Login
or
Register

Komda

November 06, 2016

Muskomcab Kota Bandar Lampung Sukses Terlaksana.

img-20161106-wa0019

Peserta Muskomcab Kota Bandar Lampung bersama dengan Anang Prihantoro (Senator asal Lampung) dok.pribadi

LAMPUNG – Musyawarah Komisariat Cabang Kota Bandar Lampung yang merupakan forum tertinggi ditingkat cabang resmi  digelar. Minggu (06/10) bertempat di Wisma Albertus Keuskupan Tanjung Karang Muskomcab Bandar Lampung dihadiri oleh 52 peserta dari setiap kecamatan yang ada di Bandar Lampung. Di Forum tertinggi ini pula memilih secara musyawarah Sdr. Laurensius Wendi sebagai Ketua Komcab yang baru menggantikan Sdr. Suryo Cahyono, SH. Dalam sambutannya ketua Komcab terpilih mengatakan akan tetap melanjutkan proses regenerasi dengan membangun seluruh stakeholder di Bandar Lampung, selanjutnya romo Roy Suroyo yang merupakan pastor moderator menyampaikan pentingnya membangun kesadaran kaum muda Katolik untuk menempa diri dalam organisasi kemasyarakatan. Sementara itu Marcus Budi Santoso selaku Ketua Komda Lampung menyapaikan proses Muskomcab ini menjadi momentum penting dalam tahapan episode Pemuda Katolik Bandar Lampung selanjutnya, beliau juga menekankan pentingnya penguatan organisasi sehingga proses dan fungsi organisatoris semakin nyata di masyarakat yang plural ini. Senada dengan itu, Anang Prihantoro yang merupakan Senator asal Lampung menyatakan agar Pemuda Katolik terus membangun komunikasi dengan lintas pemuda dari organisasi lain sehingga penguatan kebangsaan terus terjaga. selain itu, hadir juga Ketua Komcab Pringsewu  Sdr. Didik beserta jajarannya. (Ast)

Sticky
0
August 31, 2016

Sukses Terlaksana, Mapenta dan Muskomda Lampung 2016.

IMG-20160827-WA0009

Para Peserta Muskomda beserta undangan (dok.PK)

Bandar Lampung – Pemuda Katolik terus berbenah di usia 71 tahun ini semakin memperkokoh organisasinya di tiap-tiap daerah. Kini giliran Komda Lampung sabtu (27/8) melaksanakan forum tertinggi di tingkat provinsi yaitu Musyawarah Komisariat Daerah (Muskomda) bertempat di Wisma Albertus – Bandar Lampung. Muskomda ini pun di hadiri oleh perwakilan 8 Komcab dari 12 Komcab defenitif di Komda Lampung serta perwakilan PP Pemuda Katolik yaitu Stefanus Asat Gusma (Kabid. Pembinaan Organisasi & Keanggotaan), Kikin Tarigan (Ketua LPK), dan Igt. Ganjar Tri Hartanto (Sek. LPK/ Wasek. Bid. Kaderisasi) selain itu juga hadir Romo Philipus Roy Suryo (Koor. Kerawan Keuskupan), tokoh katolik di Banda Lampung T. Purnomo, Frans Wahyudi, Darmidi, dan Ir. Anang Prihantoro yang juga merupakan Senator asal Lampung turut hadir dan sekaligus membuka dengan resmi Mapenta dan Muskomda Pemuda Katolik Komda Lampung.

Dalam sambutannya Anggota DPD RI asal Lampung tersebut berpesan bahwa Indonesia 2020 adalah pijakan menuju Indonesia emas 2045 maka dari itu Pemuda katolik khususnya Komda Lampung agar ikut berkontribusi terhadap cita-cita tersebut tentunya dengan pendidikan dan kaderisasi yang matang di Pemuda Katolik, Pemuda Katolik juga harus mengawal pembangunan desa dan harus menjadi pelaku utam dalam masyarat. “KITA Jangan Pernah Bangga Jadi Penonton” ungkapnya sembari tepuk tangan dari peserta Muskomda.

Mapenta sendiri dihadiri oleh 37 orang dari beberapa Komcab se-Lampung dengan materi-materi dasar organisasi tentang AD/ART serta penjelasan tentang sejarah Pemuda Katolik dari Ketua dan Sekretaris LPK (Lembaga Pendapingan Kaderisasi).

Muskomda tersebut juga memilih Saudara Marcus Budi Santoso sebagai Ketua Komda Lampung Periode 2016-2019. Marcus yang juga merupakan mantan Presidium PMKRI Cab. Lamoung 2001-2003 mengungkapkan bahwa momen Muskomda ini menjadi pijakan dan sadar yang kuat untuk menentukan langkah penting organisasi untuk tiga tahun kedepan bukan itu saja bahwa kesempatan ini kita pergunakan sebaik-baiknya menuju visi yang luhur bersama didalam kembali bangkit dan berkiprah ditengah masyarakat, pembenahan internal melalui pendidikan berjenjang secara berkesinambungan merupakan fokus utama kita, serta membangun jejaring komunikasi dengan lintas eksekutif, Legislatif, OKP, & stakeholders yang ada di Lampung.

Sementara itu Kabid. Pembinaan Organisasi & Keanggotaan PP Pemuda Katolik Sdr. Stefanus Asat Gusma mengatakan bahwa saat ini Pemuda Katolik sedang menjalankan konsolidasi besar-besaran dan kita berharap sebelum Kongres di NTT 2018 panji-panji Pemuda Katolik dapat berkibar di 34 provinsi se-Indonesia, “dibutuhkan komitmen dan kerelaan untuk membangun dan berhimpun dalam sosial kemesyarakatan”, Pungkasnya.(ast/pk)

Sticky
0
August 31, 2016

Marcus Budi Nahkodai Pemuda Katolik Bandar Lampung

IMG-20160827-WA0009

Peserta Mapenta dan Muskomda Pemuda Katolik Komda Lampung (dok.Pribadi)

BANDAR LAMPUNG – Marcus Budi resmi dipilih sebagai Ketua Pemuda Katolik (PK) Bandar Lampung dalam Musyawarah Komisariat Daerah (Muskomda) yang digelar di Wisma Albertus Bandar Lampung, Sabtu (27/8).

Selasa (30/8) Marcus mengatakan, momen pemilihan ketua umum Pemuda Katolik kali ini berjalan atas dasar prinsip demokratis tanpa ditunggangi kepentingan-kepentingan pragmatis sesaat.

“Moment penting muskomda yang berjalan sesuai prinsip-perinsip demokratis, fair dan jauh dari kepentingan-kepentingan sesaat. Hal ini tentu menjadi pijakan dan dasar yang kuat untuk menentukan langkah penting organisasi untuk tiga tahun kedepan”, ujar Marcus.

Menurutnya, kehadiran Pemuda Katolik selama ini memang ada, tetapi belum menunjukkan taring dalam memberikan sumbangsih bagi peradaban bangsa dan tanah air. Karena itu, kesempatan tersebut kata markus, mesti dipergunakan sebaik-baiknya menuju visi yang luhur bersama di dalam kiprahnyadalam kehidupan bernegara.

“PK ada namun tak nampak. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri agar PK kembali bangkit dan kiprahnya semakin hadir di tengah-tengah masyarakat,” ungkap Ketua Presidium PMKRI B.Lampung periode 2001/2002 itu.

Sementara itu perwakilan dari Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma menegaskan bahwa saat ini Pemuda Katolik akan melakukan konsolidasi besar-besaran. Karena itu, kata dia, dibutuhkan komitmen dan keseriusan para kader untuk memberikan yang terbaik bagi kehidupan masyarakat.

“PK sedang menjalin konsolidasi besar-besaran. Dibutuhkn komitmen dan kerelaan untuk mebangun, berhimpun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan,” ungkap Gusma.

Hal senada ditegaskan kembali oleh anggota DPD RI Ir. Anang Priantoro agar kehadiran Pemuda Katolik senantiasa bisa membawa perubahan khusunya dalam arah pembangunan bangsa saat ini.

“Indonesia 2020 adalah pijakan menuju indonesia emas 2045. Ini Menjadi tonggak bangkitnya PK, agar peran dan kontribusinya lebih terhadap pembangunan. Tentu dengan kunci pendidikan dan kaderisasi. PK harus mengawal pembngunan desa dan harus menjadi pelaku utama di dalam masyarakat,” ungkapnya.

Meskipun saat ini secara kelembagaan di Lampung Pemuda Katolik kurang mendapat respon, tetapi kaderisasi internal sudah berjalan dengan baik.

“PK diharapkan segera menyikapi kondisi ini sehingga dampaknya lebih nyata dalam masyarakat,” ungakp Palgunadi yang mewakili alumni.

Kegiatan Muskomda tersebut dihadiri oleh Pengurus PK Stefanus Asat Gusma, Kikin Tarigan, Ganjar dan Koordinator Kerawam Keuskupan Romo Philipus Roy Suryo beserta alumni dan Anggota DPD RI yang membuka secara resmi kegiatan Muskomda. Selain itu, hadir juga 8 komisariat cabang (komcab) dari 12 komcab definitif, yaitu Komcab Bandar Lampung, Lampung Timur, Lampung Selatan, Pringsewu, Lampung Tengah, Pesawaran dan Masuji.

 

Sumber : indonesiasatu.co

Sticky
0
March 13, 2016

Pengurus Pemuda Katolik Jawa Timur Resmi Terbentuk

001046_890656_Uskup_Surabaya

Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono saat memberikan pemberkatan kepada Pengurus Pemuda Katolik Komda Jawa Timur di Gereja Katolik Paroki Sakramen Maha Kudus, Surabaya, Sabtu (12/3). FOTO: Friederich Batari/JPNN.com

SURABAYA – Pengurus Pemuda Katolik Komisariat Daerah Provinsi Jawa Timur (PK Komda Jatim) resmi terbentuk, Sabtu (12/3). Peresmian Pengurus Pemuda Katolik Komda Jawa Timur ditandai dengan pelantikan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, dr. Karolin Margret Natasa dan pemberkatan oleh Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono di Gereja Katolik Paroki Sakremen Maha Kudus, Surabaya.

Upacara pelantikan Ketua Pemuda Katolik Komda Jawa Timur, Agatha Eka Puspita Retnosari beserta pengurus PK Komda Jatim diawali dengan Misa Konselebran dipimpin Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, dr. Karolin Margret Natasa meminta pengurus PK Komda Jatim untuk komitmen menjalankan mandat organisasi. Karolin juga meminta Pengurus PK Komda Jatim untuk membangun komunikasi dengan semua pihak.

sumber : jpnn.com

Sticky
0
February 29, 2016

Karolin Lantik Pengurus Pemuda Katolik Komda Bali

DENPASAR – Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, dr. Karolin Margret Natasa melantik Pengurus Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Bali Periode 2016-2019 di Hotel Sens Gianyar Bali, Sabtu (27/2).

Kepengurusan PK Komda Bali yang dipimpin Herman Umbu Billy merupakan hasil dari Muskomda yang digelar, 26-27 Februari 2016. Meski baru regenerasi Pengurus PK Komda Bali namun melaunching Satuan Tugas Tanggap Darurat (STTD) yang nantinya akan menangani bencana di Provinsi Bali.

komda bali 2

Menurut Umbu, ini sesuai dengan semangat awal Kongres Nasional Pemuda Katolik di Batam, Kepulauan Riau, Agustus 2015, dimana Karolin mengajak para kader untuk tidak banyak bicara tetapi harus kerja nyata.

Karolin selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, menyambut baik STTD PK Komda Bali. “Ini bisa menjadi inspirasi bagi yang lain,” ujar Karolin.

pelantikan komda bali

Setelah resmi menjabat sebagai Ketua PK Komda Provinsi  Bali, Herman Umbu Billy melantik dua Ketua PK Komisariat Cabang (Komcab) Denpasar dan Gianyar serta melantik tujuh caretaker yang akan mengurus 7 cabang lain di Provinsi Bali.

Usai Pelantikan, panitia membekali kader dengan menggelar Seminar bertema “Menjadi Pemimpin 100% Katolik 100% Indonesia. Seminar ini menampilkan pembicara yakni Romo Rofinus Neto Wuli, Brigjen Andreas Y Purwoko Bhakti dari Keuskupan Ordinariat Militer Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Romo Rofinus maupun Brigjen Purwoko mengajak kader-kader PK Komda Bali untuk berani berpikir dan berkarya untuk gereja dan negara. “Meski minoritas, kita harus menunjukan kontribusi kita dalam perjalanan bangsa dan negara ini,” ujar Brigjen Purwoko.

Kader PK harus menunjukkan kualitas lebih. Karena itu, perlu tekad, latihan untuk mengembangkan diri sebagai kader PK.

Karolin mengimbau kader PK di cabang-cabang Komda Bali untuk bertindak dan berkarya bagi masyarakat. “Karya seperti STTD harus terus dilakukan, PK tidak boleh sekadar berkonsep,” kata Karolin mengingatkan.

 

sumber : jpnn.com

Sticky
0
January 25, 2016

Wakil Bupati: Pemda Jamin Toleransi di Aceh Tenggara

Wakil Bupati Aceh Tenggara, Ali Basrah (ketiga kiri) saat hadir dalam seminar Pemuda Katolik yang bertajuk “Kebersamaan dalam Keberagaman” di Balai Diklat BKPP Kutacane, Aceh Tenggara, Sabtu, 23 Januari 2016. (doc komda Aceh)

 

 

 

 Kutacane – Kabupaten Aceh Tenggara merupakan salah satu dari 23 Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh. Kabupaten yang dipimpin oleh H. Hasanuddin Beruh dan Ali Basrah sangat majemuk, terdiri beragam agama, suku, dan ras. Namun, di daerah ini tidak pernah terdengar kerusuhan atau konflik yang berbau SARA. Tentu hal ini patut diapresiasi dan dapat menjadi contoh bagi realisasi toleransi khusus di daerah-daerah yang majemuk.

Wakil Bupati Aceh Tenggara Ali Basrah mengungkapkan salah satu kunci terciptanya toleransi dan kurukunan di tengah masyarakat adalah komitmen pemimpinnya. Menurut Ali, maju-mundurnya, rukun-tidaknya, sejahtera-tidaknya suatu daerah sangat ditentukan oleh pemimpinnya.

“Saya dan Hasanuddin Beruh sudah berkomitmen menjamin toleransi dan kerukunan di Aceh Tenggara. Jangan sampai ada rakyat kami, siapapun dia tidak dilindungi hak-hak dasarnya, misalnya kebebasan untuk beribadah,” ujar Ali di acara seminar Pemuda Katolik yang bertajuk “Kebersamaan dalam Keberagaman” di Balai Diklat BKPP Kutacane, Aceh Tenggara, Sabtu (23/1).

Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum Pemuda Katolik Karolin Margret Natasa, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Medan Elias Semangat Sembiring, OFM, Cap, sejumlah anggota DPRD Faisal (Partai Aceh), Bustami (PDIP), Nazaruddin (PDIP), Roy Tarigan (Demokrat), Syamsiar (Golkar) dan Ketua DPC PDIP Aceh Tenggara Kasiman serta Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh Tenggara Deni Febrian Rosa.

Komitmen Pemda Aceh Tenggara, kata Ali, tidak sebatas wacana dan normatif. Tetapi hal tersebut sudah pada sampai tataran aplikasi, kerja dan karya. Komitmen tersebut sudah terealisasi dalam kebijakan dan program-program Pemda Aceh Tenggara.

“Memang di sini diberlakukan Syarat Islam, tetapi itu hanya berlaku bagi umat muslim sementara yang lain menghargai. Kami di sini (Aceh Tenggara), hidup aman, damai dan tenteram. Malahan dengan Syarat Islam, kami justru hidup damai dan aman,” ujar dia.

Dia mengakui Aceh Tenggara, masyarakatnya sangat majemuk. Dari sekitar 220.000 jumlah penduduk yang tersebar di 385 desa, suku terbesar adalah Alas (47 persen), Tapanuli (27 persen), Gayo (15 persen) serta sisanya suku-suku lain seperti Batak, Karo, Minangkabau, Singkil, Aceh, Batak Mandailing, Jawa, Sunda, Nias, Melayu, dan Tionghoa-Indonesia.

“Begitu juga dengan agama, Islam merupakan agama mayoritas, disusul Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Suku dan agama kami warna-warni, tetapi kami damai. Ibaratnya kami Taman Mini Indonesia di Aceh,” ungkap Ali.

Dia juga memastikan pemda tidak berlaku diskriminasi dengan kelompok manapun. Dia mencontohkan setiap merayakan Idul Fitri, pemda membagikan sirup kepada setiap umat muslim di Aceh Tenggara, siapapun dia, tanpa memperhatikan latar belakangnya.

“Hal yang sama juga berlaku untuk umat Kristen Protestan dan Katolik yang diberikan susu dan gula pada saat umatnya merayakan Natal dan Tahun Baru. Jumlahnya sama persis saat pemda membagikan sirup bagi umat Muslim,” papar dia.

Hal senada, lanjut dia terjadi juga di dunia pendidikan di Aceh Tenggara. Pemda, ungkap akan memberikan dukungan berupa beasiswa kepada siswa SMA ataupun SMP dan SD yang berprestasi, tanpa mempertimbangkan latar belakangnya, suku atau agamanya. Asal dia berprestasi, maka pemda akan mendukungnya. Begitu juga dengan guru, diusahakan setiap sekolah ada guru yang mewakili agama tertentu sehingga siswanya bisa dibina.

“Jangan sampai di sekolah ada pelajaran terkait Islam, lalu siswa non-muslim bebas atau tidak ada kelas. Padahal, mereka juga perlu dibina sesuai dengan agamanya, maka kita dorong ada gurunya,” jelas Ali.

Lebih lanjut, dia mengatakan poin penting menjaga toleransi adalah saling menghargai dan tidak saling mengganggu saat yang lain beribadah. Dasar-dasar bernegara dan berbangsa kita sebagaimana tertera dalam Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI harus dihidupkan dan ditanamkan terus-menerus. Jika ada isu yang berusaha memecah belah, maka segara dipotong.

“Ketika terjadi kasus Tolikara, Papua dan kasus Aceh Singkil, kami segera mengumpulkan kelompok umat beragama dan sama-sama menyatakan menolak tindakan-tindakan seperti itu,” tandas Ali.

Pastor Paroki Lawe Desky, Aceh Tenggara, Pater Charles Lanang Ona, SVD mengakui bahwa pemerintah daerah Aceh Tenggara sungguh hadir melindungi hak-hak kaum minoritas sehingga umat Katolik merasa difasilitasi dan dibantu dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan. Bahkan, pemda, katanya selalu melibatkan Gereja Katolik dalam berbagai kegiatan-kegiatan pemerintahan.

“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada pemda karena telah memberikan izin mendirikan bangun (IMB) untuk sembilan gedung gereja di Aceh Tenggara. Tentunya, kerja sama, komunikasi dan dialog dengan pemerintah daerah terus kita bangun demi Aceh Tenggara yang toleran, damai dan aman,” ungkap Pater Charles.

sumber : beritasatu.com

 

Sticky
0
January 24, 2016

Pemuda Jadi Ujung Tombak Jaga Toleransi

KUTACANE, PK – Pemuda mempunyai peran besar dalam sejarah perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejak Kebangkitan Nasional tahun 1908, Sumpah Pemuda 1928, Kemerdekaan RI 1945 sampai reformasi 1998, pemuda mempunyai peran penting untuk menjaga dan melestarikan eksistensi Negara Kasatuan Republik Indonesia. Bahkan Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno pernah mengatakan “Berikan aku 10 pemuda, maka kuguncangkan dunia.”

komda_acehKetua Umum Pemuda Katolik Karolin Margret Natasa menilai, peran pemuda masih sangat dibutuhkan oleh bangsa ini,  khususnya dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Pemuda, kata Karolin, dapat menjadi ujung tombak menjaga toleransi dan kurukunan dalam masyarakat Indonesia yang beraneka ragam. Apalagi, keberagaman ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menghancurkan bangsa.

Hal ini disampaikan oleh Karolin dalam acara Musyawarah Komisiariat Daerah (Muskomda) Aceh di Balai Diklat BKPP Kutacane, Aceh Tenggara pada Sabtu (23/1). Dalam acara ini hadir, Wakil Bupati Aceh Tenggara Ali Basrah, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Medan Elias Semangat Sembiring, OFM, Cap, sejumlah anggota DPRD Faisal (Partai Aceh), Bustami (PDIP), Nazaruddin (PDIP), Roy Tarigan (Demokrat), Syamsiar (Golkar), dan Ketua DPC PDIP Aceh Tenggara Kasiman, serta Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh Tenggara Deni Febrian Rosa.

“Salah satu tantangan bangsa kita sekarang ini adalah bagaimana meramu keberagaman sehingga menjadi kekuatan bangsa dalam menghadapi berbagai masalah. Saling menghargai, menghormati, dan menjaga toleransi merupakan cara-cara yang dapat digunakan menjaga keberagaman. Dalam konteks ini, pemuda bisa menjadi ujung tombak untuk menjaga toleransi tersebut,” ujar Karolin dalam seminar yang bertajuk Kebersamaan dalam Keberagaman.

Karolin menilai, perbedaan dan keberagaman itu bisa menjadi musibah jika tidak dikelola dengan baik. Apalagi, masyarakat Indonesia sangat majemuk, terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan aliran kepercayaan.

“Berhadapan dengan kenyataan keberagaman ini, tidak lain yang bisa dilakukan adalah membuka diri, membangun dialog, dan komunikasi sehingga bisa memahami dan mengerti satu sama lain, serta menghargai dan menghormati orang yang berbeda dengan kita,” jelas dia.

Karena itu, Karolin mendorong pemuda untuk aktif di kegiatan-kegiatan organisasi kepemudaan. Dalam organisasi tersebut, pemuda, katanya, harus menjalankan kaderisasi yang baik dan kegiatan-kegiatan organisasi yang bisa mengembangkan diri dan membangun komunikasi dengan organisasi kepemudaan lain.

“Di organisasi kepemudaan memang harus ditempa dan dibentuk sehingga menjadi kader-kader yang berkualitas, bernilai, dan berintegritas sehingga mampu membuka diri, berdialog, dan berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda baik dari segi suku, agama, maupun ras. Misalnya, Pemuda Katolik berdialog dan bekerja sama dengan Pemuda Muslin, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, atau aliran kepercayaan lain untuk membangun toleransi dan menjaga keberagaman di masyarakat,” terang dia.

Hal senada diungkapkan juga oleh Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh Tenggara Deni Febrian Rosa. Menurut Deni, pemuda di Aceh Tenggara telah berkomitmen menjaga kebersamaan dan toleransi di masyarakat Aceh Tenggara.

“Kami Pemuda di Aceh Tenggara, menjalankan kegiatan-kegiatan yang bisa mempererat satu sama lain dan menjaga keberagaman, seperti kegiatan seni dan budaya, olahraga, dan forum kebersamaan. Bahkan, saya berinisiatif akan meminta legalisasi Forum Pemuda Lintas Agama untuk menjaga toleransi di Aceh Tenggara,” ungkap Deni.

Dia juga mengharapkan agar pemuda menghilangkan rasa emosional dan egosektoral. Pemuda, katanya, harus lebih membuka diri, aktif di organisasi sosial-kemasyarakatan dan belajar banyak sehingga tidak terlibat dalam narkoba, tindakan kriminal, dan teroris.

Sementera itu, Ketua Demisioner Komda Pemuda Katolik Aceh Kikin Tarigan mengaku merasa terbantu dengan kebersamaan pemuda di Aceh Tenggara serta pemerintah daerah yang menerima keberadaan Pemuda Katolik khususnya dan umat katolik umumnya di Aceh Tengggara.

“Meskipun kami minoritas di Aceh Tenggara, tetapi kerja sama antara pemuda dan pemerintah daerah Aceh Tenggara yang sangat baik, kami merasa dibantu, difasilitasi, bahkan sembilan gereja di Aceh Tenggara sudah mendapat Izin Mendirikan Bangunan semua. Itulah indahnya kebersamaan dalam keberagaman,” tutur Kikin seraya menyampaikan terima kasih kepada Pemda Aceh Tenggara.

Sebagaimana diketahui, Musyawarah Komisariat Daerah (Muskomda) merupakan salah satu kegiatan Pemuda Katolik yang diselenggarakan daerah (setingkat Provinsi) sekali dalam tiga tahun. Muskomda dilakukan untuk mengevaluasi dan menetapkan program-program organisasi di tingkat daerah. Selain itu, kegiatan ini juga dilakukan untuk memberhentikan, memilih, dan menetapkan kepengurusan Komisariat Daerah.

Komda Aceh menyelenggarakan Muskomda di Aceh Tenggara, salah satu kabupaten di Aceh. Daerah yang dipimpin oleh H. Hasanuddin Beruh dan Ali Basrah ini sangat majemuk, namun yang patut diapresiasi dari daerah ini, yakni tidak pernah terdengar kerusuhan yang berbau SARA. Mayoritas penduduknya beragama Muslin, disusul Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Sementara suku bangsa yang hidup di Aceh Tenggara sangat banyak, yakni suku Alas, suku Gayo, suku Batak, suku Karo, suku Minangkabau, suku Singkil, suku Aceh, suku Batak Mandailing, suku Jawa, suku Sunda, suku Nias, suku Melayu, dan suku Tionghoa.

Sumber: BeritaSatu.com

http://www.beritasatu.com/nasional/344104-pemuda-jadi-ujung-tombak-jaga-toleransi.html

Sticky
0