Login
or
Register

Author Archives Asta Ivo Bonny

About Asta Ivo Bonny

Pengurus Pusat Pemuda Katolik Departemen Komunikasi dan Informatika.
astaivo91@gmail.com

August 31, 2016

Marcus Budi Nahkodai Pemuda Katolik Bandar Lampung

IMG-20160827-WA0009

Peserta Mapenta dan Muskomda Pemuda Katolik Komda Lampung (dok.Pribadi)

BANDAR LAMPUNG – Marcus Budi resmi dipilih sebagai Ketua Pemuda Katolik (PK) Bandar Lampung dalam Musyawarah Komisariat Daerah (Muskomda) yang digelar di Wisma Albertus Bandar Lampung, Sabtu (27/8).

Selasa (30/8) Marcus mengatakan, momen pemilihan ketua umum Pemuda Katolik kali ini berjalan atas dasar prinsip demokratis tanpa ditunggangi kepentingan-kepentingan pragmatis sesaat.

“Moment penting muskomda yang berjalan sesuai prinsip-perinsip demokratis, fair dan jauh dari kepentingan-kepentingan sesaat. Hal ini tentu menjadi pijakan dan dasar yang kuat untuk menentukan langkah penting organisasi untuk tiga tahun kedepan”, ujar Marcus.

Menurutnya, kehadiran Pemuda Katolik selama ini memang ada, tetapi belum menunjukkan taring dalam memberikan sumbangsih bagi peradaban bangsa dan tanah air. Karena itu, kesempatan tersebut kata markus, mesti dipergunakan sebaik-baiknya menuju visi yang luhur bersama di dalam kiprahnyadalam kehidupan bernegara.

“PK ada namun tak nampak. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri agar PK kembali bangkit dan kiprahnya semakin hadir di tengah-tengah masyarakat,” ungkap Ketua Presidium PMKRI B.Lampung periode 2001/2002 itu.

Sementara itu perwakilan dari Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma menegaskan bahwa saat ini Pemuda Katolik akan melakukan konsolidasi besar-besaran. Karena itu, kata dia, dibutuhkan komitmen dan keseriusan para kader untuk memberikan yang terbaik bagi kehidupan masyarakat.

“PK sedang menjalin konsolidasi besar-besaran. Dibutuhkn komitmen dan kerelaan untuk mebangun, berhimpun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan,” ungkap Gusma.

Hal senada ditegaskan kembali oleh anggota DPD RI Ir. Anang Priantoro agar kehadiran Pemuda Katolik senantiasa bisa membawa perubahan khusunya dalam arah pembangunan bangsa saat ini.

“Indonesia 2020 adalah pijakan menuju indonesia emas 2045. Ini Menjadi tonggak bangkitnya PK, agar peran dan kontribusinya lebih terhadap pembangunan. Tentu dengan kunci pendidikan dan kaderisasi. PK harus mengawal pembngunan desa dan harus menjadi pelaku utama di dalam masyarakat,” ungkapnya.

Meskipun saat ini secara kelembagaan di Lampung Pemuda Katolik kurang mendapat respon, tetapi kaderisasi internal sudah berjalan dengan baik.

“PK diharapkan segera menyikapi kondisi ini sehingga dampaknya lebih nyata dalam masyarakat,” ungakp Palgunadi yang mewakili alumni.

Kegiatan Muskomda tersebut dihadiri oleh Pengurus PK Stefanus Asat Gusma, Kikin Tarigan, Ganjar dan Koordinator Kerawam Keuskupan Romo Philipus Roy Suryo beserta alumni dan Anggota DPD RI yang membuka secara resmi kegiatan Muskomda. Selain itu, hadir juga 8 komisariat cabang (komcab) dari 12 komcab definitif, yaitu Komcab Bandar Lampung, Lampung Timur, Lampung Selatan, Pringsewu, Lampung Tengah, Pesawaran dan Masuji.

 

Sumber : indonesiasatu.co

Sticky
0
August 29, 2016

KASUS TEROR BOM DAN PENYERANGAN PASTOR HARUS DIUSUT TUNTAS

Medan – MENANGGAPI peristiwa penyerangan yang melukai tangan Pastor Albert S. Pandingan OFMCap dan teror bom di Gereja Santo Yosep Medan, Sumatera Utara, Minggu, 28/8, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik, Karolin Margret Natasa mengecam keras kejadian tersebut.
Walaupun tidak mengakibatkan adanya korban jiwa dan pelaku terkesan amatiran, peristiwa penyerangan dan teror bom ini menurut anggota DPR RI 2014-2019, Komisi IX, Fraksi PDI Perjuangan ini tidak boleh dianggap sepele. Bagi Karolin, aparat harus mengusut tuntas kasus tersebut supaya dapat diketahui kejelasannya, sebagai aksi tunggal atau bagian dari gerakan kelompok lebih besar yang kemungkinan sedang berkembang di Indonesia. “Termasuk apakah suatu kebetulan atau tidak, hal ini terjadi setelah sebelumnya ada kejadian di Tanjung Balai yang juga telah menodai keberagaman dan toleransi di Indonesia,” ungkapnya kepada HIDUPKATOLIK.com ketika dihubungi melalui email, Minggu, 28/8.
Pembukaan Rakernas 20
Karolin Margret Natasa
Sumber: [Pemuda Katolik]
Menurut perempuan kelahiran Mempawah, Kalimantan Barat, 12 Maret 1982 ini, aksi penyerangan pastor dan teror bom tersebut bisa jadi diakibatkan oleh budaya intoleransi kehidupan beragama yang menjadi ancaman serius bagi persatuan dan keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Dan supaya tidak terulang kembali, Karolin berharap kasus tersebut disikapi secara serius oleh seluruh pihak sehingga dapat tuntas dan jelas motif pelakunya. “Sehingga ke depan penyerangan dan teror bom jangan terjadi lagi di Indonesia ,” tegas Karolin.
Tanggapan juga datang dari Romo Antonius Benny Susetyo. Menurutnya, peristiwa penyerangan pastor dan teror bom di Medan ini mengingatkan kembali kepada masyarakat akan budaya kekerasan yang merusak keadaban kemanusian dan menghancurkan martabat kehidupan.
Romo Antonius Benny Susetyo
Sumber: [HIDUP/Stanislaus Hendro Budiyanto]
Supaya peristiwa penyerangan dan teror bom ini tidak terjadi lagi, Romo Benny berharap masyarakat bergerak memutus tali kekerasan dengan gerakan cinta kehidupan. “Selain itu, perlu juga diadakan pendidikan literasi media sosial kepada anak muda, agar para anak muda tidak mudah dirasuki paham-paham radikal,” ungkap Romo Benny lewat pesan pendek kepada HIDUPKATOLIK.com, Minggu sore, 28/8.
Menurut Romo Benny, yang tidak kalah penting untuk dilakukan segenap pihak sebagai upaya untuk mengatasi kejadian-kejadian teror ini, yaitu dengan cara memutus tali kekerasan intoleransi dengan menyebarkan paham “agama ke indonesiaan”. “Caranya dengan memperkuat kesadaran hidup berbangsa dan bernegara, juga menjadikan Pancasila sebagai habitus bangsa,” pesannya.

Sumber : Hidupkatolik.com

Sticky
0
August 28, 2016

Pemuda Katolik dan PMKRI Kecam Bom Bunuh Diri di Medan

Katoliknews.com – Pemuda Katolik dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) sangat menyayangkan dan mengutuk keras upaya percobaan bom bunuh diri dan penyerangan di Gereja Katholik Stasi St Yosef, Medan pada Minggu, 28 Agustus 2016.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini dan mengutuk keras,” kata Hotdiman Manik, Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Sumatera Utara dalam konferensi pers di Medan, Minggu.

“Pemuda Katolik sangat menyayangkan kecolongan dari pihak keamanan di Sumatera Utara sehingga tidak bisa mengantisipasi peristiwa ini dari awal,” lanjutnya.

Hotdiman menilai kejadian ini telah merusak situasi toleransi umat beragama di Sumatera Utara.

Padahal, kata dia, selama ini, hubungan antara umat beragama dan situasi toleransi sangat terjaga dengan baik.

“Kami sangat mengharapkan pihak keamanan mengusut tuntas kejadian ini. Kami yakin komplotan teroris di Sumatera Utara ini sudah terbangun dengan rapi dan tidak bisa dipandang enteng,” jelasnya,

Sementara Rikson Wesli Sihotang, Ketua Presidium PMKRI Cabang Medan, meminta masyarakat agar tetap tenang dan bijak dalam menanggapi kejadian ini.

Penganut umat beragama khususnya umat Katolik, kata dia, tidak boleh terprovokasi dengan kasus ini.

“Saya berharap masyarakat tetap tenang dan menjaga situasi tetap kondusif dan saling membantu dan kerja sama dalam memberantas dan mencegah berbagai aksi bom bunuh dan gerakan terorisme lainnya. Kita percayakan penyelesaikan kasus ini pada pihak keamanan sembari kita membantu mereka,” harap Rikson.

Sumber : katoliknews.com

Sticky
0
August 28, 2016

Pemuda Katolik Desak Pihak Keamanan Usut Tuntas Percobaan Bom Bunuh Diri di Medan

IMG-20160828-WA0032

Pengurus Pemuda Katolik Komda Sumut bersama Romo Albert Pandiangan(dok. Komda Sumut)

Medan – Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Sumatera Utara sangat menyayangkan dan mengutuk keras upaya percobaan bom bunuh diri dan penyerangan terhadap Pastor Albert Pandiangan di Gereja Katholik Stasi St Yoseph Jl Dr Mansur Nomor 75 Medan, Minggu (28/8) pukul 08.30 WIB.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini dan mengutuk keras. Pemuda Katolik sangat menyayangkan kecolongan dari pihak keamanan di Sumatera Utara sehingga tidak bisa mengantisipasi peristiwa ini dari awal,” ujar Ketua Pemuda Katolik Komda Sumut Hotdiman Manik dalam konferensi pers di Medan, Minggu (28/8).

Dalam konferensi pers ini, Hotdiman didampingi oleh Wakil Ketua Pemuda Katolik Komda Sumut Binsar Simarmata, Ketua Presidium PMKRI Cabang Medan, Rikson Wesli Sihotang, Sekjen PMKRI Cabang Medan, Doharman Maharaja, Ketua Pemuda Katolik Cabang Medan, Jansen Sihaloho, dan Ketua KMK Unimed, Susilowati Sinulingga.

Hotdiman menilai kejadian ini telah merusak situasi toleransi umat beragama di Sumatera Utara. Padahal, kata dia, selama ini, hubungan antara umat beragama dan situasi toleransi sangat terjaga dengan baik. “Kami sangat mengharapkan pihak keamanan mengusut tuntas kejadian ini. Kami yakin komplotan teroris di Sumatera Utara ini sudah terbangun dengan rapi dan tidak bisa dipandang enteng,” imbuh dia.

Sementara Rikson Wesli Sihotang meminta masyarakat agar tetap tenang dan bijak dalam menanggapi kejadian ini. Penganut umat beragama khususnya umat katolik tidak boleh terprovokasi dengan kasus ini. “Saya berharap masyarakat tetap tenang dan menjaga situasi tetap kondusif dan saling membantu dan kerja sama dalam memberantas dan mencegah berbagai aksi bom bunuh dan gerakan terorisme lainnya. Kita percayakan penyelesaikan kasus ini pada pihak keamanan sembari kita membantu mereka,” harap Rikson.

Berdasarkan laporan dari Polres Medan, dikatakan pada hari Minggu, 28 Agustus 2016, sekitar pukul 08.30 WIB, telah terjadi aksi teror di dalam Gereja Katholik Stasi St Yoseph Jl Dr Mansur Nomor 75 Medan. Percobaan bom bunuh diri dilakukan oleh tersangka Ivan Armadi. Tidak ada korban dalam percobaan bom bunuh diri ini kecuali pelaku sendiri akibat ledakan bom.

Sumber : Beritasatu.com

Sticky
0
August 27, 2016

Pemuda Ahmadiyah Sambangi Pemuda Katolik

PEMUDA AHMADIYAH SAMBANGI PEMUDA KATOLIK

PP Pemuda Ahmadiyah dan PP Pemuda Katolik berfoto bersama usai pertemuan (Dok.Pemuda katolik)

Jakarta – KAMIS, 25/8, malam lalu, Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik menerima tamu rombongan dari PP Pemuda Ahmadiyah atau Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia. Karena markas Pemuda Katolik di Duta Merlin sedang direnovasi, maka PP Pemuda Katolik meminjam salah satu ruang pertemuan Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Cikini, Jakarta untuk menerima tamu mereka.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PP Pemuda Ahmadiyah, Zaki Firdaus Syahid mengaku senang atas keterbukaan Pemuda Katolik. Zaki mengatakan, selama ini Pemuda Ahmadiyah memandang Katolik dan organisasi pemudanya sebagai elemen penting bangsa yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian dan keadilan lewat usaha nyata, serta berupaya memajukan bangsa bahkan dunia ke tingkat yang lebih baik lagi. “Apresiasi yang tinggi kami sampaikan atas karya nyata ini,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan dari PP Pemuda Katolik, Kikin P. Tarigan S. dan Fredy Yusti Tulis mengawali pertemuan itu dengan cerita seputar kiprah Pemuda Katolik dalam perjalanan bangsa Indonesia. Keduanya juga memberikan gambaran tentang Gereja Katolik secara umum. Pemuda Katolik sebagai anak yang lahir dari rahim Gereja berjuang untuk nilai-nilai keutamaan dan universal seperti perdamaian dan keadilan. “Ini penting disampaikan, agar teman-teman dari PP Pemuda Ahmadiyah, lewat pemaparan ini bisa mengenal tentang Katolik dan arah perjuangan PP Pemuda Katolik,” ujar Fredy.
Seusai pemaparan dari PP Pemuda Katolik, perwakilan PP Ahmadiyah juga menceritakan tentang kekhasan dan aktivitas PP Ahmadiyah. Mereka juga menceritakan tentang kronologi penolakan terhadap Ahmadiyah di Indonesia.
Dalam silahturami yang berlangsung sekitar dua jam itu, Sekretaris Jenderal PP Pemuda Katolik, Christopher Nugroho menegaskan bahwa PP Pemuda Katolik membuka pintu lebar-lebar untuk dialog seputar isu-isu kebangsaan, perdamaian, keadilan dan kemanusiaan. “Termasuk kalau teman-teman mengajak kita futsal, juga boleh,” canda Christopher disambut gelak tawa hadirin.
Christopher menilai perjumpaan, dialog, dan komunikasi yang terjadi malam itu menjadi sebuah keniscayaan antara organisasi pemuda untuk merawat kemajemukan Indonesia. Ia juga menyambut baik pertemuan itu sebagai wujud komitmen untuk merajut dan merawat pluralitas.
Di akhir acara, Zaki, mewakili PP Pemuda Ahmadiyah mengucapkan rasa terima kasih kepada Pemuda Katolik yang telah berkenan menyambut mereka. Sebelum berkunjung ke PP Pemuda Katolik, pada Februari 2016 PP Pemuda Ahmadiyah juga pernah berkunjung ke GP Anshor.
Sticky
0
August 01, 2016

Pemuda Katolik: Peristiwa di Tanjung Balai Nodai Kerukunan

Medan – Pemuda Katolik menyesali peristiwa kerusuhan di Tanjung Balai, Sumatera Utara pada Jumat, 29 Juli 2016 yang menyebabkan sejumlah vihara dan klenteng dibakar.

“Kami menyesalkan insiden tersebut karena menodai kerukunan dan persatuan,” tegas Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Karolin Margret Natasa, Sabtu, 30 Juli, sebagaimana dilansir Jpnn.com.

Menurut Karolin, apabila semua pihak mengedepankan musyawarah dan semangat kebersamaan maka sesungguhnya insiden tersebut tidak akan terjadi.

Karena itu, anggota DPR RI dari PDIP Perjuangan ini mengimbau semua pihak untuk selalu mengedepan musyawarah dan kebersamaan dalam semangat nilai-nilai Pancasila.

Untuk mencegah terulangnya insiden tersebut, Karolin mengingatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di setiap tingkatan untuk lebih berperan aktif membangun komunikasi dan hubungan yang harmonis antarumat beragama.

“Forum komunikasi umat beragama harus diefektifkan agar secara dini bisa mendeteksi dan mencegah terjadinya insiden serupa,” tegas Karolin.

Karolin menegaskan agar semua pihak, yakni pemerintah pusat, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk aktif mencegah dan terus membangun kehidupan masyarakat yang rukun dan damai.

“Potensi (konflik, red) harus dicegah agar percikannya tidak meluas yang dapat mengangggu kebersaman dan persatuan sebagai bangsa,” kata Karolin.

Sebagaimana dilaporkan BBC Indonesia, insiden pembakaran sejumlah vihara dan klenteng mulai meletus Jumat menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.00.

“Ada enam vihara dan kelenteng yang diserang beberapa ratus warga. Namun kebanyakan, pembakarannya dilakukan pada alat-alat persembahyangan, dan bangunannya sendiri tidak terbakar habis,” kata juru bicara Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Kombes Rina Sari Ginting kepada BBC Indonesia.

Ia menambahkan, amukan orang-orang yang sebagian adalah anak muda itu berlangsung beberapa jam, dan mulai membubarkan diri sekitar pukul 04.30.

“Namun bakar-bakarannya sendiri, tak berlangsung lama, karena yang dibakar adalah barang-barang persembahyangan. Misalnya dupa, gaharu, lilin, minyak dan kertas, patung Budha, gong dan perabotan seperti meja, kursi, lampu, lampion. Bangunan-bangunannya sendiri, terbakar sedikit.”

Suasana saat terjadi kerusahan di Tanjung Balai. (Foto: www.jawapos.com)
Suasana saat terjadi kerusahan di Tanjung Balai. (Foto: www.jawapos.com)

Ketegangan dilaporkan bermula saat menjelang shalat Isya, Meliana, seorang perempuan Tionghoa berusia 41 tahun meminta agar pengurus Masjid Al Maksum di lingkungannya mengecilkan volume pengeras suaranya.

Sesudah shalat Isya, sekitar pukul 20.00 sejumlah jemaah dan pengurus mesjid mendatangi rumah Meliana. Lalu atas prakarsa Kepala Lingkungan, Meliana dan suaminya dibahwa ke kantor lurah.

Namun suasana mulai memanas. Karena itu, Meliana dan suaminya kemudian ‘diamankan’ ke Polsek Tanjung Balai Selatan.

“Di kantor Polsek lalu dilakukan pembicaraan yang melibatkan Camat, Kepala Lingkungan, tokoh masyarakat, Ketua MUI, dan Ketua FPI setempat,” kata Rina Ginting.

Ia mengaku belum tahu, mengapa FPI dilibatkan. “Tapi di luar, massa mulai banyak berkumpul, dengan banyak mahasiswa, mereka melakukan pula orasi-orasi. Tapi kami bisa menghimbah mereka dan mereka pun membubarkan diri.’

Namun katanya, dua jam kemudian massa berkumpul lagi, kemungkinan akibat pesan di media sosial.

Mereka lalu mendatangi rumah Meliana dan bermaksud membakarnya namun dicegah oleh warga sekitar.

Sesudah itu, kata dia, massa yang semakin banyak dan semakin panas bergerak menuju Vihara Juanda yang berjarak sekitar 500 meter dan berupaya utk membakarnya tapi dihadang oleh para petugas Polres Tanjung Balai. Massa yang marah lalu melempar vihara itu dengan batu.

“Lalu massa bergerak ke tempat lain, yang ternyata melakukan pembakaran di beberapa vihara dan kelenteng, yang jaraknya berdekatan,” papar Rina Ginting.

Ia membantah bahwa polisi melakukan pembiaran saat peristiwa itu terjadi.

Sticky
0
July 04, 2016

Jelang Idul Fitri Pemuda Katolik Bali Gelar Pasar Murah

Pasar Murah Komda Bali

Pasar Murah Komda Bali (dok. Pemuda Katolik Komda Bali)

Denpasar, Pemuda Katolik Komisariat Daerah Bali menggelar pasar murah pada Minggu (3/7/2016). Bertempat di halaman Gereja Katolik St. Petrus Monang ManingJl. Gunung Batok I No. 1, Denpasar – Bali, acara pasar murah ini terbuka bagi masyarakat umum khususnya bagi yang berdomisili di sekitar Gereja. Acara ini digelar mulai pukul 09.00 – 11.00 Wita.

Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah Bali Herman Umbu Billy, ST. mengatakan  tujuan digelarnya pasar murah ini adalah membantu Rakyat dan Pemerintah menstabilkan harga sembako. Jelang hari raya khususnya di bulan Ramadhan banyak spekulan memainkan harga kebutuhan pokok menjelang hari raya Idul Fitri.
“Dengan adanya pasar murah ini dharapkan bisa membantu saudara-saudara yang akan berhari raya, paling tidak bisa bebrelanja kebutuhan dengan harga yang stabil,” kata pria yang akrab disapa umbu ini.
Gereja Katolik St. Petrus Monang Maning. dipilih sebagai lokasi Pasar Murah karena Gereja ini terletak ditangah – tengah pemukiman masyarakat umum. Kemajemukan dan kebhinekaan benar – benar dirasakan. Apalagi warga sekitar yang non katolik juga turut ambil bagian dengan turut menjaga keamanan selama berlangsungnya pasar murah.
“Luar biasa suasana kebinekaan di Monang-maning ini, kerukunan sangat terlihat selama kegiatan. Semoga bisa ditiru oleh saudara-saudara di tempat lain,” kata Umbu. Acara ini dapat berlangsung tidak lepas dari kerjasama dengan Kodam IX Udayana, Keuskupan Denpasar serta sejumlah organisasi dan lembaga masyarakat lainnya.
Sticky
0
June 13, 2016

Pemuda Katolik Surabaya dan Sidoarjo Berseru : Jangan Ganggu Pancasila!

Foto bersama Gus Ipul

Pengurus Pemuda Katolik Komcab Surabaya, Komcab Sidoarjo, Ketua Komda Jawa Timur bersama pemateri dan Wakil Gubernur Jawa Timur (Dok.Komcab Surabaya)

SURABAYA – Ditetapkannya tanggal 1 Juni sebagai Hari Kelahiran Pancasila oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu, membarakan semangat para pemuda untuk menjaga Pancasila.

Beberapa di antaranya adalah Pemuda Katolik Surabaya dan Pemuda Katolik Sidoarjo yang kemudian menggelar talkshow kebangsaan bertajuk “Jangan Ganggu Pancasila”, Minggu (12/6/2016).

Mereka mendatangkan 3 narasumber: anggota DPR RI, Eva Kusuma Sundari, Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), Aan Anshori, dan Ketua Komisariat Daerah Pemuda Katolik Jawa Timur, Agatha Retnosari.

Talkshow digelar di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).

Ketua Panitia, Andreas Erick Lega, mengatakan, acara ini untuk memberikan semangat kepada pemuda supaya bersama-sama menjaga Pancasila dari kelompok yang anti Pancasila.

“Pancasila adalah dasar negara, pedoman hidup, jiwa dan kepribadian bangsa, sumber hukum, cita-cita bangsa dan pandangan hidup. Pemuda Katolik adalah organisasi yang berazaskan Pancasila dan cinta Indonesia,” ujar pria yang juga menjabat Ketua Komisariat Cabang Pemuda Katolik Surabaya itu.

Mereka juga terus berusaha mengamalkan nilai luhur Pancasila di tengah masyarakat, salah satunya dengan talkshow yang dihadiri berbagai elemen masyarakat.

Sedangkan Eva Sundari mengatakan, talkshow tersebut menjadi wadah kaum muda untuk mengawal Pancasila dari segala ancaman.

“Saat ini di seluruh Indonesia ada 980 Perda diskriminatif. Perda ini sebagian besar menjadikan perempuan dan anak sebagai obyek kebijakan pemerintah daerah,” terang kader PDI Perjuangan ini.

Rektor UKWM, Kuncoro Foe, mengatakan acara tersebut sesuai dengan visi universitas untuk membentuk komunitas akademik reflektif berbasis Pancasila.

“Pancasila butuh untuk digaungkan sehingga keadilan sosial di negeri ini kembali terwujud. Namun tentu tidak bisa instan, harus perlahan-lahan agar hasilnya juga maksimal,” ujarnya.

Acara tersebut dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf yang mengutarakan harapan agar Pancasila dapat menginspirasi dunia.

sumber : tribunnews.com

Sticky
0
May 18, 2016

Pemuda Katolik Akan Gelar Rapimnas di Solo

030121_881821_Walkot_Solo

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo saat audiensi dengan Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Pemuda Katolik Cabang Solo dan Panitia Rapimnas I Pemuda Katolik, Selasa (17/5). Rapimnas I Pemuda Katolik akan dilaksanakan di Kota Solo, Nopember 2016 mendatang. FOTO: DOK.Pemuda Katolik

 SOLO – Dalam rangka persiapan sebagai tuan rumah Rapimnas 2016, Pemuda Katolik Cabang Surakarta, Selasa (17/5), melakukan audiensi dengan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo di Balaikota. Dalam audiensi kali ini juga hadir Pengurus Pusat Pemuda Katolik.

Ketua Pemuda Katolik Cabang Surakarta, Antonius Bambang Tri mengatakan audiensi kali ini sengaja dilaksanakan untuk meminta masukan dan pandangan dari Wali kota terkait rencana pelaksanaan Rapimnas 2016 Pemuda Katolik yang akan digelar November tahun ini.

Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Gusma menjelaskan Rapimnas yang akan diselenggarakan di Solo merupakan amanat Kongres Pemuda Katolik Batam tahun 2015 lalu. Rapimnas ini juga merupakan ruang konsolidasi organisasi untuk mengejawantahkan hasil-hasil ketetapan Kongres dan Rakernas.

Menurut Gusma, salah satu yang akan dibahas adalah keterlibatan pemuda dalam pembangunan nasional berbasis desa, isu-isu kesejahteraan sosial, implementasi Pancasila dan nasionalisme.

Selain Gusma juga hadir dari Jakarta Ketua Bidang Politik Pengurus Pusat Fredi Tulis dan Wakil Sekjen Pengurus Pusat Ignatius Ganjar.

Wali Kota Solo menyambut baik rencana kegiatan organisasi nasional ini. Sebagai senior dan pemimpin daerah, Rudi mengimbau agar persiapan dilakukan sebaik mungkin. Selain misi internal organisasi, kegiatan Rapimnas ini harus lebih memperkenalkan Solo sebagai kota budaya yang masyarakatnya gotong royong, ramah dan toleran.

Ketua Panitia Rapimnas Bambang Mejik Margono menambahkan kepanitiaan yang sudah terbentuk akan melibatkan seluruh jaringan umat dan masyarakat. Kegiatan ini mengangkat tema seputar nasionalisme dan kebangsaan dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang profesi baik pengamat tingkat nasional maupun pejabat di tingkat pusat.

Rapimnas, kata dia, akan dihadiri oleh perwakilan Pemuda Katolik dari seluruh Indonesia.

sumber : jpnn.com

Sticky
1
April 25, 2016

Banyak Aparatur Desa Belum Kompeten, Pemuda Katolik Siap Turun Dampingi Desa

182954720160424IDO-2-780x390

Karolin Margret Natasa, Ketua Pusat Pemuda Katolik, dan Sekretaris Jendral Pemuda Katolik Christopher Nugroho saat diterima masyarakat di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Pemuda Katolik melaksanakan rapat kerja nasional di Lamandau selama beberapa hari. dok. Pemuda Katolik

Lamandau – Pendampingan aparatur desa untuk memperbaiki kualitas pembangunan bangsa terus didorong. Di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, dari 85 desa hanya terdapat 20 desa yang aparatur desanya memenuhi syarat.

Sisanya, banyak aparatur desa yang lama pendidikan rata-rata 7,2 tahun atau setara sekolah menengah pertama.

Hal itu terungkap saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pemuda Katolik di Lamandau, Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu. Kegiatan tersebut juga diikuti oleh organisasi pemuda seperti Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Palangkaraya.

Rakernas tersebut dimulai pada 19 sampai 22 April 2016 dan menghasilkan tiga sikap Pemuda Katolik, meliputi pembangunan desa, pilkada, dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sikap tersebut juga kemudian dilaporkan ke beberapa lembaga kementerian terkait.

“Harus ada perhatian khusus di desa untuk menjadi sentra pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan,” ungkap Ketua Umum Pemuda Katolik Pusat Karolin Margret Natasa saat dihubungi dari Palangkaraya, Minggu (24/4/2016).

Sekretaris Jendral Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan Indonesia (ADIPSI) Gregorius Sahdan mengatakan, masih banyak aparatur desa yang tidak memahami fungsi dan tugas mereka.

Sebagian besar desa-desa di Indonesia tidak memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dan sebagian besar kepala desa belum bisa membuat laporan pertanggungjawaban.

“Sudah menjadi tugas pemerintahan setingkat di atasnya seperti kecamatan dan kabupaten untuk mendampingi, tetapi ini dikomersilkan,” ungkap Sahdan.

Untuk mendapatkan pengetahuan soal sistem administrasi, aparatur desa harus merogoh kocek dengan meminta staf atau pegawai di tingkat kecamatan atau kabupaten untuk datang membantu. Padhal, hal itu diatur dalam undang-undang dan pemerintah desa tidak perlu mengeluarkan uang.

“Upaya Pemuda Katolik untuk mewujudkan pembangunan desa yang baik adalah dengan menggunakan kader-kader mereka yang ada di setiap daerah sampai tingkatan desa,” tutup Karolin.

Sumber :kompas.com

Sticky
0