Login
or
Register

Author Archives Asta Ivo Bonny

About Asta Ivo Bonny

Pengurus Pusat Pemuda Katolik Departemen Komunikasi dan Informatika.
astaivo91@gmail.com

August 01, 2016

Pemuda Katolik: Peristiwa di Tanjung Balai Nodai Kerukunan

Medan – Pemuda Katolik menyesali peristiwa kerusuhan di Tanjung Balai, Sumatera Utara pada Jumat, 29 Juli 2016 yang menyebabkan sejumlah vihara dan klenteng dibakar.

“Kami menyesalkan insiden tersebut karena menodai kerukunan dan persatuan,” tegas Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Karolin Margret Natasa, Sabtu, 30 Juli, sebagaimana dilansir Jpnn.com.

Menurut Karolin, apabila semua pihak mengedepankan musyawarah dan semangat kebersamaan maka sesungguhnya insiden tersebut tidak akan terjadi.

Karena itu, anggota DPR RI dari PDIP Perjuangan ini mengimbau semua pihak untuk selalu mengedepan musyawarah dan kebersamaan dalam semangat nilai-nilai Pancasila.

Untuk mencegah terulangnya insiden tersebut, Karolin mengingatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di setiap tingkatan untuk lebih berperan aktif membangun komunikasi dan hubungan yang harmonis antarumat beragama.

“Forum komunikasi umat beragama harus diefektifkan agar secara dini bisa mendeteksi dan mencegah terjadinya insiden serupa,” tegas Karolin.

Karolin menegaskan agar semua pihak, yakni pemerintah pusat, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk aktif mencegah dan terus membangun kehidupan masyarakat yang rukun dan damai.

“Potensi (konflik, red) harus dicegah agar percikannya tidak meluas yang dapat mengangggu kebersaman dan persatuan sebagai bangsa,” kata Karolin.

Sebagaimana dilaporkan BBC Indonesia, insiden pembakaran sejumlah vihara dan klenteng mulai meletus Jumat menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.00.

“Ada enam vihara dan kelenteng yang diserang beberapa ratus warga. Namun kebanyakan, pembakarannya dilakukan pada alat-alat persembahyangan, dan bangunannya sendiri tidak terbakar habis,” kata juru bicara Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Kombes Rina Sari Ginting kepada BBC Indonesia.

Ia menambahkan, amukan orang-orang yang sebagian adalah anak muda itu berlangsung beberapa jam, dan mulai membubarkan diri sekitar pukul 04.30.

“Namun bakar-bakarannya sendiri, tak berlangsung lama, karena yang dibakar adalah barang-barang persembahyangan. Misalnya dupa, gaharu, lilin, minyak dan kertas, patung Budha, gong dan perabotan seperti meja, kursi, lampu, lampion. Bangunan-bangunannya sendiri, terbakar sedikit.”

Suasana saat terjadi kerusahan di Tanjung Balai. (Foto: www.jawapos.com)
Suasana saat terjadi kerusahan di Tanjung Balai. (Foto: www.jawapos.com)

Ketegangan dilaporkan bermula saat menjelang shalat Isya, Meliana, seorang perempuan Tionghoa berusia 41 tahun meminta agar pengurus Masjid Al Maksum di lingkungannya mengecilkan volume pengeras suaranya.

Sesudah shalat Isya, sekitar pukul 20.00 sejumlah jemaah dan pengurus mesjid mendatangi rumah Meliana. Lalu atas prakarsa Kepala Lingkungan, Meliana dan suaminya dibahwa ke kantor lurah.

Namun suasana mulai memanas. Karena itu, Meliana dan suaminya kemudian ‘diamankan’ ke Polsek Tanjung Balai Selatan.

“Di kantor Polsek lalu dilakukan pembicaraan yang melibatkan Camat, Kepala Lingkungan, tokoh masyarakat, Ketua MUI, dan Ketua FPI setempat,” kata Rina Ginting.

Ia mengaku belum tahu, mengapa FPI dilibatkan. “Tapi di luar, massa mulai banyak berkumpul, dengan banyak mahasiswa, mereka melakukan pula orasi-orasi. Tapi kami bisa menghimbah mereka dan mereka pun membubarkan diri.’

Namun katanya, dua jam kemudian massa berkumpul lagi, kemungkinan akibat pesan di media sosial.

Mereka lalu mendatangi rumah Meliana dan bermaksud membakarnya namun dicegah oleh warga sekitar.

Sesudah itu, kata dia, massa yang semakin banyak dan semakin panas bergerak menuju Vihara Juanda yang berjarak sekitar 500 meter dan berupaya utk membakarnya tapi dihadang oleh para petugas Polres Tanjung Balai. Massa yang marah lalu melempar vihara itu dengan batu.

“Lalu massa bergerak ke tempat lain, yang ternyata melakukan pembakaran di beberapa vihara dan kelenteng, yang jaraknya berdekatan,” papar Rina Ginting.

Ia membantah bahwa polisi melakukan pembiaran saat peristiwa itu terjadi.

Sticky
0
July 04, 2016

Jelang Idul Fitri Pemuda Katolik Bali Gelar Pasar Murah

Pasar Murah Komda Bali

Pasar Murah Komda Bali (dok. Pemuda Katolik Komda Bali)

Denpasar, Pemuda Katolik Komisariat Daerah Bali menggelar pasar murah pada Minggu (3/7/2016). Bertempat di halaman Gereja Katolik St. Petrus Monang ManingJl. Gunung Batok I No. 1, Denpasar – Bali, acara pasar murah ini terbuka bagi masyarakat umum khususnya bagi yang berdomisili di sekitar Gereja. Acara ini digelar mulai pukul 09.00 – 11.00 Wita.

Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah Bali Herman Umbu Billy, ST. mengatakan  tujuan digelarnya pasar murah ini adalah membantu Rakyat dan Pemerintah menstabilkan harga sembako. Jelang hari raya khususnya di bulan Ramadhan banyak spekulan memainkan harga kebutuhan pokok menjelang hari raya Idul Fitri.
“Dengan adanya pasar murah ini dharapkan bisa membantu saudara-saudara yang akan berhari raya, paling tidak bisa bebrelanja kebutuhan dengan harga yang stabil,” kata pria yang akrab disapa umbu ini.
Gereja Katolik St. Petrus Monang Maning. dipilih sebagai lokasi Pasar Murah karena Gereja ini terletak ditangah – tengah pemukiman masyarakat umum. Kemajemukan dan kebhinekaan benar – benar dirasakan. Apalagi warga sekitar yang non katolik juga turut ambil bagian dengan turut menjaga keamanan selama berlangsungnya pasar murah.
“Luar biasa suasana kebinekaan di Monang-maning ini, kerukunan sangat terlihat selama kegiatan. Semoga bisa ditiru oleh saudara-saudara di tempat lain,” kata Umbu. Acara ini dapat berlangsung tidak lepas dari kerjasama dengan Kodam IX Udayana, Keuskupan Denpasar serta sejumlah organisasi dan lembaga masyarakat lainnya.
Sticky
0
June 13, 2016

Pemuda Katolik Surabaya dan Sidoarjo Berseru : Jangan Ganggu Pancasila!

Foto bersama Gus Ipul

Pengurus Pemuda Katolik Komcab Surabaya, Komcab Sidoarjo, Ketua Komda Jawa Timur bersama pemateri dan Wakil Gubernur Jawa Timur (Dok.Komcab Surabaya)

SURABAYA – Ditetapkannya tanggal 1 Juni sebagai Hari Kelahiran Pancasila oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu, membarakan semangat para pemuda untuk menjaga Pancasila.

Beberapa di antaranya adalah Pemuda Katolik Surabaya dan Pemuda Katolik Sidoarjo yang kemudian menggelar talkshow kebangsaan bertajuk “Jangan Ganggu Pancasila”, Minggu (12/6/2016).

Mereka mendatangkan 3 narasumber: anggota DPR RI, Eva Kusuma Sundari, Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), Aan Anshori, dan Ketua Komisariat Daerah Pemuda Katolik Jawa Timur, Agatha Retnosari.

Talkshow digelar di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).

Ketua Panitia, Andreas Erick Lega, mengatakan, acara ini untuk memberikan semangat kepada pemuda supaya bersama-sama menjaga Pancasila dari kelompok yang anti Pancasila.

“Pancasila adalah dasar negara, pedoman hidup, jiwa dan kepribadian bangsa, sumber hukum, cita-cita bangsa dan pandangan hidup. Pemuda Katolik adalah organisasi yang berazaskan Pancasila dan cinta Indonesia,” ujar pria yang juga menjabat Ketua Komisariat Cabang Pemuda Katolik Surabaya itu.

Mereka juga terus berusaha mengamalkan nilai luhur Pancasila di tengah masyarakat, salah satunya dengan talkshow yang dihadiri berbagai elemen masyarakat.

Sedangkan Eva Sundari mengatakan, talkshow tersebut menjadi wadah kaum muda untuk mengawal Pancasila dari segala ancaman.

“Saat ini di seluruh Indonesia ada 980 Perda diskriminatif. Perda ini sebagian besar menjadikan perempuan dan anak sebagai obyek kebijakan pemerintah daerah,” terang kader PDI Perjuangan ini.

Rektor UKWM, Kuncoro Foe, mengatakan acara tersebut sesuai dengan visi universitas untuk membentuk komunitas akademik reflektif berbasis Pancasila.

“Pancasila butuh untuk digaungkan sehingga keadilan sosial di negeri ini kembali terwujud. Namun tentu tidak bisa instan, harus perlahan-lahan agar hasilnya juga maksimal,” ujarnya.

Acara tersebut dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf yang mengutarakan harapan agar Pancasila dapat menginspirasi dunia.

sumber : tribunnews.com

Sticky
0
May 18, 2016

Pemuda Katolik Akan Gelar Rapimnas di Solo

030121_881821_Walkot_Solo

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo saat audiensi dengan Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Pemuda Katolik Cabang Solo dan Panitia Rapimnas I Pemuda Katolik, Selasa (17/5). Rapimnas I Pemuda Katolik akan dilaksanakan di Kota Solo, Nopember 2016 mendatang. FOTO: DOK.Pemuda Katolik

 SOLO – Dalam rangka persiapan sebagai tuan rumah Rapimnas 2016, Pemuda Katolik Cabang Surakarta, Selasa (17/5), melakukan audiensi dengan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo di Balaikota. Dalam audiensi kali ini juga hadir Pengurus Pusat Pemuda Katolik.

Ketua Pemuda Katolik Cabang Surakarta, Antonius Bambang Tri mengatakan audiensi kali ini sengaja dilaksanakan untuk meminta masukan dan pandangan dari Wali kota terkait rencana pelaksanaan Rapimnas 2016 Pemuda Katolik yang akan digelar November tahun ini.

Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Gusma menjelaskan Rapimnas yang akan diselenggarakan di Solo merupakan amanat Kongres Pemuda Katolik Batam tahun 2015 lalu. Rapimnas ini juga merupakan ruang konsolidasi organisasi untuk mengejawantahkan hasil-hasil ketetapan Kongres dan Rakernas.

Menurut Gusma, salah satu yang akan dibahas adalah keterlibatan pemuda dalam pembangunan nasional berbasis desa, isu-isu kesejahteraan sosial, implementasi Pancasila dan nasionalisme.

Selain Gusma juga hadir dari Jakarta Ketua Bidang Politik Pengurus Pusat Fredi Tulis dan Wakil Sekjen Pengurus Pusat Ignatius Ganjar.

Wali Kota Solo menyambut baik rencana kegiatan organisasi nasional ini. Sebagai senior dan pemimpin daerah, Rudi mengimbau agar persiapan dilakukan sebaik mungkin. Selain misi internal organisasi, kegiatan Rapimnas ini harus lebih memperkenalkan Solo sebagai kota budaya yang masyarakatnya gotong royong, ramah dan toleran.

Ketua Panitia Rapimnas Bambang Mejik Margono menambahkan kepanitiaan yang sudah terbentuk akan melibatkan seluruh jaringan umat dan masyarakat. Kegiatan ini mengangkat tema seputar nasionalisme dan kebangsaan dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang profesi baik pengamat tingkat nasional maupun pejabat di tingkat pusat.

Rapimnas, kata dia, akan dihadiri oleh perwakilan Pemuda Katolik dari seluruh Indonesia.

sumber : jpnn.com

Sticky
1
April 25, 2016

Banyak Aparatur Desa Belum Kompeten, Pemuda Katolik Siap Turun Dampingi Desa

182954720160424IDO-2-780x390

Karolin Margret Natasa, Ketua Pusat Pemuda Katolik, dan Sekretaris Jendral Pemuda Katolik Christopher Nugroho saat diterima masyarakat di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Pemuda Katolik melaksanakan rapat kerja nasional di Lamandau selama beberapa hari. dok. Pemuda Katolik

Lamandau – Pendampingan aparatur desa untuk memperbaiki kualitas pembangunan bangsa terus didorong. Di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, dari 85 desa hanya terdapat 20 desa yang aparatur desanya memenuhi syarat.

Sisanya, banyak aparatur desa yang lama pendidikan rata-rata 7,2 tahun atau setara sekolah menengah pertama.

Hal itu terungkap saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pemuda Katolik di Lamandau, Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu. Kegiatan tersebut juga diikuti oleh organisasi pemuda seperti Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Palangkaraya.

Rakernas tersebut dimulai pada 19 sampai 22 April 2016 dan menghasilkan tiga sikap Pemuda Katolik, meliputi pembangunan desa, pilkada, dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sikap tersebut juga kemudian dilaporkan ke beberapa lembaga kementerian terkait.

“Harus ada perhatian khusus di desa untuk menjadi sentra pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan,” ungkap Ketua Umum Pemuda Katolik Pusat Karolin Margret Natasa saat dihubungi dari Palangkaraya, Minggu (24/4/2016).

Sekretaris Jendral Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan Indonesia (ADIPSI) Gregorius Sahdan mengatakan, masih banyak aparatur desa yang tidak memahami fungsi dan tugas mereka.

Sebagian besar desa-desa di Indonesia tidak memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dan sebagian besar kepala desa belum bisa membuat laporan pertanggungjawaban.

“Sudah menjadi tugas pemerintahan setingkat di atasnya seperti kecamatan dan kabupaten untuk mendampingi, tetapi ini dikomersilkan,” ungkap Sahdan.

Untuk mendapatkan pengetahuan soal sistem administrasi, aparatur desa harus merogoh kocek dengan meminta staf atau pegawai di tingkat kecamatan atau kabupaten untuk datang membantu. Padhal, hal itu diatur dalam undang-undang dan pemerintah desa tidak perlu mengeluarkan uang.

“Upaya Pemuda Katolik untuk mewujudkan pembangunan desa yang baik adalah dengan menggunakan kader-kader mereka yang ada di setiap daerah sampai tingkatan desa,” tutup Karolin.

Sumber :kompas.com

Sticky
0
April 25, 2016

Rakernas Pemuda Katolik Hasilkan 3 Pernyataan Politik

DSC00895

Ketua Umum Pemuda Katolik Bersama Dirjen PKP – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dan jajaran Pemda kab. Lamandau

Lamandau – Nanga Bulik : Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pemuda Katolik 2016 yang dilaksanakan di Bumi Bahaum Bakuba Lamandau, resmi berakhir. Rakernas yang berlangsung mulai 19hingga 22 April tersebut, menghasilkan beberapa rumusan strategis yang kemudianmenjadi rekomendasi, baik berupa rekomendasi internal maupun eksternal.

Tiga statmen politik itu, pertama, menyoroti tentang Pembagunan Desa. Kedua, soal Pelaksanaan Pilkada;  dan  ketiga sikap Pemuda Katolik dalam menilai tentang posisioning Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Dibeberkan Karolin, dalam hal pembangunan desa, kehadiran UU nomor 6 tentangDesa dinilai sebagai bukti kuat bahwa posisioning desa dan komunitas desasangatlah penting. Karena desa telah ditempatkan sebagai basis pelayanansekaligus subyek pembangunan nasional. Dengan demikian, sebutnya, Pemudakatolik mendukung penuh kebijakan politik negara tentang desa tersebut.

“Selain itu, kami (Pemuda Katolik) juga mendorong gerakan dan partisipasimasyarakat desa untuk pengembangan potensi dan aset desa guna kesejahteraanbersama. Di sisi lain, sebagai organisasi kader, Pemuda Katoliksiap mendukung pemerintah untuk menyukseskan program desa ini antara laindengan menjadi fasilitator atau pendamping dalam pelaksanaan tata kelolapemerintahan maupun pembangunan desa,” terangnya.

Adapun perihal Pelaksanaan Pilkada, Pemuda Katolik menilai bahwapenyelenggaraan Pilkada langsung pada satu sisi telah menumbuhkan alamdemokrasi yang lebih partisipatif. Meskipun, pemuda katolik juga tidakmemungkiri bahwa Pilkada juga telah menimbulkan ekses baru yang dalam haltertentu juga bisa menggangu relasi dan nilai-nilai sosial yang ada yang justruselama ini menjadi modal sosial bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa danbernegara.

“Karenanya, kami (Pemuda Katolik) mendorong penuh penyelenggaraan Pilkadayang profesional dan netral. Kami juga mendukung upaya penataan sistemketatanegaraan melalui amandemen konstitusi, serta menganggap perludihidupkannya kembali GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara),” tegasnya.

Adapun dalam menyikapi MEA yang telah diimplementasikan per 31 Desember 2015lalu, berkaitan dengan implementasinya, Putri Gubernur Kalbar yang kinimerupakan anggota DPR RI tersebut juga menuturkan, Pemuda Katolik mengusulkanpenyelennggara negara untuk mengatur tentang ketentuan penggunaan TKA (TenagaKerja Asing) sebagai salahsatu upaya dalam memproteksi SDM Indonesia. Sedangkanberkaitan dengan kesiapan SDM tersebut, Pemuda Katolik memastikan kesiapannyauntuk bersinergi dengan pemerintah.

Sticky
0
April 22, 2016

Gelar Rakernas, Pemuda Katolik Bahas Tentang Peran Desa

IMG-20160420-WA0017[1]

Pengurus Pusat Pemuda Katolik bersama Bupati dan Wakil Bupati kab. Lamandau. Dok.Pemuda Katolik

Lamandau – Ketua Umum Pemuda Katolik, Karolin Margret Natasa menegaskan bahwa desa harus menjadi benteng Pancasila. Desa, kata Karolin, merupakan unit terkecil dalam struktur pemerintahan di mana kita langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Hal ini disampaikan Karolin dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pemuda Katolik yang digelar di Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah.

Rakernas ini yang digelar pada 19-22 April mengangkat tema “Menghadirkan Peran Pemuda yang Terampil di Tengah Umat dan Masyarakat Berbasis Desa Berdasarkan Pancasila.”

“Desa sebagai struktur pemerintahan terkecil menjadi tolok ukur perwujudan keadilan sosial sesuai sila ke-lima Pancasila. Desa harus menjadi prioritas pada program-program kebijakan pemerintah untuk memastikan pembangunan yang merata,” ujar Karolin, Rabu, 20 April 2016, sebagaimana dilansir Beritasatu.com.

Karena itu, katanya, Pemuda Katolik mendorong agar desa menjadi tempat aktualisasi nilai-nilai Pancasila. Bersamaan dengan itu, jelasnya,  kader-kader Pemuda Katolik yang tersebar di seluruh Indonesia diharapkan menjadi aktor dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila di desa.

“Pelaksanaan Rakernas Pemuda Katolik yang digelar di desa Nanga Bulik ini dimaksudkan mendorong kesadaran para kader untuk melihat langsung situasi sosial masyarakat desa termasuk pembangunan di desa. Bersamaan dengan itu, akan merumuskan bagaimana peran serta pemuda dalam usaha-usaha membangun desa, baik berupa pikiran, kebijakan sampai tindakan nyata,” jelas dia.

Rakernas ini, menurut Karolin, membahas program organisasi sesuai mandat pada Kongres Nasional di Batam, Kepulauan Riau tahun 2015.

Selain itu, diadakan seminar dan sosialisasi empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Kegiatan lainnya berupa kunjungan ke desa dan bakti sosial seperti pengobatan gratis.

Rakernas ini sibuka dengan Misa oleh Uskup Agung Palangkaraya, Mgr. Aloysius M. Surtisnaatmaka MSF pada Selasa, 19 April.

Pada Rabu kemarin dilanjutkan Seminar Sesi I dengan tema “Spiritualitas Kader Pemuda Katolik.”

Sesi menampilkan tiga pembicara yakni Pastor Moderator PP Pemuda Katolik Romo Johanes N. Haryanto, SJ, Bupati Lamandau Marukan dan Ketua Umum PP Pemuda Katolik Karolin Margret Natasa.

Pada Sesi II dengan tema “Menciptakan Kader Pemuda yang Terampil, Berpihak pada Desa sebagai Basis Pembangunan RI dan Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila.”

Pembicaranya adalah  Direktur Eksekutif Yayasan Bina Swadaya, Bambang Ismawan; Anggota DPD RI Dapil Lampung, Anang Prihaantoro; Direktur Eksekutif Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Robert Endi Jaweng; Direktur Eksekutif CU Keling Kumang, Yohanes RJ; Penjabat Gubernur Kalimantan Tengah; Deputi Kemenpora

Ketua Panitia Rakernas Pemuda Katolik, Marianus Apau  yang juga Camat Sematu Jaya, Kabupaten Lamandau mengaku bangga karena Lamandau dipilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan Rakernas Pemuda Katolik.

“Ini penghargaan bagi kami untuk menyelenggarakan kegiatan nasional. Kegiatan ini memungkinkan kader Pemuda Katolik dari seluruh Indonesia dapat melihat langsung kondisi daerah, potensi sumber daya alam termasuk potensi budaya di Lamandau,” katanya.

Sumber : katoliknews.com

Sticky
0
April 21, 2016

Pemuda Katolik Laksanakan Rapat Kerja Nasional di Desa Pedalaman

 

Pemuda Katolik Laksanakan Rapat Kerja Nasional di Desa Pedalaman

Rakernas Pemuda Katolik (PK) berlangsung di Nanga Bulik, Ibu Kota Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah, tanggal 19-22 April 2016. Tampak (Kiri ke kanan): Sekjen PK Christoper Nugroho, Komda PK Kaltim Syadikin, penasihat PK Drs Frans Tular SH, istri Bupati Lamandau Ir Marukan Hendrik, dan Ny Maria Neva Merliana (kedua dari kanan) dok.Sadikin

Lamandau – Organisasi kemasyarakatan pemuda Pemuda Katolik meyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau Provinsi Kalimantan Tengah. Acara berlangsung selama empat hari, tanggal 19-22 April 2016.

Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, dr Karolin Margret Natasa pelaksanaan Rakernas Pemuda Katolik yang digelar di desa dimaksudkan untuk mendorong kesadaran para kader Pemuda Katolik untuk melihat langsung situasi sosial masyarakat desa termasuk pembangunan di desa.

“Desa harus menjadi prioritas pembangunan karena desa sebagai benteng Pancasila,” kata Karolin dikutip www.TribunKaltim.co dari situs Pemuda Katolik.

Pemuda Katolik juga mengajak seluruh komponen bangsa agar mendorong program pemberdayaan masyarakat desa. Rakernas bertema “Menghadirkan Peran Pemuda yang Terampil di Tengah Umat dan Masyarakat Berbasis Desa Berdasarkan Pancasila.” Rakernas membahas program organisasi yang dimandatkan Kongres Nasional di Batam, Kepulauan Riau tahun 2015.Rakernas diisi kegiatan antara lain seminar dan sosialisasi empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Kegiatan lainnya berupa kunjungan ke desa dan bakti sosial seperti pengobatan gratis.

“Menghadirkan Peran Pemuda Yang Terampil di Tengah Umat dan Masyarakat Berbasis Desa Berdasarkan Pancasila” Rakernas diawali kegiatan misa pembukaan Rakernas sekaligus perayaan Paskah bersama umat Kabupaten Lamandau, Selasa (19/4/2016) pukul 17.00–21.00 WIB. Misa Pembukaan akan dipimpin Uskup Palangkaraya Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF berlangsung di Gedung Pertemuan Umum Lantang Torang, Nanga Bulik, Lamandau.

Kemudian pada Rabu (20/4/2016), diadakan seminar bertema Spiritualitas Kader Pemuda Katolik menampilkan tiga pembicara. Mereka adalah Pastor Moderator PP Pemuda Katolik Pastor Johanes N Hariyanto SJ, Bupati Lamandau Marukan Hendrik, Ketua Umum PP Pemuda Katolik/Anggota DPR RI dr Karolin Margret Natasa.

Pada seminar itu, Bupati Lamandau Marukan Hendrik selaku tokoh Katolik Kalimantan Tengah mengatakan Katolik banyak memiliki keunggulan, maka semestinya umat bangga menjadi orang Katolik.

“Kalau sudah mengetahui keunggulan-keunggulan Katolik, mestinya kita harus bangga menjadi orang Katolik. Kebanggan itu menjadikan kita Katolik sejati yang beriman teguh kepada tritunggal maha kudus roh kudus seturut ajaran gereja Katolik sepanjang hayat,” kataLamandau.

Untuk menjadi Katolik sejati, yakin bahwa Allah itu ada, percaya dan taat kepada Allah, pastikan telah dipegang Allah, serta mengasihi Allah dengan sekuta tenaga dan segenap akal budi.

Hal tersebut bermanfat agar mendapat berkah dalam hidup, dan mendapatkan keselamatan disurga. “Menjadi Katolik sejati itu untuk Katolik tetap eksis, bisa berkembang, bisa dikenal, bisa dihargai dan menjadi jaya,” kata Marukan.

Masih pada hari kedua, dilaksanakan juga prosesi adat penyambutan tamu dan protokoler pembukaan Rakernas.

Seminar kedua mengangkat tema Menghadirkan Peran Pemuda Yang Terampil di Tengah Umat dan Masyarakat Berbasis Desa Berdasarkan Pancasila. Seminar kedua menghadirkan Dirjen PKP – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi selaku keynote speaker. Kemudian narasumbernya adalah Pendiri Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan, Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan Indonesia (ADIPSI) Gregorius Sahdan, Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Robert Endi Jaweng, Direktur Credit Uunion Keling Kumang Kalimantan Barat Yohanes RJ.

Hari ketiga, Kamis (21/4/2016) dari pukul 08.00-21.00 Wib, dilaksanakan sidang pleno dan sidang komisi. Dan pada hari terakhir, Jumat (22/4/2016), peserta Rakernas berkunjung ke desa dan bakti sosial pengobatan gratis.

Kabupaten Lamandau adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Tengah. Ibu kotanya terletak di Nanga Bulik. Lamandau adalah salah satu kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), dan satunya lagi Kabupaten Sukamara. (*)

Sumber : tribunnews.com

Sticky
0
April 21, 2016

Pemuda Katolik 100% untuk Katolik, 100% untuk Indonesia

DSC00994

Ketua Umum Pemuda Katolik, Karolin Margret Natasa. Dok Pemuda Katolik

Lamandau, Nanga Bulik – Pemuda Katolik terjun langsung ke tengah masyarakat, bukan hanya untuk umat, tapi 100% untuk Katolik dan 100% untuk Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pemuda Katolik, dr Karolin Margret Natasa pada saat ramah tamah dengan Bupati Kabupaten Lamandau, Ir Marukan, M.A.P di ruang kerja bupati setempat, Selasa (19/4/16).

Selain Bupati Marukan, acara ramah tamah dihadiri juga oleh Ketua DPRD Tommy H Ibrahim, Sekda Drs Arifin Lumbing, M.A.P, Ketua Panitia Rakernas Pemuda Katolik, Marinus Apau, S.Pd, M.Si, Ketua Komda Pemuda Katolik Kalteng DR Setevanus, jajaran pengurus Pemuda Katolik pusat dan Komcab Pemuda Katolik se-Kalteng.

Karolin yang juga anggota DPR RI Dapil Kalbar ini menekankan untuk menghadirkan Pemuda Katolik di tengah masyarakat. Rapat Kerja Nasional Pemuda Katolik yang diselenggarakan di Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah 19-22 April 2016  menganagkat tema “Menghadirkan peran pemda yang terampil berpihak kepadadesa sebagai basis pembangunan RI dan mengamalkan nilai nilai Pancasila”.

Pemuda Katolik di programnya bukan hanya melakukan pendampingan bagi umat Katolik atau di seputaran ibadat, tapi harus ikut andil untuk mensejahterakan semua masyarakat tanpa memandang agama dan suku.

“Pemuda Katolik harus hadir hadir di tengah-tengah desa sebagai pendamping dan pengawas untuk kemajuan desa terkait program maupun lainnya. Karena Pemuda Katolik itu 100% Katolik dan 100% Indonesia. Bekerja bukan hanya untuk umat, tapi juga untuk bangsa,” ujar Karolin.

Pemuda Katolik tidaklah perlu ikut-ikutan konflik elit politik yang ada di Jakarta, karena tidak perlu dan tidak bermanfaat. “Apa manfaatnya bagi masyarakat ketika yang diributkan apakah kuping Ahok diiris sebelah kiri atau sebelah kanan atau kedua-duanya. Hal ini tidak memberikan kontribusi bagi masyarakat, apalagi saat ini masyarakat kesulitan perekonomian dengan turunnya harga karet misalnya,” tegas Karolin.

Mengingat kondisi tersebut, menurut Karolin, Pemuda Katolik tertantang untuk turun ke desa-desa dan harus membiasakan diri berada di tengah masyarakat. “Banyak pemuda yang tertarik dengan politik, tapi ketertarikan tersebut lebih mudah tercapai ketika diawali dengan berada langsung di tengah masyarakat,” tambahnya.

sumber : kalamanthana.com

Sticky
0
April 21, 2016

Asyik…Peserta Rakenas Pemuda Katolik Nginap di Rumah Penduduk

IMG-20160420-WA0016[1]

Lamandau, Nanga Bulik – Mungkin tampil beda dengan kegiatan kegiatan setingkat nasional lainnya, kalau peserta mendapatkan akomodasi di hotel-hotel, peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pemuda Katolik di Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah 19-22 April 2016 menginap dirumah rumah masyarakat.

Ketua Panitia Pelaksana Rakernas Pemuda Katolik, Marinus Apau, S.Pd, Msi kepada KALAMANTHANA membenarkan, kalau peserta rakernas diinapkan di rumah rumah masyarakat kota Nanga Bulik. “Memang beda dengan kegiatan kegiatan lainnya, peserta Rakernas Pemuda Katolik diinapkan dirumah rumah masyarakat, sesuai dengan tema yang diangkat terkait desa,” ujarnya.

Hal itu juga menurut Apau untuk menegaskan Pemuda Katolik harus berbaur dengan masyarakat umum bukan hanya dengan umat katolik. Sekalian mengajak peserta Rakernas Pemuda Katolik agar mengetahui dan berdiskusi langsung dengan masyarakat terkait keluhan-keluhan masyarakat saat ini.

Terkait dengan  persiapan Rakernas, Apau yang juga menjabat Camat Sematu Jaya Kabupaten Lamandau ini mengatakan sudah siap hanya menunggu pelaksanaan kegiatan. “Peserta Rakernas dari seluruh Indonesia sudah 80 persen  berada di kota Nanga Bulik, dan dipastikan besok semuanya sudah berada di daerah ini,” ujarnya.

Adapun kegiatan Rakernas yaitu diawali dengan Misa pembukaan oleh Uskup Palangka Raya, Mgr.Aloysius M.Sutrisnaatmaka, MSF pada Selasa malam (19/4/16)di GPU Lantang Torang kota Nanga Bulik.

Dilanjutkan dengan kegiatan pembukan Rakernas Rabu (20/4/16) di tempat yang sama serta kegiatan kegiatan lainnya seperti seminar, prosesi adat penambutan tamu, bakti sosial dan pengobatan gratis serta lainnya.

Selain sidang sidang rakernas, seminar menghadirkan pemateri seperti Rm Johanes N Haryanto, SJ, Ir Marukan, MAP, dr Karolin Margret Natasa,  dan lainnya.

sumber : kalamanthana.com

Sticky
0