya, penyelenggaraan pemerintahan semacam itu jelas lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya bagi masyarakat. kemudaratan telah dimulai dari niat para politisi yakni upaya habis-habisan untuk menjadi bagian dari penguasa yang bergelimang kemewahan.

“Sesat pikir dan niat sudah dimulai sejak mereka membayangkan nikmatnya kekuasaan yang akan direguk. Kekuasaan para pengusaha telah menghilangkan ruh peradaban yang memuliakan politik: Pancasila,” kata Kristiadi.(fri/jpnn)

Sumber: JPNN.com

http://www.jpnn.com/read/2015/11/10/337707/Perlu-Komitmen-Bersama-Mewujudkan-Budaya-Politik-Bermartabat-

Sticky
1
November 09, 2015

Nostalgia dan Harapan Menteri Tjahjo kepada Pemuda Katolik

Tjahjo Kumolo - kopiah

JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, menghadiri acara pelantikan Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2015-2018 di Kampus Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Minggu (8/11) malam.

Mengawali sambutannya, Menteri Tjahjo menyatakan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bisa hadir pada acara Pelantikan Pengurus Pusat Pemuda Katolik yang penuh dengan suasana kedamaian dan kebersamaan. Kehadiran Menteri Tjahjo ini sekaligus nostalgia sejak masih menjadi aktivis.

Sebab, kata Tjahjo, Pemuda Katolik adalah salah satu organisasi yang memberikan dukungan kepadanya saat pencalonan dan terpilih menjadi Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

Menteri Tjahjo, atas nama pemerintah mengucapkan selamat kepada seluruh Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2015-2018 yang dipimpin dr. Karolin Margret Natasa.

Pada kesempatan itu, Menteri Tjahjo menyamapaikan pesan dan harapan kepada Pengurus Pemuda Katolik. Pertama, menurut Tjahjo, perlu memaknai dan menelah secara cermat terhadap setiap perkembangan dan dinamika baik di tingkat global, regional, nasional, mapun lokal.

Hal kedua, menurut Tjahjo, pemerintah mengharapkan kita menanamkan rasa, semangat dan paham kebangsaan serta bangga sebagai warga Negara Indonesia yang majemuk.

“Ketiga, pemerintah mengharapkan dalam memperjuangkan kebutuhan, tuntutan dan kepentingan agar tetap memerhatikan konsensus dasar kebangsaan, norma-nilai, etika dan budaya masyarakat,” tegas Tajhjo.

Keempat, Menteri Tjahjo mengharapkan kepada pengurus untuk tetap terpacu untuk meningkatkan kompetensi diri sehingga memiliki daya saing yang tinggi baik di kancah nasional dan internasional.

“Kelima, harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk mengabdikan diri dan melayani kepada masyarakat dan terakhir Pemuda Katolik sebagai kader bangsa diharapkan terus melanjutkan estafet kehidupan bernegara dan berbangsa, sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap berjaya di masa-masa akan datang,” kata mantan Sekjen DPP PDI Perjuangan ini.

Pada bagian lain, Menteri Tjahjo menyampaikan pesan dan harapan kepada Pengurus Pusat Pemuda Katolik termasuk pesan dan harapannya terkait tema acara pelantikan yakni “Membangun Organisasi Yang Kuat, Melahirkan Pemimpin Yang Melayani.”

Menurut Tjahjo, tugas Pengurus organisasi, tidak hanya mengurus konsolidasi organisasi, tetapi bagaimana menggerakkan dan mengorganisir masyarakat. “Tugas pengurus ini semata-mata tidak untuk organisasi tetapi juga menjaga Gereja dan Negara,” tegas Menteri Tjahjo.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2015-2018, dr. Karolin Margret Natasa saat Pidato Pelantikan mengatakan kader Pemuda Katolik harus mengambil peran sentral dalam mewujudkan Pilkada bersih, adil dan demokratis. Hal ini penting agar Pilkada tidak hanya sekadar regenerasi kekuasaan, tetapi momentum untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, demokratis, berkeadilan, dan membawa kemakmuran bagi rakyat.

“Pemuda Katolik perlu menyadari panggilannya sebagai ‘garam dan terang dunia’, garam dan terang untuk memperbaharui tata kelola pemerintahan daerah,” katanya.

Pada bagian awal pidatonya, Karolin mengungkapkan bahwa kelahiran Pemuda Katolik 70 tahun lalu pada tanggal 15 November 2015, tidak terlepas dari sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pemuda Katolik lahir dari rahim ibu pertiwi untuk turut memperjuangkan nasib dan masa depan bangsa dan negara Indonesia.

“Kesadaran akan identitas dan panggilan tersebut yang senantiasa menjadi sumber semangat dan inspirasi bagi kami, generasi Pemuda Katolik saat ini, untuk terus berjuang membela dan mewujudkan kedaulatan rakyat,” tegas Karolin.

Sebagaimana di masa lalu, kata Karolin, keterlibatan kader-kader Pemuda Katolik dalam bidang politik juga terjadi pada masa kini. Politik, menurut Karolin, panggilan yang bersifat mulia untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan dan kemakmuran bagi masyarakat, bangsa dan negara.

“Melalui bidang politik, kita bisa turut merumuskan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat,” tegas Karolin.

Karena itu, Karolin menegaskan keterlibatan kader-kader Pemuda Katolik tidaklah berorientasi kekuasaan semata, melainkan bagaimana agar politik senantiasa berlandaskan kasih, membawa terang iman, kebenaran dan keadilan.

“Politik kita adalah menjadi garam dan terang bagi sesama,” kata Karolin yang juga anggota Fraksi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Kalimantan Barat ini.

Acara pelantikan Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2015-2018, diawali dengan perayaan misa dipimpin Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF didampingi beberapa Romo diantaranya Romo Prapto (Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI).

Tampak hadir sejumlah tokoh baik unsur pemerintah maupun senior/alumni Pemuda Katolik dan tokoh Katolik, diantaranya Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Fransiskus Sibarani yang juga Ketua Dewan Pembina Pemuda Katolik; Pengamat Politik CSIS J Kristiadi, Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang, anggota Fraksi PDIP DPR RI Masinton Pasaribu, Anggota Dewan Pakar Pemuda Katolik Susanto, Paulus Yanuar (Senior), dan tiga mantan Ketua Umum Pemuda Katolik yakni Suryo Susilo, Nicolaus Uskono, dan Agustinus Tamo Mbapa. Selain itu, Bambang Ismawan (Tokoh Katolik/Pimpinan Yayasan Bina Swadaya), Pelaksana Tugas Bupati Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Wilem Foni.

Hadir pula perwakilan organisasi mahasiswa dan kepemudaan seperti Ketua Presidiun Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Lidya Natalia Sartono; perwakilan PP GAMKI, KNPI dan perwakilan Komisariat Daerah (Komda) dan Komisariat Cabang (Komcad) Pemuda Katolik dari seluruh Indonesia serta Orang Muda Katolik (OMK) dari wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.(fri/jpnn)

Sumber: JPNN.com

http://www.jpnn.com/read/2015/11/09/337458/Nostalgia-dan-Harapan-Menteri-Tjahjo-kepada-Pemuda-Katolik-

Sticky
0
November 09, 2015

Pemuda Katolik Komitmen Wujudkan Pilkada Bersih

Karol_foto_batam_1080_editJAKARTA – Kader Pemuda Katolik harus mengambil peran sentral dalam mewujudkan Pilkada bersih, adil dan demokratis. Hal ini penting agar Pilkada tidak hanya sekadar regenerasi kekuasaan, tetapi momentum untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, demokratis, berkeadilan, dan membawa kemakmuran bagi rakyat.

Hal itu ditegaskan Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2015-2018, dr. Karolin Margret Natasa saat Pidato Pelantikan di Kampus Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Minggu (8/11) malam.

“Pemuda Katolik perlu menyadari panggilannya sebagai ‘garam dan terang dunia’, garam dan terang untuk memperbaharui tata kelola pemerintahan daerah,” katanya.

Pada bagian awal pidatonya, Karolin mengungkapkan bahwa kelahiran Pemuda Katolik 70 tahun lalu pada tanggal 15 November 2015, tidak terlepas dari sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pemuda Katolik lahir dari rahim ibu pertiwi untuk turut memperjuangkan nasib dan masa depan bangsa dan negara Indonesia.

“Kesadaran akan identitas dan panggilan tersebut yang senantiasa menjadi sumber semangat dan inspirasi bagi kami, generasi Pemuda Katolik saat ini, untuk terus berjuang membela dan mewujudkan kedaulatan rakyat,” tegas Karolin.

Sebagaimana di masa lalu, kata Karolin, keterlibatan kader-kader Pemuda Katolik dalam bidang politik juga terjadi pada masa kini. Politik, menurut Karolin, adalah panggilan yang bersifat mulia untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan dan kemakmuran bagi masyarakat, bangsa dan negara.

“Melalui bidang politik, kita bisa turut merumuskan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat,” tegas Karolin.

Karena itu, Karolin menegaskan keterlibatan kader-kader Pemuda Katolik tidaklah berorientasi kekuasaan semata, melainkan bagaimana agar politik senantiasa berlandaskan kasih, membawa terang iman, kebenaran dan keadilan.

“Politik kita adalah menjadi garam dan terang bagi sesama,” kata Karolin yang juga anggota Fraksi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Kalimantan Barat ini.

Acara pelantikan Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2015-2018, diawali dengan perayaan misa dipimpin Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF didampingi beberapa Romo diantaranya Romo Prapto (Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI).

Tampak hadir sejumlah tokoh baik unsur pemerintah maupun senior/alumni Pemuda Katolik dan tokoh Katolik, diantaranya Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Fransiskus Sibarani yang juga Ketua Dewan Pembina Pemuda Katolik; Pengamat Politik CSIS J Kristiadi, Ketua Dewan Pakar Pemuda Katolik sekaligus Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang, anggota Fraksi PDIP DPR RI Masinton Pasaribu, Anggota Dewan Pakar Pemuda Katolik Susanto, Paulus Yanuar (Senior), Krisantono (Tokoh), dan tiga mantan Ketua Umum Pemuda Katolik yakni Suryo Susilo, Nicolaus Uskono, dan Agustinus Tamo Mbapa. Hadir pula Bambang Ismawan (Tokoh Katolik/Pimpinan Yayasan Bina Swadaya), dan Pelaksana Tugas Bupati Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Wilem Foni.

Hadir pula perwakilan organisasi mahasiswa dan kepemudaan seperti Ketua Presidiun Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Lidya Natalia Sartono; perwakilan PP GAMKI, KNPI dan perwakilan Komisariat Daerah (Komda) dan Komisariat Cabang (Komcad) Pemuda Katolik dari seluruh Indonesia serta Orang Muda Katolik (OMK) dari wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.(fri/jpnn)

Sumber: JPNN.com

http://www.jpnn.com/read/2015/11/08/337426/Pemuda-Katolik-Komitmen-Wujudkan-Pilkada-Bersih-

Sticky
0
August 30, 2015

Terpilih Jadi Ketum Pemuda Katolik, Ini Program Utama Karolin Margret Natasa

Karol_foto_batam_0653Batam – Karolin Margret Natasa telah terpilih menjadi Ketua Umum Pemuda Katolik Periode 2015-2018. Karolin terpilih dalam Kongres Nasional XVI Pemuda Katolik (PK) di Pacific Palace, Batam, Kepulauan Riau, pada Minggu (23/8) pagi. Setelah terpilih, Karolin pun mengungkapkan 5 program utamanya dalam periode kepemimpinannya.

“Selain tugas dan fungsi Pengurus Pusat Pemuda Katolik melaksanakan hasil-hasil Kongres dan berbagai keputusan organisasi sebelumnya yang masih relevan, saya juga akan fokus pada lima program utama yang dapat menjawab kebutuhan dan aspirasi Anggota PK,” ujar Karolin saat ditemui di Pacific Palace Hotel, Batam, Kepri, Minggu (23/8).

Program pertama, katanya pendampingan kaderisasi Pemuda Katolik (PK) khususnya di tingkat Komisariat Cabang (Komcab). Menurut Karolin, Pemuda Katolik perlu membentuk Lembaga Pendampingan Kaderisasi yang secara khusus diberi tugas untuk mendampingi Komcab di seluruh Indonesia dalam melaksanakan perekrutan anggota dan menyiapkan calon pengurus Komcab.

“Program kedua saya adalah mendirikan lembaga Beasiswa PK dengan tujuan mencari informasi beasiswa studi untuk didistribusikan kepada kader-kader PK, menjalin kerja sama dengan lembaga penyelenggara beasiswa studi, mempromosikan kader-kader PK berprestasi jadi kandidat penerima beasiswa dan memberikan kepada kader PK berprestasi yang sedang menempuh S2 dan S3,” papar Karolin.

Program ketiga, lanjutnya mengembangkan kewirausahaan dan koperasi bagi kader-kader Pemuda Katolik. Untuk mewujudkan hal ini, kata Karolin, PK akan menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan dan koperasi dan menfasilitasi wirausaha muda untuk mendapat dukungan modal, baik dari pemerintah maupun kerja sama dengan lembaga swasta.

“Program keempat adalah mendorong kader PK untuk menguasai pemanfaatan teknologi informasi khususnya yang terkait pengelolahan informasi,” jelas anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan ini.

Terakhir, tambah Karolin, Pemuda Katolik akan mendirikan Lembaga Pengkajian Kebijakan Publik. Lembaga ini, menurutnya akan bertugas melakukan kajian dan memberikan sumbangan pemikiran atas berbagai kebijakan pemerintah pusat dan daerah.

“Lembaga ini juga akan mendorong dan menfasilitasi kegiatan diskusi rutin di tingkat Komda dan Komcab,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Karoline menang mutlak dalam pemilihan Ketum Pemuda Katolik, dengan mengalahkan dua kandidat lainnya, yakni Komisaris Adhy Karya Hironimus Hilapok dan Anggota DPD RI Mervin Sadipun Komber.

Karolin meraih suara sebanyak 215 dari 273 suara sah. Sementara Hironimus hanya meraih 52 suara dan Mervin 6 suara. Tidak ada ada suara abstain dan rusak.

“Dengan meraih 215 suara dari 273 suara, maka Karolin Margret Natasa dinyatakan sebagai Ketua Umum Pemuda Katolik periode 2015-2018 secara sah,” ungkap Pimpinan Sidang Pleno Kongres XVI Pemuda Katolik Kikin Tarigan sambil mengetuk palu.

Sumber: BeritaSatu.com

http://www.beritasatu.com/nasional/301294-terpilih-jadi-ketum-pemuda-katolik-ini-program-utama-karolin-margret-natasa.html

Sticky
0
August 23, 2015

Karolin Menjadi Perempuan Pertama Pimpin Pemuda Katolik

Sekjen PP PK = dr. Karolin Margret NatasaKetum PP PK - Agustinus Tamo Mbapa, S.Sos, M.SiBatam-PK, Salah satu Ketetapan Kongres XVI Pemuda Katolik di Batam, yang berlangsung tanggal 21-23 Agustus 2015 di Hotel Pacific Palace, Kota Batam, Propinsi Kepulauan Riau adalah terpilihnya dr. Karolin Margret Natasa sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2015-2018. Karolin menggantikan Agustinus Tamo Mbapa, S.Sos, M.Si (Gustaf) yang menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2012-2015.

Terpilihnya Karolin, Minggu (23/8/2015) pagi, pada Sidang Pleno Kongres Nasional XVI Pemuda Katolik dengan agenda Pemilihan Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2015-2018 juga telah mencatat sejarah yang revolusioner bagi Pemuda Katolik. Karolin merupakan perempuan pertama yang memimpin Pemuda Katolik sejak berdiri 70 tahun lalu, tepatnya 15 Nopember 2015.

Karolin Margret Natasa yang kini menjadi anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan daerah pemilihan Kalimantan Barat ini ditetapkan sebagai Ketua Umum Pemuda Katolik Periode 2015-2018, setelah menyisihkan dua kandidat lainnya yakni Hironimus Hilapok (Komisaris PT Adhi Karya) dan Mervin Sadipun Komber (Senator asal Propinsi Papua Barat).

Karolin meraih suara terbanyak yakni 215 suara dari 273 suara sah. Sementara Hironimus hanya meraih 52 suara dan Mervin 6 suara.

Dengan meraih 215 suara dari 273 suara, maka Karolin Margret Natasa dinyatakan sebagai Ketua Umum Pemuda Katolik periode 2015-2018  secara sah,” ungkap Pimpinan Sidang Pleno Kongres XVI Pemuda Katolik sambil mengetuk.

Sebagai Ketum terpilih, Karolin bersama tim formatur dimandatkan agar segera membentuk kepengurusan Pemuda Katolik periode 2015-2018 untuk menjalankan program dan rekomendasi yang telah diputuskan Kongres serta menjalankan roda organisasi.

Dalam pemaparan visinya, peraih suara terbanyak dalam pemilu legislatif tahun 2014 ini ingin membawa Pemuda Katolik menjadi sarana untuk mewujudkan kegembiraan dan harapan kaum muda Katolik Indonesia.

Visi ini, kata Karolin diaktualisasikan dalam tiga misi utama, yakni memberdayakan Komisariat Cabang dan Komisariat Daerah sebagai basis dan ujung tombak organisasi PK, merevitalisasi proses perekrutan anggota dan kaderisasi di tingkat Komisariat Cabang dan Komisariat Daerah.

“Serta menggali dan mengembangkan potensi kader-kader Pemuda Katolik agar dapat berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara,” kata Karolin.

Kongres Pemuda Katolik berlangsung dari tanggal 21 sampai 23 Agustus 2015 di Pacific Palace, Batam. Kongres ini dibuka oleh Ketua MPR Zulfikli Hasan dan dihadiri oleh seluruh kader Pemuda Katolik dari seluruh Indonesia serta sejumlah tokoh tingkat nasional maupun dan Propinsi Kepulauan Riau, diantaranya Dr. Cosmas Batubara (mantan menteri era Presiden Soeharto), dan John Kennedy (Tokoh Masyarakat Kepulauan Riau).

Tokoh lain yang hadir sebagai pembicara Seminar Nasional yang digelar dalam rangkaian acara Kongres Pemuda Katolik adalah Parlindungan Purba (Senator asal Sumatera Utara dan Mervin Sadipun Komber (Senator asal Papua Barat). Kedua senator ini mewakili Ketua DPD RI Irman Gusman. Selain itu, hadir pula Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Drs. Eusabius Binsasi, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, E. Herman Khaeron, Bupati Lamandau Propinsi Kalimantan Tengah, Ir. Marukan, M.A.P, Ketua Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Pangkal Pinang dan Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan politisi Partai Nasdem.

Pada Kongres XVI Pemuda Katolik tahun 2015 ini juga menetapkan Kebijakan dan Program Umum Pemuda Katolik 2015-2018 dan Ketetapan tentang Rekomendasi Kongres XVI Pemuda Katolik.

Adapun Rekomendasi Kongres XV Pemuda Katolik tahun 2015 adalah menetapkan Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai tuan rumah Kongres Nasional XVII tahun 2018; Propinsi Kaliman Tengah (Kalteng) sebagai tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pemuda Katolik serta Solo, Propinsi Jawa Tengah dan Denpasar, Propinsi Bali masing-masing sebagai tuan rumah Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pemuda Katolik.

Pada Ketetapan Kongres XVI Pemuda Katolik 2015 juga menyoroti sejumlah persoalan politik, hukum, ekonomi, sosial dan budaya.***(Friederich Batari)

Sticky
2