Login
or
Register

Author Archives admin

Misa Natal di Gereja Katolik Paroki ST Yusup Dijaga Personel Kepolisian Hingga Ormas Pemuda Katolik
December 25, 2018

Misa Natal di Gereja Katolik Paroki ST Yusup Dijaga Personel Kepolisian Hingga Ormas Pemuda Katolik

Misa Natal di Gereja Katolik Paroki ST Yusup Dijaga Personel Kepolisian Hingga Ormas Pemuda Katolik

Suasana misa Natal di Gereja Katolik Paroki ST Yusup Pringsewu, Selasa 25 Desember 2018. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PRINGSEWU – Sekitar 500 jamaat sudah berkumpul di dalam gereja untuk melaksanakan misa natal di Gereja Katolik Paroki ST Yusup berlokasi di Jalan Kesehatan No 41 Pringsewu Timur, Kabupaten Pringsewu, Selasa (25/12/2018).

Berdasarkan pantauan, terlihat perarak-arakan anak-anak yang membawa lilin sebelum dimulainya kegiatan misa perayaan kudus natal.

Ketua Panitia Natal 2018 Gereja Katolik Paroki ST Yusup Pringsewu, Istono menuturkan kegiatan hari ini terdiri dari perarakan anak-anak dan misa perayaan kudus natal.

Perarakan melibatkan anak-anak yang membawa lilin masuk ke altar bersama romo kemudian mereka duduk. Sesudah itu dilaksanakan kegiatan misa natal.

“Tema natal tahun ini “Tuhan Yesus Hikmat Bagi Kita”. Kita diajar meneladani Yesus dalam kehidupan sehari-hari dengan adanya perbedaan, berbagai suku dan agama disatukan bersama hikmat Tuhan,” tuturnya saat dijumpai di sela-sela kegiatan.

Jumlah jamaat yang mengikuti kegiatan misa natal hari ini berjumlah sebanyak 500 jamaat yang berasal dari wilayah Pringsewu, Gadingrejo, Padang Bulan, dan Ambarawa.

“Harapan kita adanya kebersamaan di dalam natal dan perhatian juga dari semua pihak,” ungkap Iswanto.

“Dari keamanan sendiri jumlahnya sebanyak 10 anggota personel, ormas lima orang pemuda katolik, dan 10 orang panitia,” pungkasnya. (eka)

sumber : tribunnews.com

Sticky
0
December 24, 2018

Gelar Diskusi, Pemuda Katolik DKI Jakarta Soroti Potensi Kerawanan Pemilu 2019

Potensi pelanggaran pemilu mestinya juga tidak menjadi tanggung jawab penyelenggara pemilu saja melainkan juga peserta pemilu ditambah peran serta aktif dari masyarakat

Jakarta,Kabarnusantara.net– Ketua Pemuda Katolik DKI Jakarta Bondan Wicaksono menyebut Pemilu 2019 merupakan Pemilu yang memiliki potensi kerawanan pemilu yang tinggi.

“Pemilu 2019 merupakan pemilu pertama kalinya yang dilakukan secara serentak antara Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) maka terdapat tantangan yang lebih besar dibandingkan pelaksanaan pemilu sebelumnya. Pemuda Katolik DKI Jakarta memandang perlunya pemetaan potensi kerawanan pemilu sebagai langkah awal kesiapan menghadapi pemilu 2019” kata Bondan dalam memberikan pemantik dalam Diskusi “Memetakan Potensi Kerawanan Pemilu 2019” di Jakarta Selatan, Sabtu (22/12/2018).

Selain memberikan apresiasi terhadap penyelenggara pemilu baik KPU, Bawaslu dan DKPP yang saat ini tengah bekerja mempersiapkan Pemilu 2019, Bondan pun mengingatkan semua pihak terutama yang berkontestasi dalam Pemilu 2019 untuk taat dan patuh terhadap aturan pemilu yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Potensi pelanggaran pemilu mestinya juga tidak menjadi tanggung jawab penyelenggara pemilu saja melainkan juga peserta pemilu ditambah peran serta aktif dari masyarakat.

Bondan mewakili Pemuda Katolik DKI Jakarta menyerukan untuk mendorong semua pihak untuk mewujudkan pemilu yang berkualitas dan bermartabat dengan mengedepankan nilai – nilai moral, etika dan hak asasi manusia.

“Politik uang, kampanye di tempat ibadah, politisasi SARA dan penyebaran hoax (kabar bohong) serta ujaran kebencian merupakan cara – cara praktek politik yang tidak terhormat dan mari mengedepankan politik gagasan.” imbuh Bondan yang kini merupakan Staf Ahli di DPD RI.

Di akhir acara Pemuda Katolik DKI Jakarta mendeklarasikan Gerakan Persatuan Indonesia sebagai bentuk pernyataan sikap untuk mewujudkan Pemilu 2019 yang damai dan tetap menjaga persatuan bangsa.

sumber : kabarnusantara.net

Sticky
0
December 24, 2018

Kaji Ulang Naskah Akademik RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan

Komisariat Daerah Pemuda Katolik Jawa Timur, Berharap RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Ditunda Pengesahannya, Sabtu (22/12/2018). Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Rancangan Undang Undang (RUU) Pesantren dan Pendidikan Keagamaan yang rencananya akan segera disahkan menjadi UU hingga kini terus menimbulkan pro kontra.

Komisariat Daerah Pemuda Katolik Jawa Timur, berharap RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan ditunda pengesahannya, karena masih memerlukan pembahasan yang lebih seksama.

Pembentukan RUU ini dinilai juga tidak sesuai dengan asas – asas pembentukan peraturan perundang – undangan karena naskah akademik dibuat seolah-olah memasukan begitu saja materi aturan yang ada di Peraturan Pemerintah (PP) No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan ke RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.

“Ada baiknya DPR RI kembali mempertimbangkan untuk menunda pengesahan atau pembahasan RUU ini, dan lebih baik melakukan perbaikan di naskah akademiknya supaya lebih komprehensif, sehingga tidak terkesan bahwa pasal – pasal yang terkait dengan pendidikan keagamaan katolik ini sekedar dimasukkan atau ditempelkan,” ujar Ketua Pemuda Katolik Jawa Timur, Agatha Retnosari, di Surabaya, Sabtu malam(22/12/2018).

RD. Edi Laksito, mendukung usulan Pemuda Katolik Jawa Timur untuk menunda urusan tentang pendidikan keagamaan dari RUU.

“Cukup berbicara mengenai UU Pesantren saja, tetapi agenda selanjutnya baru berbicara mengenai pendidikan keagamaan yang lebih luas dari urusan pesantren dimana mencakup semua agama yang ada di Indonesia,” ujar Romo Edi.

Romo Edi juga menyarankan agar diskursus mengenai RUU ini dimatangkan terlebih dahulu sebelum disahkan menjadi undang undang, karena menurutnya sejak diberlakukan Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, PP No. 55 Tahun 2007, UU No.12 Tahun 2012, dan PP No. 4 Tahun 2004 telah menempatkan domain pendidikan agama pada domain Departemen Agama.

“Sebenarnya aspek-aspek keagamaan itu di dalam Agama Katolik kewenangannya ada pada Hirarki Gereja sehingga tidak perlu ditempatkan di bawah Departemen Agama, dan akhirnya menimbulkan permasalahan, ” ujar Romo Edi.

Sementara itu, Pakar Pendidikan Anita Lie mengatakan, dalam pembuatan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan, ada unsur kecerobohan di beberapa pasal.

“Membahas soal pendidikan, RUU itu masih tertulis konsep Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), padahal KTSP itu sudah diganti Kurikulum 13 (K13), kok RUU ini masih menggunakan KTSP, jadi saya melihat banyak kecerobohan. Kemudian juga anatomi dari pasal-pasal ini juga menimbulkan kesan tergesa-gesa, hanya copy paste dari produk hukum yang sebelumnya,” ujar Anita.

Anita menyarankan untuk melibatkan semua elemen pendidikan bangsa dalam diskusi merumuskan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.

Sekedar informasi, sebelumnya Pemuda Katolik Jawa Timur telah mengadakan Forum Grup Discusion (FGD) pada 3 November 2018 di Aula Komplek Wisma Hati Kudus Yesus Keuskupan Surabaya tentang RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.

Dari situ, Pemuda Katolik Jawa Timur menilai pembentuk atau pengusul RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan tidak memahami tentang kekhasan Gereja Katolik terkhusus mengenai bentuk – bentuk peribadatan dalam ajaran Gereja Katolik, dan masih banyak hal lagi yang perlu dipertimbangkan kembali sebelum disahkan menjadi undang undang.

sumber : superradio

Sticky
0
December 24, 2018

Pemuda Katolik Minta Kaji Ulang Naskah Akademik RUU Pesantren

Suasana Musyawarah Komisariat daerah Pemuda Katolik Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (22/12/2018) malam (Foto: Istimewa)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Rancangan Undang Undang (RUU) Pesantren dan Pendidikan Keagamaan yang rencananya akan segera disahkan menjadi UU hingga kini terus menimbulkan pro kontra. Komisariat Daerah Pemuda Katolik Jawa Timur, berharap RUU terbut ditunda pengesahannya, dan dikaji ulang.

Pembentukan RUU ini dinilai juga tidak sesuai dengan asas-asas pembentukan  peraturan perundang-undangan karena naskah akademik dibuat seolah-olah  memasukan begitu saja materi aturan yang ada di Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan ke RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.

“Ada baiknya DPR RI kembali mempertimbangkan untuk menunda pengesahan atau pembahasan RUU ini, dan lebih baik melakukan perbaikan di naskah akademiknya supaya lebih komprehensif, sehingga tidak terkesan bahwa pasal – pasal yang terkait dengan  pendidikan keagamaan katolik ini sekedar dimasukkan atau ditempelkan,” ujar Ketua Pemuda Katolik Jawa Timur, Agatha Retnosari, di Surabaya, Sabtu (22/12/2018) malam.

RD Edi Laksito, mendukung usulan Pemuda Katolik Jawa Timur untuk menunda urusan tentang pendidikan keagamaan dari RUU.

“Cukup berbicara mengenai UU Pesantren saja, tetapi agenda selanjutnya baru berbicara mengenai pendidikan keagamaan yang lebih luas dari urusan pesantren dimana mencakup semua agama yang ada di Indonesia,” ujar Romo Edi.

Romo Edi juga menyarankan agar diskursus mengenai RUU ini dimatangkan terlebih sebelum disahkan menjadi Undang-Undang, karena menurutnya, sejak diberlakukan Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, PP No 55 Tahun 2007, UU No 12 Tahun 2012, dan PP No 4 Tahun 2004 telah menempatkan domain pendidikan agama pada domain Departemen Agama.

“Sebenarnya aspek-aspek keagamaan itu di dalam Agama Katolik kewenangannya ada pada Hirarki Gereja sehingga tidak perlu ditempatkan di bawah Departemen Agama, dan akhirnya menimbulkan permasalahan, ” ujar Romo Edi.

Sementara itu, Pakar Pendidikan Anita Lie mengatakan, dalam pembuatan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan, ada unsur kecerobohan di beberapa pasal.

“Membahas soal pendidikan, RUU itu masih tertulis konsep Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), padahal KTSP itu sudah diganti Kurikulum 13 (K13), kok RUU ini masih menggunakan KTSP, jadi saya melihat banyak kecerobohan. Kemudian juga anatomi dari pasal-pasal ini juga menimbulkan kesan tergesa-gesa, hanya copy paste dari produk hukum yang sebelumnya,” ujar Anita.

Anita menyarankan untuk melibatkan semua elemen pendidikan bangsa dalam diskusi merumuskan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.

Sekedar informasi, sebelumnya Pemuda Katolik Jawa Timur telah mengadakan Forum Grup Discusion (FGD) pada 3 November 2018, di Aula Komplek Wisma Hati Kudus Yesus Keuskupan Surabaya tentang RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.

Dari itu, Pemuda Katolik Jawa Timur menilai pembentuk atau pengusul RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan tidak memahami tentang kekhasan Gereja Katolik terkhusus mengenai bentuk-bentuk peribadatan dalam ajaran Gereja Katolik, dan masih banyak hal lagi yang perlu dipertimbangkan kembali sebelum disahkan menjadi undang undang. (*)

Sumber : timesindonesia

Sticky
0
December 24, 2018

RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Belum Matang, Pemuda Katolik Jatim Desak Penundaan Pengesahan

RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Belum Matang, Pemuda Katolik Jatim Desak Penundaan Pengesahan

Suasana Ruang Grand Bromo Hotel Ibis, Jalan Basuki Rahmat Surabaya 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Pemuda Katolik Jatim gelar seminar bertajuk “RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan serta Permasalahannya”, Sabtu (22/12/2018).

Seminar itu merupakan sebuah agenda dari Musyawarah Komisariat Daerah (Muskomda) Pemuda Katolik Jatim yang diadakan di Ruang Grand Bromo Hotel Ibis, Jalan Basuki Rahmat Surabaya.

Pemantik diskusi dalam seminar itu datangnya dari akademisi, politisi dan rohaniawan Katolik.

Seperti; Pakar Hukum, Philipus M.Hadjon; Pakar Pendidikan, Anita Lie; Politisi Komisi VIII DPR RI, Diah Pitaloka; Ketua Komda Pemuda Katolik Jawa Timur,  Agatha Retnosari; Rohaniawan Katolik, Romo Edi Laksito.

Tema itu sengaja dipilih karena munculnya pro kontra di dunia pendidikan non pesantren dan keagamaan lantaran adanya RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.

Menurut Ketua Komda Jatim, Agatha Retnosari, RUU tersebut tidak sesuai dengan asas-asas pembentukan perundangan-undangan.

“Kuat dugaan tidak didukung naskah akademik yang diperuntukkan pendidikan keagamaan,” katanya.

Menurutnya, Pasal 85 Ayat 1 sampai 4 RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan, tidak memahami kekhasan gereja Katolik, khususnya mengenai bentuk peribadatan ajarin gereja Katolik.

“Harusnya pembahasan RUU ini melibatkan kami sebagai elemen atau Ormas gereja Katolik di Indonesia,” katanya.

Agatha berharap melalui seminar ini, dapat mendesak Komisi VIII DPR RI untuk menunda pengesahan RUU. Ia menganjurkan, untuk menggodok kembali RUU tersebut, melibatkan para pakar pendidikan dan elemen Ormas keagaaman lainnya.

“Sehingga tercipta produk hukum pendidikan keagamaan yang aspiratif dan jauh dari potensi konflik di tengah masyarakat,” pungkasnya.

sumber : tribunnews.com

Sticky
0
December 23, 2018

Pemuda Katolik : Jangan Ada Embel-embel Politik di Perayaan Natal

Ketua Pemuda Katolik Komda Kalimantan Barat (dok.rri)

 

KBRN, Pontianak : Pemuda Katolik Kalimantan Barat (Kalbar) menginginkan perayaan Natal 25 Desember 2018 bebas dari kepentingan politik. Seyogyanya, Natal ini dijadikan ajang untuk bersilaturahmi dan meningkatkan kerukunan hidup antar umat beragama.

“Natal inikan hari besar keagamaan. Maka harus dimanfaatkan bagi yang merayakan, untuk meningkatkan iman dan pertaubatan. Selain itu, Natal ini juga kesempatan untuk bersilaturahmi, siapapun bisa menggunakan momentum ini tanpa embel-embel politik,” kata Ketua Komisariat Daerah Pemuda Katolik Kalbar Maskendari, saat dihubungi via telepon, Sabtu (22/12/2018).

Maskendari juga setuju, jika dalam kegiatan keagamaan seperti perayaan Natal, semua pihak khususnya yang terlibat sebagai peserta Pemilu 2019, bisa menanggalkan atribut politiknya. Termasuk menghindari pemasangan alat peraga kampanye (APK) di kegiatan Natal.

“Intinya, momentum Natal adalah tempat kita untuk menanggalkan atribut politik, membangun silaturahmi yang tulus. Sehingga kembali ke kehidupan antar individu yang lebih nyaman,” jelasnya.

‘Kan sudah jelas dalam aturan, jika peserta pemilu dilarang memanfaatkan kegiatan keagamaan untuk berkampanye. Termasuklah memasang APK, karena itu bagian dari kampanye atau citra diri,” pungkasnya.

sumber : rri.co.id

Sticky
0
December 13, 2018

INI PESAN KETUA UMUM PEMUDA KATOLIK SEBELUM TERPILIH

Ketua Umum PP Pemuda Katolik, dr Karolin Margret Natasa memberikan kata sambutan usai Misa Pembukaan Kongres Nasional XVII Pemuda Katolik di Millenium Ballroom, Kupang, Nusa Tenggara Timur. [HIDUP/A.Bilandoro]

HIDUPKATOLIK.com – Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik periode 2015-2018, dr Karolin Margret Natasa, secara mufakat telah terpilih kembali sebagai Ketua Umum dalam Kongres Nasional XVII Pemuda Katolik 2018 yang berlangsung di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 7-9 Desember 2018 lalu.

Dalam kesempatan usai Misa Pembukaan Kongres Nasional XVII Pemuda Katolik bersama Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang di Millenium Ballroom, Karolin menyampaikan kata sambutan sebagai berikut:

Hari ini kita kembali bergerak dari seluruh penjuru Indonesia, untuk memikirkan masa depan organisasi untuk bangsa dan negara, tiga tahun kedepan. Sesuai dengan amanat Kongres Batam, maka tuan rumah pelaksanaan Kongres adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Saya mencoba menghubungkan dengan situasi kebatinan hari-hari belakangan ini. Kongres Pemuda Katolik kali ini dilaksanakan di NTT adalah bagian dari rencana Allah, bukan suatu kebetulan.

Kita, dengan situasi yang berkembang akhir-akhir ini, ada kekhawatiran, bahkan ketakutan, atas nama Pemilu Pilkada dengan berbagai isu. Hari ini kita bisa berkumpul dari seluruh masyarakat NTT, kami sudah merasakan sambutan yang luar biasa.

NTT dengan populasi masyarakat umat Katolik yang besar, turut hadir pula perwakilan dari Jawa Timur, Aceh, dan Sumatra Barat, yang mengalami situasi yang berbeda. Dengan berada di NTT, mereka menghadapi situasi yang berbeda. Ini akan menjadi sumber energi bagi PK dalam berkarya .

Sampai sekarang, saya sering ditanya, apakah PK sama seperti PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), beda! OMK (Orang Muda Katolik)? Bukan.

Kita sudah ada sejak Indonesia sedang berjuang untuk merdeka. PK bertugas untuk mencetak orang, itulah yang tersulit, di semua lini. Orang Katolik harus mampu terlibat untuk kesejahteraan bersama.

Kami dari PP melakukan berbagai upaya kaderisasi, memaksimalkan, menghadirkan PK di seluruh penjuru tanah air. Oleh karena itu kami hadir di NTT, bukan sekadar memilih Ketua untuk tiga tahun kedepan. Kita sama-sama duduk dan bicara, mau kemana organisasi ini.

Tantangan ideologi kebangsaan mulai dipertanyakan. Dimanakah PK, bersama elemen lain, teman-teman dari GP Ansor, Muhammadiyah, bahwa PK dibentuk bukan hanya untuk kepentingan sesaat, tetapi kepentingan negara Indonesia.

Tinggalkan semua konflik-konflik yang tidak produktif, mari kita bicara untuk kepentingan umum. Berbuat untuk bangsa tidak hanya sewaktu kita menjadi wakil rakyat atau gubernur, tetapi apa yang kita buat bagi kaum kita, yang lemah. Politik adalah keberpihakan sebagai umat Katolik, dan iman Katolik adalah kepada mereka yang lemah. Kita perlu menerjemahkan iman kita dalam wujud yang nyata.

Terimakasih kepada Mgr Turang sejak tiga tahun yang lalu. Apakah PK? PK tidak alergi dan tidak anti pada politik. Ketika kita ingin mewujudkan cita-cita kita, maka kekuasaan dan keberpihakan adalah salah satu langkah yang perlu kita ambil, dengan segala resikonya.

Pemerintah Provinsi membantu kita 250 juta, dan dari Keuskupan 100 juta rupiah. Ini transparan dan akuntabel, disebut saja. Perlu kami beritahukan, panitia masih defisit, Pak Wagub. Inflasi tertinggi disebabkan oleh tiket, dan ini yang menyebabkan defisit.

Ketua Umum PK juga turut berterimakasih kepada teman-teman di pengurus pusat, para Komda (Komisariat Daerah), lintas agama. “Saya yakin tidak bisa melaksanakan ini tanpa dukungan anda,” kata Karolin.

“Karolin, kenapa mau jadi Ketua PK?”, tanya seorang umat. Ketika tiga tahun saya pontang-panting, apa sih yang saya kerjakan? Karena kita ingin generasi kita lebih baik dari kita hari ini. Generasi di masa yang akan datang mampu berbuat lebih baik melalui kehidupan berbagsa dan bernegara.

Teman-teman pengurus, jangan sia-siakan harapan yang dititipkan kepada kita.
“Berlayar ke kota kupang, kapal berlayar di bukit tinggi,
Siang malam selalu dikenang, Pemuda Katolik untuk NKRI
Tujuh buah bukit ku ukir, hanya satu lemari kaca
Pemuda Katolik itu pemikir, tidak takut berkarya nyata. 

Ketua Umum berserta seluruh Komda yang mendapatkan penghargaan dari PP Pemuda Katolik (dok.hidup)

Salve!

sumber : hidupkatolik.com

Sticky
0
December 10, 2018

dr. Karolin Margret Natasa Kembali Pimpin PP Pemuda Katolik

Dr. Karolin Margret Natasa Kembali Pimpin PP Pemuda Katolik

Ketua Umum PP Pemuda Katolik, dr. Karolin Margret Natasa saat berfoto bersama seusai Kongres Nasional XVII Pemuda Katolik di Swiss-Be linn hotel Kota Kupang, NTT, Minggu (9/12/2018).

dr. Karolin Margret Natasa menjadi ketua umum terpilih secara aklamasi karena mendapat dukungan penuh 20 Komda Pemuda Katolik

POS-KUPANG.COM | KUPANG – Riuh tepuk tangan dan pekikan ‘Pro Ecclesia Et Patria’ tak hentinya diteriakan saat pimpinan sidang dalam Kongres XVII Pemuda Katolik membacakan ketetapan dr. Karolin Margret Natasa sebagai Ketua Umum Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Katolik periode 2018-2021.

Dinamika terjadi saat pembahasan dan pengesahan tata tertib (tatib) persidangan hingga penutupan Kongres Nasional XVII Pemuda Katolik oleh Ketua Umum terpilih, dr. Karolin Margret Natasa.

Karolin menjadi ketua umum terpilih secara aklamasi karena mendapat dukungan penuh 20 Komisariat Daerah (Komda) dari 21 Komda Pemuda Katolik yang mengikuti Kongres Nasional XVII Pemuda Katolik.

Dukungan sebagian besar dukungan disampaikan secara langsung saat sidang pandangan umum Komda-Komda terhadap pandangan umum terhadap Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PP Pemuda Katolik periode 2015-2018.

Sebagian Komda lainnya memberikan dukungan saat pengajuan bakal calon dalam sidang Pemilihan ketua umum PP Pemuda Katolik periode 2018-2021.

Sumber : tribunnews

Sticky
0
December 10, 2018

Karolin Margret Natasa Ketum Pemuda Katolik 2018-2021

Penyerahan Palu Sidang dari Pimpinan Sidang Kongres XVII kepada Ketum Pemuda Katolik Terpilih Karolin Margret Natasa di Swiss-Belin Kristal Hotel, Kupang, Minggu (9/12) Foto: SP/Yustinus Patris Paat

 KUPANG – Bupati Landak Karolin Margret Natasa terpilih kembali menjadi Ketua Umum Pemuda Katolik periode 2018-2021 di acara Kongres XVII Pemuda Katolik, yang digelar Swiss-Belin Kristal Hotel, Kupang, Minggu (9/12) pagi. Karolin direkomendasikan dan didukung oleh 20 Komisariat Daerah definitif dari seluruh Indonesia dan terpilih secara aklamasi.

“Kongres Pemuda Katolik menetapkan Saudari dr. Karolin Margret Natasa sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Perioden 2018-2021. Ketetapan ini berjaku sejak ditetapkan, ditetapkan di Kupang, tanggal 9 Desember 2018,” ujar Ketua Sidang Kongres Stefanus Asat Gusma saat membacakan ketetapan Kongres tentang Ketum Terpilih.

Gusma mengatakan Karolin terpilih melalui forum kongres yang diselenggarakan sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi. Karolin, kata dia juga telah memenuhi syarat-syarat menjadi calon ketum sebagaimana diatur dalam Tata Terbit Kongres.

“Kriteria dan syarat tersebut adalah menjunjungi tinggi dasar negara Pancasila, beragama Katolik dan berkepribadian Kristiani, pernah atau sedang secara aktif dalam pengurus Pemuda Katolik minimal satu periode, tidak menjabat Ketum OKP lain, mendapat dukungan 20 Komda,” jelas dia.

Setelah ketetapan tentang Ketum Pemuda Katolik Terpilih dibacakan, pimpinan sidang diserahkan kepada Karolin untuk membentuk formatur yang diberi mandat penuh untuk menyusun dan menetapkan komposisi personalia Pengurus Pemuda Katolik Periode 2018-2021.

Berdasarkan kesepakatan forum Kongres, susunan formatur terpilih adalah Ketum Terpilih Karolin Margret Natasa, Pengurus Pusat Demisioner Christoper Nugroho, Dewan Pembina Franky Sibarani, perwakilan Komisariat Daerah atau Komda (pengurus setingkat provinsi) Jawa Barat dan Sulawesi Utara serta perwakilan Komisariat Cabang atau Komcab (pengurus setingkat kabupaten/kota) Kota Kupang dan Lampung.

Karolin mengaku bersedia kembali menjadi Ketum Pemuda Katolik karena dorongan dari pengurus Komda dan Komcab se-Indonesia. Selain itu, dia juga mau meneruskan apa yang telah dibangunnya selama periode 2015-2018.

“Kami telah meletakkan dasar melakukan proses kaderisasi secara berjenjang sehingga komisariat daerah dan komisariat cabang bisa ada dan hidup kembali di seluruh Indonesia agar bisa mencetak kader-kader pemuda Katolik yang berkualitas dan berintegritas,” kata Karolin saat sambutannya.

Sejak terpilih menjadi Ketum di Kongres Batam tahun 2015 lalu, Karolin langsung fokus pada program konsolidasi organisasi. Dia menyadari betul bahwa organisasi Pemuda Katolik adalah organisasi kader di mana ujung tombak pergerakan organisasi adalah para kader yang andal, berkualitas dan berintegritas.

“Karena itu, memang kita dorong konsolidasi yang utuh baik proses maupun strukturnya. Komcab harus punya anggota dan komda didukung oleh komcab-komcab yang definitif. Dalam menjalankan kegiatan organisasi, seperti Mapenta, Muskomcab dan Muskomda, kita juga mendorong para kader untuk melibatkan dan berkomunikasi denhan gereja dan pemerintah setempat,” ungkap dia.

Alhasil, sampai saat ini sudah terbentuk 32 komda dengan rinciang 21 komda definitif dan 11 komda menuju definitif yang prosesnya melalui carataker serta komcab yang sudah terbentuk di ratusan kabupaten/kota dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote.

Meskipun demikian, Karolin menyadari tidak mudah menggerakan dan menghidup organisasi nasional seperti Pemuda Katolik. Sejumlah tantangan yang dihadapinya selama memimpin Pemuda Katolik, antara lain keterbatasan dana, pemberdayaan SDM yang belum maksimal, persoalan kesamaan visi dan misi serta luas jangkauan wilayah Indonesia.

“Tidak mudah sebenarnya membangun Pemuda Katolik ini. Setiap daerah punyai persoalan dan tingkat kesulitannya masing-masing. Karena itu, perlu kerja sama dari teman-teman pengurus daerah untuk membangun dan menghidup Pemuda Katolik di daerah masing-masing dengan mengatasi berbagai persoalan dan tantangan yang ada. Saya bisa berdiri kuat sebagai Ketum karena topangan dari teman-teman pengurus pusat dan daerah. Ke depan, mari terus wujudkan Pemuda Katolik sebagai garda terdepan menjada Gereja dan NKRI,” pungkas dia.

Karolin terpilih menjadi Ketua Umum Katolik saat kongres di Batam pada tahun 2015. Sebelumnya, dia menjadi Sekretaris Jenderal periode 2012 sampai 2105, mendampingi Agustus Tamo Mbapa. Karena kinerja dinilai baik oleh Komda dari seluruh Indonesia, Karolin pun didorong kembali menjadi Ketum periode 2018-2021.

Selain aktif di organisasi Pemuda Katolik, anak dari Mantan Gubernur Kalimantan Barat Cornelis ini, juga mempunyai pengalaman menjadi anggota legislatif dan eksekutif. Saat ini, Karolin sedang menjabat sebagai Bupati Landak, Kalbar (2017-2022). Kemudian, Karolin juga sempat ikut dalam pertarungan Pemilihan Gubernur Kalbar 2018. Namun, sayangnya, Karolin yang berpasangan dengan Suryadman Gidot kalah dari pasangan Sutardmiji dan Rai Norsan.

Perempuan yang lahir di Mempawah, 12 Maret 1982 (usia 36 tahun) ini juga pernah menduduki kursi DPR RI daerah pemilihan Kalimantan Barat periode 2009-2014 dan 2014-2019.

sumber : beritasatu

Sticky
0
December 09, 2018

SUKSESKAN KONGRES PEMUDA KATOLIK XVII DI KUPANG

Komisariat Daerah (KomDa) Bangka Belitung (Babel) hadir 9 orang bersama Pastor Moderator Hans K Jeharut, tiba di Swiss-Belinn Kristal, Jumat, 7/12. [HIDUP/A.Bilandoro]

 HIDUPKATOLIK.com – Kongres Nasional Pemuda Katolik XVII tengah berlangsung di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 7-9 Desember 2018. Tetapi pada Jumat, rombongan dari Komda Bangka Belitung (Babel) tampak baru tiba pada pukul sembilan malam.

Meski demikian hal itu tidak menyurutkan semangatnya, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Komda Babel, Me Hoa. Ia percaya, melalui Organisasi Kepemudaan Pemuda Katolik dan kongres yang akan diikuti, akan berkontribusi pada Tanah Air lewat berbagai proses, teknis, dan buahnya. “Misalnya pemahaman dan mentalitas semua Pemimpin Komda dan Komcab yang mempunyai Hak Suara, juga tentang pentingnya menyukseskan Kongres ini, berkaitan dengan pemilihan Ketua Umum periode selanjutnya,” tutur wanita yang juga anggota DPRD Bangka Tengah (2009-2019)

Ada sembilan orang yang turut hadir dan siap memberikan hak suara, bersama Pastor Moderator Hans K Jeharut. Dalam usia 1,5 tahun, Pemuda Katolik Bangka Belitung berterimakasih kepada Ketua Umum Pemuda Katolik, Karolin Margret Natasa yang selama ini sudah memimpin dan memberikan contoh kepemimpinan yang optimis. “Terimakasih kepada seluruh Pengurus Pusat dan teman-teman Komda, KomCab se-Tanah Air,” tuturnya.

Sementara itu anggota delegasi Kongres Nasional Pemuda Katolik XVII yang berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta menuju Bandara El Tari, Kupang pada Jumat dini hari, 7/12 adalah rombongan dari Komisariat Daerah (Komda) Jawa Barat (terdiri dari Kabupaten Bekasi, Bogor, Sukabumi, Depok) dan DKI Jakarta.

Rombongan dari Komda DKI Jakarta dan Komda Jawa Barat yang akan berangkat ke Kupang pada Jumat, 7/12. [HIDUP/A.Bilandoro]

Dari Komisariat Cabang (Komcab) Kabupaten Bogor Vincent Santo Oktavianus bersama sekretaris (peninjau), Komcab dari kota Depok, dan Ketua Komcab Sukabumi, Felix Arberd, bersama Sekretaris dan Bendahara. Juga tampak Caretaker Komcab.Bekasi, Simon Paska Banu bersama anggota Arnoldus Simbolon. Dalam Kongres Nasional, “Kami akan melakukan evaluasi di dalam, baru kemudian dipaparkan dalam pelaksanaan Kongres selama sidang”, jelas Vincent.

Dalam kesempatan itu, Ketua Bidang Kepemudaan dan Olah Raga, Aloysius Fransiskus Edomeko menuturkan tentang masa jabatan kepengurusan yang akan berakhir pada tahun ini. Salah satu kegiatan yang telah digagas bersama dengan pemuda-pemuda lain yang melibatkan Muhamadiyah dan kelompok umat beragama Hindu, Budha, Kristen telah melakukan program pembersihan Masjid, Gereja, dan rumah Ibadah, untuk menjaga kerukunan antar umat beragama.

Ia berharap agar program yang telah dibuat oleh kepengurusan sebelumnya, semuanya telah berjalan baik hingga di tingkat Komcab, ada suatu perubahan dari tahun ke tahun dan berjalan beriringan. “Laporan Pertanggung-jawaban telah dibuat oleh Ketua dari semua divisi, yang akan disampaikan dalam Kongres,” ujar pria yang biasa disebut Alfon.

Ia menambahkan, untuk bagian Pemuda dan Olahraga beririsan dengan bidang lain. Yang belum dikerjakan adalah membentuk Satgas Kepemudaan (seperti Banser NU). Ia berharap pada kepengurusan selanjutnya dapat terwujudkan.

Rombongan Jakarta tiba di Bandara El Tari, Kupang pada pukul 07.20 WITA. Dalam perjalanan menuju Swiss-Belinn Kristal Kupang, tempat dimana Kongres berlangsung, sederetan bendera Pemuda Katolik terpasang di Jembatan Liliba, menuju bundaran PU. Mendekati hotel yang terletak di Jalan Timor Raya itu, nampak baliho dan spanduk ucapan selamat dari beberapa wakil rakyat dan pemerintahan.

Pada Sabtu, 8/12, pada pukul 09.00-10.30 akan berlangsung misa pembukaan yang akan dipimpin oleh Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang, bertempat di Millenium Ballroom. Dilanjutkan dengan Pembukaan Kongres Pemuda Katolik XVII, yang diharapkan akan dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo. “Selamat dan sukses untuk Kita semua. Selamat Kongres,” tutur Me Hoa.

Pro Ecclesia, Et Patria. Untuk Gereja dan Tanah Air.

Sumber : hidupkatolik.com

Sticky
0