Login
or
Register

Semboyan

Pro Ecclesia Et Patria

Semboyan indah dan menggetarkan setiap aktifis Gereja Katolik Indonesia. Lahir dari buah pemikiran Rm Van Lith; utk sebuah mision menjadi Katolik yang utuh di Republik Indonesia. Atas jasanya Pemerintah Indonesia menganugerahkan Satya Lancana atas Sistem Pendidikan Berasrama dengan Kombinasi Budaya Indonesia (Jawa) yang Memiliki Pengaruh Besar pada Keberimanan 100% Indonesia dan 100% Katolik. Selanjutnya semboyan inilah yang menjadi fundamental keimanan warga Katolik Indonesia.

Gagasan Van Lith ini menjadi nyata setelah satu dari muridnya menjadi Uskup Pribumi Perdana di Nusantara; Mgr. Albertus¬† Soegipranata, SJ. dan menggaungkan semangat Pro Ecclesia Et Patria sebagai ‘cara menggereja’.

Seorang muridnya, IJ. Kasimo mendirikan Partai Katolik, yang berskala Nasional di tahun 1924.

Di Tahun yang sama, 1924 juga berdiri Wanita Katolik Republik Indonesia, buah karya para ‘perempuan sekolah Mendoet’ yang juga dalam binaan formatio Rm Van Lith.

Muridnya yang lain di tahun 1945 membentuk organisasi Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia (AMKRI) yang kelak menjadi Pemuda Katolik; Aloysius Sartono Kartodirdjo.

Ada juga muridnya kemudian membentuk organisasi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI); Stephanus Munadjat Danuseputra pada tahun 1947.

Pada tahun 1958, seorang lagi muridnya membentuk Ikatan Katolik Sarjana (IKS) kelak menjadi Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA); Lo Shiang Hien Ginting bersama dengan sarjana dan cendekiawan lainnya.

Serta dua orang muridnya lagi membentuk Universitas Katolik Atmajaya. Lo Shiang Hien Ginting dan Frans Seda pada tahun 1960.

Murid-murid Rm Van Lith, seantero Nusantara dari berbagai etnis dan suku menyatu meneladani diri menjadi Katolik Indonesia.

Pro Ecclesia Et Patria, secara tegas ditunjukkan dan didengungkan hingga populer di kalangan masyarakat Katolik saat Indonesia diambang perpecahan ke dalam bentuk negara Federasi.

Pilihan Mgr. Soegijapranata, SJ mengalihkan diri dari Semarang (tahta Keuskupan) menuju Yogyakarta (wilayah Republik Indonesia) adalah sikap heroik yang kelak dikenang sejarah bahwa warga Katolik Indonesia adalah bagian nyata dari perjuangan mempertahankan Negara 17 Agustus 1945. Sikap politik Gereja Katolik Indonesia yang mendapat dukungan nyata dari Tahta Suci, dengan memberikan pengakuan kepada Republik Indonesia lewat kunjungan Delegasi Apostolik pada 1947.

Para kusuma bangsa, martir dan pejuang Gereja Katolik Indonesia dengan gagah perwira menunjukkan keberpihakan yang tidak populer bahkan bukan tanpa resiko. Empat orang di antaranya bergelar Pahlawan Nasional IJ. Kasimo, Soegijapranata, Cornel Simanjuntak dan Yos Soedarso.

Pro Ecclesia Et Patria bukan sekedar slogan pembangkit gairah. Melainkan nyata menjadi roh penyemangat yang menjadi panduan pergerakan kita. Menjadi spirit setiap situasi suka dan duka, senasib sepenanggungan dalam mewujudkan Kerajaan Allah di Nusantara.

Tentu, menjadi Katolik kita bisa di mana saja; tetapi menjadi Indonesia, hanya di tempat ini. Tanah tumpah darah kita. Di sini di tempat kita berdiri, menjadi pandu Ibu Pertiwi. Pilihan kita sebagai warga Katolik Indonesia adalah tetap utuhnya NKRI. Pro Ecclesia Et Patria

#untuk kalangan KiTa sendiri.
#22 Djuli 2017
#haul54thmgrsoegijapranata

http://wiki.eanswers.com/id/Albertus_Soegijapranata

Comments are closed.