Login
or
Register

Blog

Pemberitahuan Kegiatan Kongres Nasional XVI Pemuda Katolik
July 08, 2015

Pemberitahuan Kegiatan Kongres Nasional XVI Pemuda Katolik

Surat Pemberitahuan Komda Ok

 

Nomor                     : 07/PAN-KONGRES XVI/7/2015

Lampiran                 : 1 (satu) lembar

Perihal                     : Pemberitahuan Kegiatan Kongres

 

Kepada

Yth. KOMDA dan KOMCAB Pemuda Katolik Se Indonesia

Di –

T e m p a t

 

Dengan hormat

Sehubungan dengan kesepakatan Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau sebagai tuan rumah Kongres Pemuda Katolik ke XVI, maka dengan ini Panitia Pelaksana Kongres ke XVI memberitaukan kepada seluruh peserta Kongres bahwa :

  1. Jadwal Pelaksaan Kongres akan berlangsung dari tanggal 21 s/d 23 Agustus 2015
  2. Akomodasi Hotel Cek In Tanggal 21 Agustus 2015, Pkl 12.00 – Cek Out Tanggal 23 Agustus 2015 Pkl 12.00.
  3. Panitia hanya memfasilitasi akomodasi selama Kongres berlangsung
  4. Setiap KOMDA/KOMCAB wajib mengirimkan Dua nama peserta Delegasi
  5. Batas pengiriman delegasi paling lambat tanggal 10 Agustus 2015 disertai dengan SK atau Mandat dari KOMDA/KOMCAB.
  6. Peserta Konggres wajib memberitaukan jadwal keberangkatan atau tibanya di lokasi Kongres
  7. Peserta KOMDA dan KOMCAB harus mengirimkan kontak person ke Panitia paling lambat seminggu setelah pemberitahuan ini.
  8. Biaya Trasnsportasi PP peserta ditanggung masing-masing peserta
  9. Bagi Peserta Kongres yang ingin berwisata ke Singapura mohon menyiapkan dokumen keimigrasian (Pasport).
  10. Biaya Berwisata Singapura sifatnya sukarela dan dibiayai sendiri oleh masing-masing peserta usai kegiatan Kongres.
  11. Hal lain yang belum jelas harap dikonfirmasi ke kontak person panitia.

 

 

 

 

 

 

 

Demikian pemberitahuan Kongres ini disampaikan dan atas perhatian dan kerja samanya kami menghaturkan limpah terimakasih

 

Batam; 04 Juli 2015

 

PANITIA KONGRES XVI

PEMUDA KATOLIK

 

Ketua   Panitia Sekretaris Panitia
(Evedius Halima, S.sos)

 

 

(Johannes P. Purba, ST)

          

 

MENGETAHUI          

 

Pengurus Pusat Pemuda Katolik

Periode 2012-2015

 

 

Agustinus Tamo Mbapa, S.Sos, M.SI                   dr. Karolin Margret Natasa

Ketua Umum                                                                  Sekretaris Jenderal

 

Contac Person Panitia :

  1. Sekretariat Panitia : Hp. 081289695555
  2. Hendrikus Uring : Hp. 081270003361
  3. Jo Purba            : Hp. 081372111806

 

 

Lampiran : Tour Singapura

 

  1. 00 – 06.15 Menuju Pelabuhan Fery Terminal
  2. 10 – 09.30 Dengan Fery Menuju Singapur
  3. 30 – 10.15 Imigrasi Check
  4. 20 – 12.30 City Tour The Fountain of Wealth, China Town, Merlion Park
  5. 30 – 13.00 Menuju ke Mongolian Restortan
  6. 00 – 14.00 Makan Siang Buffee
  7. 00 – 18.00 Tour ke Espianade – Theater on The Bay, Orchard
  8. 00 – 18.30 Menuju Sentosa Island
  9. 30 – 20.00 Photo Stop di Universal Studio dan makan malam di Archers
  10. 00 – 23.30 Menuju Pelabuhan
  11. 40 – 22.40 Dengan Fery Kembali ke Batam

 

Biaya Harga Minimal 30 Pax Rp. 1 150.000.-

Harga sudah termasuk

 

  1. Tiket Fery Batam – Singapur (PP)
  2. Satu kali makan siang dan satu kali makan malam
  3. Tour Sesuai acara

 

Untuk konfirmasi teknis tour Singapur hubungi saudara Yosep Adinugroho, ST

  1. 081270574590
Sticky
0
Agustinus Salut Pimpin Komda Pemuda Katolik Sulteng
July 04, 2015

Agustinus Salut Pimpin Komda Pemuda Katolik Sulteng

IMG_0725Ketua Komda Terpilih Pemuda Katolik Propinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Agustinus Salut (kanan) bersama Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Friederich Batari (kiri).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Palu, PK | Komisariat Daerah (Komda) Pemuda Katolik Propinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Sabtu (4/7/2015), berhasil menyelenggarakan Musyawarah Komisariat Daerah (Muskomda) IV di Graha DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulteng, Kota Palu, Sulteng.

Salah satu keputusan Muskomda IV Pemuda Katolik Sulteng adalah terpilihnya Agustinus Salut menjadi Ketua Komda Pemuda Katolik Sulteng Periode 2015-2018. Agustinus Salut yang biasa disapa Gusti ini ditetapkan sebagai Ketua Komda Sulteng setelah sempat bersaing cukup ketat dengan tiga bakal calon Ketua Komda lainnya yakni Videlis Jemali, Marselinus Erik dan Michael Batan. Namun, setelah melalui proses seleksi kandidat, ketiga kandidat belum memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam Peraturan Tata Tertib Muskomda IV Pemuda Katolik Sulteng.

Sebelumnya, Alexander Philiph Sitinjak selaku Ketua Sidang Muskomda IV Pemuda Katolik Sulteng, didampingi dua anggota Pimpinan Sidang yakni Brigita Teto dan Frengty Effendy, melakukan seleksi terhadap empat bakal calon Ketua Komda Pemuda Katolik Sulteng Periode 2015-2018. IMG_0669

Awalnya, terdapat empat kandidat yang menyatakan kesiapannya. Namun hanya satu kandidat yang memenuhi kriteria menjadi calon ketua Komda PK Sulteng yakni Agustinus Salut. Selanjutnyaa, pimpinan sidang setelah mendapat persetujuan peserta Muskomda PK Sulteng, menetapkan Agustinus Salut sebagai Ketua Komda PK Sulteng untuk tiga tahun kedepan.

Agustinus Salut menyampaikan terima kasih kepada forum Muskomda yang memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin Pemuda Katolik Sulteng.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada kawan-kawan delegasi dari Kabupaten dan Kota (Komisariat Cabang Pemuda Katolik se-Sulteng, red) yang memberikan kepercayaan kepada saya, dan juga mengucapkan terimakasih kepada senior-senior serta Pengurus Pusat Pemuda Katolik yang telah mendampingi proses Muskomda ini,” kata Gusti yang juga mantan Ketua PMKRI Cabang Palu.

Agustinus menyatakan segera menyusun komposisi pengurus agar secepatnya dilantik. Ia juga menyatakan akan segera mendaftarkan Pemuda Katolik Sulteng di Badan Kesbangpol Propinsi Sulteng

Philip, sapaan untuk Alexander Philiph Sitinjak menjelaskan kegiatan Muskonda Pemuda Katolik Sulteng tahun 2015 mengambil tema Konsolidasi Organisasi Menuju Kader Pemuda Katolik yang Mandiri dan Peduli. Kegiatan Muskomda ini merupakan ajang konsolidasi organisasi dan konsolidasi kader Pemuda Katolik Sulteng.

Sebagai forum tertinggi di tingkat daerah, Muskomda ini diharapkan dapat melahirkan pemimpin yang baru, yang tentunya dapat mengemban amanat organisasi. Pemuda Katolik dibentuk sebagai wadah pembinaan dan perjuangan yang berasaskan Pancasila dan ajaran Gereja Katolik dengan tujuan untuk menegakkan, memelihara, mengamalkan dan membela nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan ajaran Gereja Katolik. Pemuda Katolik adalah salah satu organisasi kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang secara nasional diakui oleh negara.

 

Konsolidasi Organisasi

Kegiatan Muskomda Pemuda Katolik Sulteng diawali dengan seminar dengan tema Mendesain Pembangunan Sulawesi Tengah ke Depan.

Kegiatan Muskomda tersebut dihadiri Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Friederich Batari.

Fredy, demikian panggilan Friederich Batari, menyampaikan selamat dan apresiasi yang tinggi karena proses Muskomda berjalan dinamis dan dialektis sesuai aturan dan mekanisme organisasi.

“Pemilihan ketua berlangsung demokratis dan dinamis. Ini atmosfer bagus untuk membangun organisasi,” ucap Fredy.

Pada kesempatan itu, Fredy meminta Ketua Komda Sulteng bersama kader Pemuka Katolik Propinsi Kalteng agar segera melakukan konsolidasi internal kader guna melaksanakan seluruh keputusan dan mandat organisasi yang ditetapkan dalam Muskomda IV Pemuda Katolik Propinsi Kalteng.

Selain melakukan konsolidasi di internal kader Pemuda Katolik, Fredy juga meminta untuk menjalin komunikasi dengan pihak hirarki Gereja, termasuk mendorong kerjasama dengan ormas kepemudaan dan komunitas lainnya, termasuk pemerintah daerah.

“Pemuda Katolik diharapkan tetap kritis dalam mengawal pelaksanan pemerintahan dan pembangunan khususnya di wilayah Propinsi Sulteng agar setiap kebijakan tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat,” tegas Fredy, yang lama menjadi wartawan di Istana Presiden pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada bagian lain, Fredy secara khusus menekankan pentingnya para kader Pemuda Katolik untuk mengawal setiap proses dan tahapan pemilihan kepala daerah (Pilkada) setentak pada Desember 2015.

“Kader Pemuda Katolik harus ikut mengawal pelaksanaan Pilkada agar dapat berjalan secara demokratis, jujur, dan fair,” kata Fredy.

Fredy juga mengingatkan untuk mengkritisi visi, misi dan program kerja para calon kepala daerah. Selain itu, Fredy juga mengimbau kader Pemuda Katolik memerhatikan rekam jejak setiap kandidat.

Sekretaris Panitia Muskomda Pemuda Katolik Sulteng Marcellus Umbas menyebutkan Muskomda Pemuda Katolik Sulteng ke IV tahun 2015 diikuti oleh perwakilan, yaitu Kabupaten Tolitoli, Parigi Moutong, Morowali Utara, Sigi, dan Kota Palu.

Sticky
0
June 29, 2015

Ketum Gelar Rakor Persiapan Kongres Nasional PK 2015

Rapat Persiapan Kongres PK 2015Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Agustinus Tamo Mbapa didampingi Ketua Bidang Politik PP Pemuda Katolik, Frederikus Lusti Tulis melakukan rapat koordinasi (Rakor) dengan Pengurus Komisariat Daerah Pemuda Katolik Propinsi Kepri dan Paniati Kongres Nasional PK XVI Tahun 2015 di Batam, Propinsi Kepulauan Riau. Rapat koordinasi ini dalam rangka untuk persiapan pelaksanaan Kongres Nasional Pemuda Katolik XVI yang akan berlangsung di Batam, 21-23 Agustus 2015.

Tampak Ketua Umum PP PK Agustinus Tamo Mbapa (tengah), dan jajaran Pengurus Komda PK Kepri dan Panitia Kongres Nasional PK Tahun 2015.*** (Friederich Batari).

Sticky
0
June 27, 2015

Pengurus Komda PK DKI Jakarta 2015-2018 Dilantik

Pelantikan Ketua Komda PK Propinsi DKI Jakarta Periode 2015-2018 di Aula Paroki Santa Theresia, Menteng, Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2015.Jakarta – Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Agustinus Tamo Mbapa (Gustaf) melantik Ketua dan Pengurus Komisariat Daerah (Komda) Propinsi DKI Jakarta Periode 2015-2018. Pelantikan yang berlangsung di Aula Paroko Santa Theresia, Menteng, Jakarta Pusat ini, diawali dengan Perayaan Misa dipimpin Romo Antonius Didit Soepartono, Pr.

Dalam sambutannya, Gustaf demikian panggilan untuk Agustinus Tamo Mbapa, meminta Ketua Komda Pemuda Katolik DKI Jakarta beserta jajarannya untuk meningkatkan konsolidasi anggota. Gustaf juga meminta PK DKI Jakarta untuk mengibarkan panji-panji dalam misi pelayanan di wilayah DKI Jakarta. PK DKI - 1

Ketua Komda PK DKI Jakarta, Tarsius Lemba berjanji untuk mengibarkan panji-panji Pemuda Katolik di wilayah DKI Jakarta. “Kami akan menjalankan misi pelayanan dalam kesederhanaan,” tegas Tarsisius.

Sementara itu, Romo Antonius Didit Soepartono, Pr dalam kotbahnya saat memimpin Perayaan Ekaristi, berpesan kepada Pemuda Katolik agar semakin kuat dalam iman, berkembang dalam cinta kasih dengan semangat pelayanan dalam kesederhanaan.PK DKI - 2

Sticky
0
June 23, 2015

Pemuda Katolik Kehilangan Sosok Ben Mboi

Ben MboiMantan Gubernur Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dr. Aloysius Benedictus Mboi atau biasa Ben Mboi meninggal dunia di Jakarta, Selasa (23/6/2015) sekitar pukul 00:30 WIB.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Agustinus Tamo Mbapa menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya Ben Moi. “Kami, generasi muda khususnya Pemuda Katolik sangat kehilangan sosok Ben Mboi. Beliau tokoh NTT yang visioner dan merakyat,” kata Gustaf, sapaan Agustinus Tamo Mbapa usai melayat jenazah Ben Mboi yang disemayamkan di  rumah duka, Jalan Muhasyim VII Nomor 37 Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2015) siang.

Suami mantan Menteri Kesehatan RI, dr Nafsiah Mboi ini meninggaPK Melayat Ben Mboil di usia 80 tahun. Ben Mboi lahir di Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT pada 22 Mei 1935. Ben Mboi merupakan gubernur NTT periode 1978-1988. Ia merintis karier di dunia kesehatan sekaligus militer, dan pernah terlibat dalam Operasi Trikora.

Sticky
0
June 09, 2015

Pengurus Pemuda Katolik DIY Resmi Dilantik

PK DIY

Yogyakarta, PK — Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Agustinus Tamo Mbapa secara resmi melantik Pengurus Komisariat Daerah (Komda) Pemuda Katolik Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Periode 2015-2018. Acara serah terima jabatan dan pelantikan pengurus baru Komda DIY Periode 2015-2018 berlangsung di Wisma Mahasiswa, Jalan Dr. Wahidin 54, Yogyakarta, Minggu (7/6/2015).

Dalam sambutannya, Agustinus Tamo Mbapa, yang akrab disapa Gustaf menegaskan bahwa pelantikan pengurus baru Pemuda Katolik Komda DIY, pada dasarnya untuk melanjutkan dan melaksanakan mekanisme organisasi sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta untuk melanjutkan program kerja dan segala kegiatannya.

Pada kesempatan itu, Gustaf meminta Pengurus Pemuda Katolik KOMDA DIY Periode 2015-2018, agar segera melakukan konsolidasi dengan berbagai Komisariat Cabang (KOMCAB) yang ada di seluruh Propinsi DIY. Dengan begitu, menurut Gustaf, panji-panji Pemuda Katolik akan terus berkibar pada Orang Muda Katolik.

Selain itu, Gustaf juga mengharapkan agar mekanisme organisasi seperti proses pendidikan di Pemuda Katolik berjalan sebagaimana mestinya. “Saya meminta kepengurusan baru Pemuda Katolik Komda DIY segera melakukan Mapenta, LKTD, LKTM dan LKTA, agar tercipta kader-kader muda Katolik yang militan dan progresif,” tegas Gustaf.

Sementara itu, Romo Moderator Pemuda Katolik KOMDA DIY, Romo C.B. Mulyatno, Pr meminta pengurus Pemuda Katolik Komda DIY, agar berani untuk diutus ke tengah masyarakat.

Menurut Romo CB Mulyatno, Pemuda Katolik DIY harus mampu menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. Selain itu, PK DIY juga harus mampu menunjukkan eksistensinya di tengah masyarakat.

“Hanya dengan kerja-kerja aktual di masyarakatlah, Pemuda Katolik mampu dikenal oleh orang muda dan juga masyarakat lainnya,” kata Romo CB Mulyatno, Pr.

PK DIY 1Ketua Pemuda Katolik KOMDA DIY Periode 2015-2018, Agustinus Y. Budiarta mengatakan salah satu kebutuhan organisasi adalah regenerasi kepengurusan. Regenerasi kepengurusan dijalankan agar terus tercipta kader-kader baru dan mampu menyesuaikan dengan tantangan zaman. Regenerasi juga dibutuhkan agar terjadi kesinambungan program kerja antara kepengurusan lama dengan kepengurusan baru.

Pergantian kepengurusan Pemuda Katolik KOMDA DIY, dilaksanakan setelah melalui Musyawarah Komisariat Daerah (MUSKOMDA) pada bulan Februari 2015 di Wonosari, Gunung Kidul.

Selain acara pelantikan, juga dilaksanakan serah terima jabatan dari ketua demisoner Pemuda Katolik KOMDA DIY, Ignatius Ganjar Tri kepada ketua yang baru, Agustinus Y. Budiarta.

 

PK DIY 2Acara pelantikan Pemuda Katolik KOMDA DIY juga diisi dengan sarasehan dengan menghadirkan narasumber yakni Romo C.B. Mulyatno, Ketua ISKA DIY Ignas Suryadi dan Ketua Umum Pengurus Pusat Agustinus Tamo Mbapa. Turut hadir dalam acara pelantikan Pengurus Pemuda Katolik KOMDA DIY adalah berbagai elemen dan ormas Katolik, OMK, KMK serta undangan lainnya.

 

 

Laporan: Pemuda Katolik KOMDA DIY Periode 2015-2018

Sticky
0
June 07, 2015

Pemuda Katolik Nobar Final Liga Champions 2015

Nobar Final ChampionsFinal Liga Champions 2015 antara Juventus vs Barcelona menarik perhatian pencinta sepak bola hampir di seluruh dunia. Tak terkecuali, pengurus Pemuda Katolik juga ikut dalam acara nonton bareng (Nobar) Final Liga Champions 2015.

Dalam final tersebut, Barcelona memastikan diri sebagai klub elit tingkat Eropah 2015 setelah mengalahkan Juventus dengan skor 3:1.

Tampak Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Agustinus Tamo Mbapa (Gustaf) pada acara Nobar di D88 Lapiazza Kelapa Gading, Jakarta Utara, Minggu dini hari (7/6/2015).

Sticky
0
June 06, 2015

Syukuran Ulang Tahun Ketua Umum

Ketum Ultah

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Agustinus Tamo Mbapa (Gustaf) merayakan ulang tahun pada tanggal 6 Juni 2015. Peringatan Ulang Tahun Ketua Umum PK ini bertepatan dengan Hari Lahir Presiden I RI, Bung Karno. Tampak suasana kekeluargaan pada acara syukuran di Jakarta, Sabtu 6 Juni 2015. Tampak Ketua Umum PP PK Agustinus Tamo Mbapa (kedua dari kanan) bersama istri, Ibu Kathrin (kanan) serta anggota keluarga dan para sahabat.

Sticky
0
June 05, 2015

PP Pemuda Katolik Bersilaturahmi dengan Harry Tanoe

PK - Ketum Perindo

 

 

 

 

 

Jakarta – Sejumlah Pengurus Pusat Pemuda Katolik (PK) Republik Indonesia bersilaturahmi dengan pemilik MNC Group Hary Tanoesoedibjo di Gedung MNC Tower, Jakarta, pada Jumat (29/5) malam.
Ketua Umum PK Agustinus Tamo Mbapa didampingi jajarannya seperti PK Ardy Susanto, Ferdi Lusti Tulis, Richard Moertidjaya, Hendrik Jauhari Oratmangun, Celestinus Reda dan Alfred Edomeko.
Hary Tanoe dalam pertemuan tersebut menegaskan pentingnya organisasi masyarakat dan organisasi kepemudaan menjadi pressure group yang produktif dan konstruktif dalam kehidupan bermasyarakat. Organisasi kepemudaan, seperti Pemuda Katolik, harus menjadi wadah bagi kaum muda untuk terlibat dalam membangun bangsa, negara, dan masyarakat Indonesia.
“Harapan saya ke depan, PK harus punya program-program yang berorientasi pada masyarakat,” ujar Hary Tanoe.
Dia mengharapkan organisasi kepemudaan harus kembali pada core value yang diperjuangkan setiap organisasi kepemudaan. Organisasi kepemudaan merupakan salah elemen masyarakat yang bisa menjaga kestabilitasan.
“Bangsa kita sedang tidak stabil, terjadi banyak anomali, seperti lautnya luas, tetapi ikan dan garam impor, batubara banyak, tetapi listrik impor begitu juga hal lain. Siapa yang bisa atasi hal tersebut? Tentu, masyarakat Indonesia termasuk organisasi kepemudaan,” katanya.
Agustinus Tamo Mbapa mengapresiasi kesedian Hary Tanoe yang telah memberikan masukan kepada PK. Sebagai salah satu tokoh nasional yang sukses, Hary Tanoe layak dicontoh.
“Salah satu problem bangsa kita adalah krisis kepemimpinan nasional. Pemuda Katolik yang tersebar di seluruh kabupaten di Indonesia berupaya untuk menciptakan kader-kader muda yang nantinya menjadi pemimpin nasional. Salah satu caranya adalah silaturahmi, dialog, dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh nasional,” ujarnya.
Bersama tokoh-tokoh nasional lainnya, Hary Tanoe diundang menjadi salah satu nara sumber dalam Kongres Pemuda Katolik pada Agustus mendatang di Kepulauan Riau.
Yustinus Paat/HS

Sticky
0
June 05, 2015

Mahasiswa dan Tritura Jilid II

Friederich Batari, newOleh Friederich Batari **)

 

TULISAN mantan Wakil Presiden RI Profesor Boediono dengan judul “Indonesia di Mata Lee Kuan Yew”, (Kompas, 21/5/2015), perlu direnungkan sebagai sebuah pekerjaan rumah kita sebagai bangsa. Dalam tulisan tersebut, Profesor Boediono mengutip pandangan Lee Kuan Yew, pendiri sekaligus mantan Perdana Menteri Singapura, sebagai berikut:

“Satu dasa warsa terakhir ini kinerja Indonesia lumayan, ekonominya secara konsisten tumbuh antara 4 dan 6 persen. Krisis keuangan global tidak banyak memengaruhi kinerjanya. Investasi dalam jumlah besar dari Tiongkok dan Jepang masuk, tertarik oleh adanya sumber alam yang melimpah. Namun, dalam 10 sampai 30 tahun mendatang, saya tidak melihat negeri ini akan mengalami perubahan besar. Malaysia barangkali akan maju lebih cepat karena secara geografis negara ini lebih menyatu, sistem transportasinya lebih baik, dan angkatan kerjanya lebih mempunyai motivasi.

Meskipun mengalami kemajuan, ekonomi Indonesia masih mengandalkan pada sumber daya alam dan peduduknya masih menggantungkan pada apa yang diberikan alam dan bukan pada apa yang dapat mereka ciptakan dengan kedua tangan mereka. Melimpahnya sumber alam cenderung membuat orang malas: ‘Ini tanah saya. Anda menginginkan yang terkandung di dalamnya? Bayar saya.’ Pandangan seperti itu akan menumbuhkan sikap hidup dan budaya santai, yang nantinya sulit untuk dihilangkan.”

Saya melihat, pandangan Lee Kuan Yew itu merupakan tantangan bersama untuk segera dijawab melalui kerja nyata, utamanya oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta jajaran kabinetnya sehingga perubahan besar dapat terwujud. Tantangan tersebut memang tidak hanya menjadi tugas eksekutif, tetapi juga legislatif dan yudikatif mulai dari pusat hingga daerah, termasuk mahasiwa dan pemuda, dan masyarakat sipil dan kaum cindikiawan.

Pertanyaannya adalah perubahan besar seperti apa dan bagaimana perubahan itu diwujudkan. Syarat pertama untuk melakukan perubahan besar adalah adanya kesadaran bersama seluruh elemen bangsa untuk mengidentifikasi mana masalah pokok dan mana masalah ikutannya, berikut melakukan konsolidasi kekuatan serta memulai usaha kerja nyata dalam semangat dan ritme bersama mengatasi keadaan. Jika ini bisa dilakukan maka keinginan untuk mewujudkan perubahan besar adalah sebuah keniscayaan.

Sebagai salah satu aktifis pergerakan mahasiswa, yang pernah aktif di PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) bersama aktifis dari organisasi mahasiswa lainnya, juga terpanggil untuk ikut berkontribusi dengan mengambil langkah nyata dalam usaha mewujudkan cita-cita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Qua Vadis, Nawacita?

Nawacita, atau sembilan program prioritas yang dicanangkan Jokowi dan Jusuf Kalla pada kampanye Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, 2014, secara kasat mata, belum menunjukkan hasilnya. Sejak awal, Jokowi-Jusuf Kalla dalam membentuk kabinetnya (Kabinet Kerja), dikesankan publik bahwa kepentingan politik pragmatis lebih dominan ketimbang memilih figur menteri yang mumpuni, yang menjadi ujung tombak dalam menerjemahkan dan melaksanakan visi, misi dan programnya melalui kerja-kerja nyata di kementerian/lembaga. Ini menjadi salah satu tantangan awal yang dihadapi pemerintahan Jokowi-JK. Tantangan berikutnya, terkait mekanisme kerja dan pola komunikasi dari Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla bersama jajaran kabinet.

Salah satu contoh, komunikasi yang kurang lazim dari seorang Presiden adalah terkait Peraturan Presiden (Perppres) Nomor 39 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 68 Tahun 2010 tentang Pemberian Fasilitas Uang Muka bagi Pejabat Negara pada Lembaga Negara untuk Pembelian Kendaraan Perorangan. Perppres tersebut memang telah dicabut. Namun untuk menarik dicermati mengenai pernyataan Presiden Jokowi yang merasa tidak membaca isi Pesppres tersebut saat ditandatangani.

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana mungkin seorang Presiden menerbitkan kebijakan tanpa mengetahui isi kebijakan tersebut? Pernyataan Presiden Jokowi tentu menuai reaksi sejumlah kalangan. Pernyataan Presiden Jokowi telah secara nyata memperlihatkan lemahnya sistem dan prosedur kerja administrasi serta komunikasi di lingkungan Kantor Kepresidenan.

Padahal, semua orang tahu bahwa sebelum sebuah kebijakan ditetapkan, mesti telah melewati proses pembahasan yang panjang dengan melibatkan lintas kementerian dan lembaga, bahkan telah dikonsultasikan terlebih dahulu kepada Presiden. Namun, dengan pertimbangan ‘pencitraan’, semua proses panjang tersebut diabaikan atau seakan-akan tidak berjalan.

Perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), juga menjadi salah satu aspek yang turut memperlambat tercapainya Program Nawa Cita Jokowi-JK, khususnya di bidang penegakan hukum.

Selain bidang hukum, sebagian besar kalangan mengkhawatirkan kinerja pemeritahan Jokowi-JK dalam bidang ekonomi. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, pelambatan pertumbuhan ekonomi bahkan berada dibawah 5 persen pada kuartal pertama, 2015, beban rakyat meningkat akibat kelangkaan beras, kenaikan harga gas elpiji, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, yang memicu naiknya harga-harga kebutuhan pokok masyarakat, adalah persoalan cukup serius. Maka, tak heran muncul pandangan yang meminta Presiden Jokowi untuk merombak jajaran kabinet di bidang ekonomi.

Dalam posisi ini, saya belum melihat perombakan kabinet (reshuffle) sebagai solusi efektif untuk mengatasi keadaan ekonomi yang mengalami pelambatan saat ini. Wacana reshuffle kabinet hendaknya dilihat sebagai bentuk ketidakpuasan publik terhadap kinerja kabinet. Karena itu, wacana reshuffle harus dijawab oleh Presiden Jokowi untuk melakukan konsolidasi di jajaran kabinet guna menjawab ekspektasi publik melalui kerja-kerja nyata.

 

Gerakan Mahasiswa

Mahasiswa dalam sejarah pergerakannya, harus diakui telah menjadi kekuatan pembaharu atau perubahan. Di awal abad ke-21, misalnya, era Kebangkitan Nasional 1908, disusul Sumpah Pemuda 1928, Era Kemerdekaan 1945, Era Orde Baru 1966 dan Era Reformasi 1998 adalah contoh nyata kontribusi mahasiswa sebagai kekuatan perubahan.

Melihat keadaan saat ini, seluruh kekuatan mahasiswa diajak untuk ikut berkontribusi agar semangat dan cita-cita luhur perjuangan reformasi tetap pada rel yang benar.

Presiden Jokowi tentu tahu akan besarnya kekuatan mahasiswa. Tak heran, Presiden Jokowi mengundang badan eksekutif mahasiswa (BEM) dan organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) di Istana Negara, 19 Mei 2015, dengan menghasilkan lima kesepakatan, antara lain kesediaan Presiden Jokowi untuk membenahi segala sistem. Presiden Jokowi juga berkomitmen untuk menuntaskan persoalan ekonomi dengan mengintervensi harga bahan pokok yang berimplikasi langsung pada daya beli masyarakat kecil.

Apalagi yang dilakukan Presiden Jokowi, hampir sama yang dilakukan Presiden Soekarno, 1966. Soekarno mengundang pimpinan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Pusat, KAMI Jakarta Raya, dan KAMI UI ke Istana Merdeka, 18 Januari 1966.

Waktu itu, Cosmas Batubara sebagai salah satu Presidium KAMI Pusat tampil membacakan tuntutan mahasiswa, yang dikenal Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat), yakni Turunkan Harga; Reshuffle Kabinet Dwikora; dan Bubarkan PKI.

Dalam buku “Cosmas Batubara, Sebuah Otobiografi Politik” diterbitkan oleh penerbit buku Kompas, Maret 2007, Tritura disusun dan dirumuskan di Margasiswa I – Kantor Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Jalan Sam Ratulangi No.1 Menteng, Jakarta Pusat sekaligus dijadikan Kantor Sekretariat KAMI Pusat.

Pertanyaannya, akankah mahasiswa kembali mencatat sejarah dengan mengajukan Tritura Jilid II (minus Pembubaran PKI)? Saya melihat, situasi dan kinerja ekonomi saat ini, tampaknya menjadi alasan yang kuat bagi mahasiswa untuk menyerukan kembali tuntutan (Tritura) Jilid II.

Pertumbuhan ekonomi yang mengalami penurunan dibawah 5 persen pada kuartal pertama 2015, ditambah lagi kenaikan harga-harga seperti sembako (beras), tarif dasar listik (TDL), gas, dan lain-lainnya bisa menjadi alasan yang kuat untuk menuntut penurunan harga. Selain itu, kinerja Kabinet Kerja di era kepemimpinan Presiden Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, yang dianggap belum responsif menjawab persoalan ekonomi serta persoalan sosial dan politik saat ini juga bisa menjadi alasan bagi mahasiswa untuk menyerukan perlunya Reshufle Kabinet Kerja (Bukan Kabinet Dwikora).

Selanjutnya, meski Partai Komunis Indonesia (PKI) telah dibubarkan, namun kita masih menghadapi berbagai ancaman dalam bentuk yang lain, seperti bahaya narkoba, korupsi, radikalisme dan sejumlah hal yang berpotensi bisa mengancam keutuhan kita sebagai bangsa. Ini bisa mendorong lahirnya tuntutan ketiga. Karena itu, Tritura menjadi keniscayaan dan relevan untuk kembali disuarakan mulai hari ini.

Dan, PMKRI yang berulang tahun ke-68 pada 25 Mei 2015, mesti kembali aktif menorehkan sejarahnya seperti tahun 1966 untuk turut berkontribusi memajukan dan menata bangsa ini melalui Tritura Jilid II. Selamat berjuang!!!

 

*) **) Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Katolik

*) Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Katolik

**) Presidium Gerakan Kemasyarakatan Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Periode 2004-2006;

 

 

(Catatan: Artikel ini pernah dikirim ke Harian Kompas tanggal 25 Mei 2015)

Sticky
0